Ouuuuuh Anak Sulungku

Aku sudah 15 tahun menjadi janda. Kubesarkan ketiga anak-anakku dengan tenagaku. Aku harus harus pontang pantng mencari nafkah, agar anak-anakku bisa terus sekolah. Setelah lima tahun aku sendiri, anak sulungku Harun mulai bisa membantuku di pasar dan dua adik perempuannya harus pula kerja keras di rumah, walau mereka masih SMP. Aku banga pada anak sulungku yang mau membantuku di pasar berjualan. Dia mau bekerja keras mengangkati barang-barang pelanggan, seperti beras selalu dia pikul seberat 20 Kg.

Nilai raportnya di sekolah cukup bagus dan kami senang padanya. Aku kira, dia adalah seorang anajk yang sangat berbakti kepada ibunya yang sudah janda.
Ketika ayahnya meninggal dunia dia masih kelas 5 SD dan adiknya yang kercil belum sekolah.

Sebagai anak masih kelas 5 SD, aku dan ketiga anak-anakku selalu tidur sekamar. Terkadang aku membutuhkan Harun untuk mengambil air panas, untuk menyedu susu anak bungsunya. Harun selalu saja kurang tidur. JIka hujan, aku selalu mengeloni Harun untuk melepas rinduku pada bapaknya yang mriip sekali dengan wajahnya.

Aku menolak setiap tawan laki-laki yang mau menikahiku. Terlebih jika laki-laki itu tidak jelas, mau hidup menompang pula dalam kehidupanku yang yang aku anggap sudah susah, sementara mereka mengangap aku orang mampu karena memiliki dua buah kios peninggalan suamiku yang kuusahai dengan gigih.

Harunmemang suka kolokan. Malam-malam dia suka membuka bajuku dan menetek. Bila aku larang, dia selalu merengek. Dia tidak malu menetek di depan adik-adiknya. Lima tahun, dia terus menetek padaku, walau sebenarnya air tetekku sudah tidak ada. Sampai kelas 3 SMP, dia tidak bisa tidur, kalau dia tidak menetek.

Saat yang terjadi padaku, setiap kali di menetek, terus terang aku selalu nafsu, karena usiaku juga masih produktif. Terkadang, jika aku butuh, aku malah sering menyodorkan pentil tetekku ke mulutnya, kemudian tanganku meraba-raba klitorisku. Sampai akhirnya aku tertidur pulas, setelah aku tiba pada puncak klimaksku. Terkadang, Harun justru tertidur lebih dulu, sebelum aku tiba pada klimaksku, lalu aku memaksanya untuk kembali mengisap tetekku. Jika dia tidak mau, aku mengancam, kalau besok-besok aku tidak mengizinkannya menetek lagi.

Lima tahun dia terus menerus menetek, sampai dia kelas 1 SMA. Semakin lama, cara meneteknya semakin membuatku benar-benar bernafsu. Dia selalu menetek saat kami nonton TV, ketika adik-adiknya sudah tidur, atau kalau dia ingin menetek, dia tingalkan kamar tidurnya, lalu datang ke kamar kami dan langsung saja membuka bajuku dan terus menetek. Setelah puas menetek, dia kembali ke kamar tidurnya. Malam itu, 10 tahun lalu tidak demikian.

Kami nonton TV bareng, sampai pukul 01.00, karena ada acara yang menarik. Sambil menonton, aku menyodorkan tetekku ke mulutnya, karena aku juga nafsu melihat adegan dalam film yang kami tonton dengan menggunakan antena parabola, dari Prancis. Mungkin sebuah kesalahan bagiku, aku membiarkan tangan Harun menepis t anganku, saat aku meraba klitoris-ku. Tangan Harunlah yang menggantikan rabaan pada klitorisku dan aku menikmatinya. Aku berada di awang-awang rasanya, karean tangannya mampu membuatku terbang.

Aku pun sudah tidak duduk di sofa lagi, melainkan aku sudah duduk di lantai yang beralaskan karpet. Saat itu, tanpa sadar, karena aku sudah demikian hampir tiba pada orgasmeku. Aku tak ingat lagi bagaimana kejadiannya, tiba-tiba penis Harun sudah mesuk penuh ke dalam memekku. Aku mulai dipompanya dari atas dan aku melayaninya, sampai aku orgasme dan memeluiknya dengan kuat. Saat itu pula Harun melepaskan spermanya beberapa kali.

Lama kelamaan pelukan kami merenggang. Saat itulah aku sadar, kalau Harun masih berada di atas tubuhku.
“Kenapa kamu perkosa Ibu? Kan aku ibu kandungmu?” kataku setengah berteriak dalam bisikku. Harun tak menjawab.
“Kenapa, Nak?” tanyaku lagi.
“Maafkan Harun Bu. Harun gak sengaja. Harun nafsu sekali. Sudah lama sekali Haruin menginginkannya,” katanya ketakutan.
“Tapi….” aku meneteskan air mata.
“Maafkan Harun, Bu…”
Kami pun diam. Kuturunkan kain sarungku untuk menutup kemaluanku. Lalu aku mengambil celana dalam Harun dan memakaikannya. Saat aku memakaikannya, aku masih melihat kemaluannya masih basah berlendir.

Aku mematikan TV dan pergi meninggalkannya. Kumasuki kamarku dan dan kukunci dari dalam. Kulihat kedua putriku tertidur dengan pulas. Aku teryus menangis, sampai kemudian aku tertidur pulas dan bangun kesiangan. Aku terbanguin, setelah Harun menggedor kamarku dan aku membuka pintu. Begitu aku membuka pintu, Harun memelukku dan memohon maaf atas kejadian tadi malam. Aku diam saja. Harun mengikutiku kemana saja sampai aku mulutku mengeluarkan kata-kata:”Ya.. sudahlah.”

Beberapa hari kami tidak saling tegur sapa. Sepulang dari sekolah dia langsung ke pasar membantuku. Di pasar dia mengganti pakaiannya. Begitu dia datang, aku langsung menyiapkan makan siangnya, tanpa bicara apa-apa. Dia juga makan dalam diamnya dan bekerja dalam diamnya, karena dia sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan sebagai tugas tugas rutinnya.

Setelah sepuluh hari, dia memasuki kamarku dan membuka bajuku, lalu menetek. Duh…. bathinku. Harun datang tepat waktu, saat aku demikian bernafsu malam itu. Tak bisa kutolak perbuatannya, karena entah kenapa aku benar-benar sangat bernafsu.
“Jangan di sini. Tunggu aku di kamarmu,: bisikku. Harun langsung ke luar kamar. Kupastikan kedua putriku tertidur pulas, aku pun mendatanginya ke kamar tidurnya. Langsung kubuka tetekku untuk kusodorkan ke mulutnya. Harun justru memelukku dan mencium bibirku dan melumatnya. Aku refleks membalas lumatan bibirnya dan kami saling melumat, dan semuanya berlangsung demikian saja, dan aku sudah telanjang bulat.
Tetekku menjadi sasarannya dan memekku dielus-elusnya, sampai basah kuyup. Dan… aku merasakan memekku sudah dipenuhi sebuah benda hangat.

Kami saling berpelukan lalu kami saling jilat, saling gigit dan segalanya, hingga kami berdua t iba pada pubncak kenikmatan kami. Lalu kami terkulai, sampai kami dibangunkan oleh adzan subuh. Kami bersiap-siap memakai pakaian kami dan aku segera kembali ke kamarku.

Sebulan setelah itu, aku ternyata tidak haid. Saat aku periksakan, hasilnya menyatakan aku sudah hamil tiga minggu. Aku panik. Aku mendengar cerita-cerita tremanpteman dipasar, sampai aku mengatakan ada tetanggaku yang hamil sudah t iga minggu, sementara suaminya sedang mefrantau. Bagaimana mengatsinya. Kasihan tetanggaku, ujarku. Seorangt teman mengajariku, agar aku membawa sang tetangga ke sebuah ahli jejamuan. Katanya kalau belum lewat sebulan masih gampang di luncturkan. Nasihatnya aku turuti, Malam aku minum jamunya, besok siangnya aku haid selama empoat hari.
Setelah kulaporkan pada temanku bahwa nasihatnya itu manjur, temanku di pasar menganjurkan agar tetanggu yang aku ceritakan padanya, memakai susuk KB pada seorang bidan yang dia kenal dan laki-laki selinmgkuhannya itu memakai kondom jadi aman, sebab keduanya sudah saling menjaga.

 

Aku memutuskan, aku harus memakai susuk KB dan aku membayarnya kepada sang bidan. Kemudian aku menyediakan sekotak kondom dan memberinya kepada Harun tanpa penjelasan. Harun ternyata mengerti maksudku.

Setiap hari tak ada lagi pertanyaan atau komenmtar apapun di antara kami. Jelasnya, kepada dua putriku aku mengatakan, pintu kamar jangan dikunci. Mana tau ada apa-apa, biar Harun abang mereka bisa cepat membantu. Kedua putriku malah meledekku. Katanya, biar Harun bisa netek, kapan dia dia mau.
“Hus… sudah… namanya juga sudah kebiasaan, jadi susah merobahnya,” kataku dan mereka dapat menerimanya, walau seoprang putriku sudah kelas 3 SMP.

Harun juga tak pernah mengunci pintu kamarnya. Yang paling membuatku senang, dia sama sepertiku. Tidur hanya memakai kain sarung tanpa pakai celabna dalam. Jika aku membutuhkannya, aku gampang saja mengungkap kain sarungnya, kemudian mengulumn kemaluannya sampai tegak berdiri, Jika dia tak bangun juga setelah penisnya mengeras, aku yang menaiki tubuhnya.

Sebenyanya dalam usianya ke 39 tahun aku sadar kalau sudah menua. Tapi di sisi lain, kenapa justru pada usiaku seperti ini, nafsuku justru meledak-ledak. Apakah karena aku sangat percaya pada anakku sendiri, atau apakah karena aku sangat menyayanginya ataukah aku yang tak mampu membendung nafsuku yang berlebihan.

Sebaliknya Harun sendiri selalu saja tak pernah menolak, bila aku membutuhkannya. Pernah suatu kali, di kios kami, Karena sepi pembeli, Harun tertidur di lantai di bawah meja-meja yang kami buat. DImana di atas meja-meja itu, terbentang barang dagangan dan biasanya aku duduk di lantai menunggui pembeli. Tiba-tiba nafsuku membuncah dan kemaluanku cenat-cenun ingin disetubuhi. Kuraba penis anakku dan kuraba-raba sampai mengeras. Harun menurunkan celananya, sampai kontolnya keluar dari celana. Saat itu, aku melepaskan celana dalamku dan aku beruntung, karena memakai rok kembang.

Cepat kunaiki tubuh anakku dan menuntun kontolnya memasuki memekku. Setelah masuk, tiba-tiba pembeli datang membeli sabun mandi dan aku layani, sementara kontol Harun berada di dalam memekku. Kemudian aku harus melayani pembeli yang meminta kacang hijau dua kilogram. Aku terpaksa berdiri menimbangnya. Saat itu, aku merasa sangat tersiksa sekali dan aku melayaninya dengan cepat dan mengembalikan uangnya.
Setelah dia pergi cenut-cenut di memekku tak mampu kubendung dan aku kembali ke tempat semula dan menangkap kontol Harun dan menuntunnya ke dalam memekku.

Kutekan jauh kontol itu memasuki lubangku. Saat orang sepi cepat kuputar-putar pinggullku sembari melihat ke sekeliling, kemudian aku orgasme, sampai memekku demikian basahnya. Harun justru belum orgasme. Dia menahan tubuhku dan aku memberi peluang beberapa centi, hingga dia mampu menusuk-nusuk memekku dari bawah, sampoai akhirnya dia menarik tubuhku rapat ke bawah dan dia melepaskan spermanya.

Aku bangkit dan Harun memperbaiki celanaya, kemudian di pergi ke toilet umum, sedang aku melapnya pakai tissu. Setelah Harun kembali, baru aku ke toilet umum. Keadaan seperti biasa saja. Kami hanya saling melempar senyum puas saja. Senyuj yang tak mungkin bisa diketahui oleh orang lain maknanya.

* * *

Setelah sekian tahun kami lakukan, pada sabtu malam aku bertanya, apa tak ingin bermalam minggu seperti teman-teman? Harun balik bertanya, apakah dia boleh pergi? Kataku silahkan, asal jangan pulang larut malam. Harubn pun pergi dengan mengenderai sepeda motor bebek barunya. Aku gelisah. Tak tau apa yang kugelisahkan, begitu melihat jam sudah pukul 24.00. Aku terus menunggu Harun di depan televisi. Pukul 24. 15 aku mendengar sepeda motornya memasuki teras rumah dan aku cepat membuka pintu. Aku merah dalam hjatiku, karena Harun lama sekali baru pulang.

“Kenapa kami lama sekali pulangnya?”
“Cerita-cerita sama teman setelah pulang nonton film,” jawabnya sekenanya.
“Kamu pasti bawa cewek ya?” kataku. Aku sangat cemburu sekali. Aku yakin dia sudah punya pacaran karean sudah setahun dia menjadi mahasiswa. Harun menatapku dengan tajam.
“Mana mungkin aku pacaran, Bu. Kan aku sudah punya pacar,” katanya dingin. Akau semakin cemburu. Kutangkap dia dan bertanya siapa pacarnya. Kemarahanku membuat dia berbisik di telingaku.
“Kan ibu sendiri pacarku. Mana ada yang lain,” katanya. Darahku langsung berubah dingin. Dia tersnyum manis meluluhkan hatiku.
“Apakah kamu serius, kalau aku ini pacarmu, bukan ibumu?” tanyaku melunak.
“Kedua-duanya. Pacarku dan ibuku juga. Mungkin sudah menjadi isteriku,” jawanya tegas. Aku tersenyum dan memeluknya. Dia balas memelukku, menciumku, akhirnya kami ke kamarnya dan melakukan persetubuhan.

* * *

Setelah dilantik jadi sarjana beberapa tahun, kedua adik-adiknya pun sudah menikah. Sibungsu malah tak sempat kuliah. Begitu lulus uajian kelas tiga, dia langsung dilamar. Mereka berdua sudah diboyong oleh suaminya, bahkan kota kami berjarak ratusan kilometer. Aku sudah berusia 53 tahun. Harun tak menikah-menikah juga. Egoiskah aku. Suatu malam, aku bertanya padanya, apa tak punya rencana menikah? Katanya dia tidak akan menikah, karena dia yakin dia tidak akan menemui perempuan sebaik dan secantik aku serta sehebat aku. Aku terenyuh juga mendengarnya.

“Aku kan sudah tua. Apa kamu tidak ingin yang lebih muda, yang lebih kencang dan lebih segala-galanya,” kataku. Harun marah besar. Aku berusaha menyadarkannya, agar dia realistis saja, kalayu semua tubuhku sudah tidak ketat lagi. Akhuirnya dia maragh lagi dan dia akan buktikan sesuatu yang mampu membuatnya betah, asal aku mau mengikutinya. Mana mungkin aku menolak keinginannya.

Haru mengajakku bersetubuh. Dia membawa baby oil. Sebelumnya kami sudah telanjang bulat dan aku sadar jkalau tubuhku, semuanya sudah kendur. Dia memintya kontolnya aku kulum sampai dia mengeras. Dia suruh aku menungging, seperti biasanya, dia menusuk memekku dari belakang. Yang terjadi bukan itu, dia melumuri kontolnya dan melumuri duburku dengan baby oil. Perlahan aku merasakan ujung kontolnhya menyentuh duburku, kemudian dia menekannya. Aku merasa sakit. Tapi aku harus menahannya, demi kebahagiaan Harun. Perlahan tapi pasti, kontolnya memasuki duburku. Perlahan dia menariknya, kemudian dia mensuknya kembali, demikian berulang-ulang.

Yang mulanya ada rasa sakit sedikit, lama-lama menjadi sebuah kenikmatan bagiku, terlebih saat dia menusuk-tarik kontolnya, dia metremas-remas kedua buah dadakku. Terkadang tangannya mempermainkan klentitku. Makin lama tusuk tariknya semakin cepat dan aku merasakan semakin nikmat, kemudian dia merintih dan aku juga berdesis. Kami sama-sama orgasme.

Mungkin tak ada yang opercaya, tapi aku juga tak ingin orang bisa percaya. Kini usiaku sudah 57 tahun, dan kami masih saja terus melakukannya dengan Harun. Terkadang aku kasihan padanya, karena dioa tidak menikah. Tapi terkadang aku mau marah dan mau membunuhnya, bisa dia terlalu dekat dengan perempuan mana saja, bahkan walau hanya aku tau dia bebricara basa basi saja. Tatapan mataku, diekathuinya kalau aku cemburu verat dan Harun pun menjaga dirinya.

Aku sudah tidak memakai syusuk KB lagi, karena aku sudah beberapa tahun mati haid. Tapi jangan dikira nafsuku tidak ada, malah sebaliknya, aku merasa nafsu seks ku biasa saja. Mungkin rasa cinta yang membuatku demikian dan orang selalu mengatakan aku seorang perempuan yang poenuh semangat hingga susah menjadi tua.
Entahlah !

Ibuku Cantik

hai…
namaku indra…aku berasal dari kalimantan.
aku berumur 24 tahun,aku hanya tinggal berdua dengan ibuku..
ayahku meninggal karena kecelakaan,
ibuku bernama santi,umurnya 42 tahun.walaupun sudah masuk 40an,tapi ibuku masih cantik,dan tubuh ibuku masih terlihat seksi..
pertama aku biasa melihat ibuku,tapi lama-kelamaan aku merasa kalau ibuku mulai menggodaku,walau tidak secara langsung.
misalnya,dulu ibu kalau mandi tidak pernah memakai handuk kalau keluar dari kamar mandi.
suatu hari,saat aku mandi,aku menemukan tumpukan pakaian dalam ibuku.
iseng-iseng,aku ambil celana dalam ibuku,aku cium aromanya…
aku jadi horny,sambil kucium celana dalam ibuku,aku mengocok penisku.
dan saat mau klimaks,aku tumpahkan di celana dalam ibuku sambil mengerang pelan.”oohh santi..”,.
akupun tanpa kusadari,mulai merasa kalau aku mulai jatuh cinta sama ibuku sendiri,
ingin rasanya aku menikahi ibuku,tapi aku takut mengungkapkan.
dan ternyata,,
pada saat makan malam,ibuku bertanya.
“ndra,kamu suka nyiumin celana dalam ibu ya?”
aku kaget,sampai-sampai aku batuk.
“pelan-pelan makanya nak”.
“iya bu”.
ibuku kembali bertanya,,”bener kan”
aku menjawab pelan,”iya bu”
“kenapa”….”aku kan ibumu nak,”
“kar…..kar…..karena aku sayang ibu,”
“iya,ibu tau,tapi kenapa harus sampai menciumi celana dalam ibu?”
“eemmh,aku sayang ibu,aku cinta ibu,aku mau nikah sama ibu.”
“HAH”…….
“sadar nak,aku ibumu”.
tanpa basa-basi,ku tarik ibuku kekamar..
disana aku katakan semua.
ibu diam,dari matanya menetes air mata.
ku usap airmata ibu,
ibu bicara pelan,”bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan anakku,dosa nak.”
“tapi bu,aku benar-benar mencintai ibu,aku mau menjadi pengganti ayah.”
“nak,ibu juga cinta kamu,tapi bukan begini caranya.”
aku langsung memeluk ibu,ku cium bibirnya,kukecup,kuemut,ku lumat.
pertama ibu diam,tapi tak lama,ibu mulai membalas.
sambil berciuman buas,aku melepas daster ibuku,kulepas ciumanku,dan kutatap tubuh ibuku,aku sangat tergoda melihat tubuh ibuku yang hanya memakai celana dalam,
langsung kuremas payudara ibuku,kuemut pentil kanannya,ku remas payudara kirinya..
ibuku mendesah,”nak,pelan-pelan,ibu mau jadi istri kamu,asal kamu bisa bahagia sama ibu.”
“iya bu,aku akan sangat bahagia bisa menikahi ibu,wanita yang aku cintai.”
kulepas baju dan celanaku,jadi aku hanya memakai celana dalam.
kubaringkan ibuku,kuberbaring disisinya.
“bu,boleh aku memanggil namamu?”
“boleh ndra,aku terima kamu jadi suamiku.”
“terima kasih sintaku sayang.”
kembali aku menciumi,menjilati payudara ibuku,
kemudian turun ke perut ibu,lalu turun ke celana dalam ibuku,aku jilat,terasa basah dan asin,
ku turunkan celana dalam ibuku,dan sekarang ibuku yang melahirkan aku berbaring telanjang dihadapanku.
ku hirup aroma yang keluar dari vagina ibuku,ku mulai menjilati vagina ibuku yang basah,terasa asin,tapi begitu nikmat.
ibu mendesah,”nak,terus nak.”
“santi,panggil aku ayah,karena aku sekarang adalah suamimu.”
“iy ayah,terus yah,terus jilati vagina dimana kamu keluar dulu.”
sekitar 10 menit aku menilati,ibuku menjerit,aku merasakan cairan hangat yang keluar dari vagina ibu,ku jilat semua.
setelah cairan itu kering kujilat,kulepas celana dalamku,dan ku berbaring disampingku,
nafas ibuku masih tersengal-sengal..
ku bisikkan kata ditelinga ibuku,”santi,jadilah istriku,ku kan membahagiakan kamu,”
“iya ayah,aku mau jadi istrimu,sebenarnya sejak kehilangan ayahmu,aku kesepian,dan jujur aku mulai mencintaimu,anakku sendiri.awalnya aku takut,dosa.tapi sekarang aku sudah siap,menjadi istri yang baik untuk kamu,indra.”
setelah istirahat,akupun mulai memposisikan diri.
kuarahkan penisku tepat di gerbang vagina ibuku,ku bisikkan,”apakah istriku sudah siap”.
“aku sudah siap ayah.”
aku dorong pelan-pelan,kulihat ibuku meringis..
setelah setengah batangnya masuk,kudiamkan.setelah ibuku mulai diam.
langsung kuhentak hingga semua batangku masuk,ibu menjerit,”aaayyyyaaahhh,”
kembali kudiamkan,setelah ibuku kembali diam dan tersenyum..
mulai kugoyangkan batangku keluar masuk di dalam vagina ibuku,
ibuku mendesah,”aayyaahh,aku mencintaimu ayaaahh,,”
“aakkuu jugaa mencintaimu santi,,”
sekitar 15 menit,ku ganti posisiku,kusuruh ibuku menungging,aku sangat bernafsu melihat ibuku nungging.
kembali kumasukkan batangku ke vaginaku…
aku sangat menikmati saat-saat aku menyetubuhi ibuku..
sekitar 20 menit,aku merasakan kalau aku mau keluar….
ternyata ibuku juga mau keluar,,,”nak…lebih cepat…ibu sudah mau keluar…”
“aku juga santi..”
dan akhirnya,,,,,,,,crot….crot…crot………,sperm aku membasahi vagina ibuku….
“aaaahhhhhhh,santi,,trima spermaku…….aku ingin menghamilimu,aku ingin punya anak darimu….”
“iiiyyaa ayah……penuhi rahimku dengan spermamu,,hamili aku,,,aku ibuku,,juga istrimu…..
setelah spermaku habis keluar,,kudiamkan sebentar batangku didalam vaginaku..
setelah batangku mengecil,lalu kucabut…
aku berbaring disamping ibuku….ibuku berbaring didadaku,
“terimakasih santi,kau mau menjadi istriku..aku ga akan menyia-nyiakanmu..”
terimakasih juga ayah,kau mau jadi suamiku,,walaupun kau adalah anakku,aku mencintaimu sperti suamiku yang juga ayahmu……,,
dan itulah ceritaku,,,sekarang sudah 5 tahun aku menjadi suami bagi ibuku sendiri……

mama oh mama

Namaku Rendra,7 tahun lalu,ibu dan ayah ku bercerai.Aku sangat terpukul dengan kejadian itu.Sekarang aku berusia 15 tahun,masa-masa pubertas.Terkadang saya memikirkan nikmatnya ,mencium bibir wanita,memilir puting susu wanita,dan melakukan hubungan suami istri yg begitu nikmatnya.

Imajinasi saya membawaku untuk onani,mungkin 1 minggu 2x saya melakukan onani,kadang dikamar,kadang di kamar mandi,saya melakukan onani dimanapun itu,asal aman.Suatu hari,saya hendak pergi berlibur bersama ibuku ke Lembang,Bandung.

Sampai di Bandung,saya lelah…segeralah saya menuju kamar hotel yg sudah Ibu saya pesan sebelumnya…saya berbaring di tempat tidur,baru Ibu saya masuk..lalu mengganti pakaian yg tadinya tertutup,sekarang melepas BH , dan hanya mengenakan baju yang tipis.

Semenjak kejadian itu,saya membayangkan indahnya bercinta dengan Ibu Kandung Sendiri,ibuku berbadan kecil..tapi memiliki buah dada yg besar dan pantat yg semok.

Tibalah pukul 10 malam,cuaca sangat dingin malam itu,saya berbincang dengan ibu saya..”ma,apa tidak dingin malem2 begini pake baju setipis itu ? cuaca nya dingin banget.” sahutku, “tidak ndra,tidak dingin ko” kami berbincang sampai pukul 12 malam lebih..bosan berbincang dan ibuku tidur,aku menyalakan televisi dan mencari film yang seru,terhenti di film dewasa,saya melihat film itu,tanpa disangka ibu saya bangun dan bertanya “kenapa nonton film seperti ini ? kamu belum cukup umur ndra” kata ibuku “ta..tapi ma,aku pengen melakukan itu(ciuman)” jawabku “apa kamu benar ingin ciuman ? apa kamu pernah ciuman ?” “iya ma,aku pengen..belum ko,aku belum pernah ciuman.” ibuku menasihati ku,dan kembali berbaring..aku pun berbaring sambil memeluk ibuku.

Esok harinya,ibuku pergi ke acara keluarga..jauh dari hotel itu,saya tidak ikut dan hanya diam dikamar hotel.
Tidak ada yg saya lakukan kecuali menonton televisi,dan mencari acara dewasa lagi.Nafsu saya sangat tinggi hari itu,karena tidak kuat menahan nafsu..saya melakukan kebiasaan sebelumnya..ya Onani,lelah onani,saya tertidur,saya tertidur tanpa mengenakan celana.

Ibu saya pun pulang ke hotel,saya kaget..begitu ibu saya membuka pintu saya langsung mengenakan celana saya..tapi sayang,ibu saya melihat saya tidak memakai celana itu, ia bertanya “rendra,apa yg kamu lakukan tadi ?” “hmmm,aku…aku tadi onani ma” “kenapa kamu sampai onani rendra ? apa karena film semalam ?” “iya ma,rendra pingin banget kaya adegan di film kemarin” ibuku menghampiriku dan memeluku “hanya berciuman? lakukan dengan mama saja rendra,mama tidak mau kamu onani lagi.” aku tersipu malu,aku pun memeluk ibuku..”boleh rendra cium mama sekarang ma ?” tanpa menjawab,ibuku hanya menganggukkan kepalanya.

Aku langsung memeluk ibuku dengan sangat erat,langsung ku sambar bibirnya…kubasahi permukaan bibirnya dengan lidahku..aku pun mengeluarkan lidah ku,dan beradu lidah dengan ibuku,hampir 20 menit saya berciuman dengan ibu saya,ibu saya melepaskan pelukannya…aku fikir ini akan berakhir,tetapi tidak ibu saya membuka BH nya,dan mengenakan baju tipis,saya bisa melihat dua gunung yg indah itu..puting nya sudah agak mengeras,kembali saya memeluk ibu saya,dan melanjutkan ciuman itu.

Aku bertindak lebih jauh,aku menggerayami puting gunung ibu ku yg sudah keras,aku buka celana ku karena penis ku sudah mulai keras..kubuka baju tipis nya itu,sampai ibuku hanya di tutupi celana dalam nya saja..kami berbaring,tadinya saya mencium bibirnya,sekarang saya berpindah ke putingnya…ia menggeram “emmhhh” ku gigit kecil putingnya,menjilati puting dan tangan sy yang satu meremas dada sebelah kiri.

Ibuku hanya mengerang keenakan,aku menatap matanya,aku berbicara padanya “maaf ya ma,bukan maksud rendra kurang ajar.” “tidak apa-apa rendra,mama mengerti ko..ini memang yg dibutuhkan anak yg sedang mengalami pubertas” “makasi ya ma” “iya rendra,makasih juga”…aku berbaring disamping nya,nafsuku yg belum selesai,aku kembali mengocok penisku,langsung ibuku memegang tanganku “kenapa kamu rendra? sudah mama bilang,jangan onani lagi!” “tapi ma,nafsu rendra belum abis,rendra pengen nafsu ini selesai.” “kalo kamu ngerasa belum puas,kita lanjut hal ini..tp kamu harus janji” “janji apa ma ? “1.jangan pernah onani lagi,2.jangan pernah bilang kesiapa2 kalo kita pernah lakukan ini” “iya ma rendra janji.”

Ucapan ibuku itu membuat semangat ku kembali bangkit,aku memeluknya kembali menciumi nya sambil tanganku yg 1 memilir puting susunya. Aku juga sadar,ibuku ingin melakukan ini,sudah 7 tahun vagina ibuku tidak ada yg memasukinya.

Nafsu ini semakin membara,aku melepaskan celana dalamnya,dan aku melihat daging yang sangat indah..tak pernah menyangka aku bisa melihat lubang yg sangat indah,lubang yg selama ini aku inginkan.Tanpa pikir panjang aku mulai memasukan kepala penis ku kedalam vagina ibuku..lubang yg sempit,karena sudah lama juga tidak ada pisang yg masuk kelubang itu.

Ku maju mundurkan pinggulku,ibuku mengerang nikmat..semakin kupercepat dorongannya,dan ibuku mendapat orgasme pertamanya..istirahat sejenak,kembali kusodok vagina ibuku semakin cepat…hampir aku keluar,ku berhentikan dorongan itu,agar sperma ku kembali masuk,dan tidak K.O dalam ronde pertama.

Setelah beberapa detik,aku lepaskan penis ku dari vagina ibuku,dan meminta mengganti gaya..women on top! gaya ini yg paling aku sukai.Ibuku menduduki pahaku,dan akupun segera mencari lubang kenikmatan itu,sekarang giliran ibuku yg bertugas,semakin cepat ibuku yg mendorong,dia orgasme yg kedua kalinya.

Oral juga ingin aku lakukan,aku menghadap ke vagina ibuku,dan mulai menjilatinya.ibuku juga mulai mengambil batang penis ku dan memasukan kedalam mulutnya.kembali aku ingin keluar,aku meminta ibuku berhenti..dan kembali berganti gaya..sekarang Doggi Style,ibuku nungging dan aku memasukan penisku dari belakang..8 menit aku memaju mundurkan pinggulku,kali ini tidak tertahan..aku memuntahkan sperma ku di dalam rahim ibuku.

Kami berdua terbaring lemah sambil berhadapan,”rendra sayang sama mama” sahutku “mama juga sayang kamu rendra”

Setelah kejadian itu,kami sering melakukannya di rumah,dimanapun ada kesempatan..aku selalu mengajak ibuku untuk melakukannya kembali.

Ngentot Kakak di Mobil

Seperti sudah menjadi ritual di hari Minggu, pagi itu aku bersama Winnie menyaksikan acara gosip di ruang keluarga. Ketika sedang serius menonton, tiba-tiba Dewi
adik bungsuku muncul. Lalu dengan gayanya yang cuek dia ikut duduk di antara aku dan Winnie. “Aduuh! Sempit nih De!! Lagian ngapain sih pake ikut-ikutan segala!?” protes Winnie karena acara menontonnya jadi terganggu. Tentu saja aku tertawa melihat Winnie yang marah-marah sedangkan Dewi tidak menghiraukannya sama sekali.
“Teh, jalan-jalan ke ITC yuk! Ibu juga mau tuh.” ajak Dewi dengan ceria.
“Boleh aja. Tapi Dewi beliin Teteh baju yah.” candaku.
“Yeee.!! Ada juga Teteh tuh yang baru gajian beliin Dewi!”
kata Dewi sambil menjulurkan lidahnya.
Ibu yang tanpa sengaja menyaksikan tingkah laku anak-anak gadisnya hanya dapat tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Ya udah. Nanti biar Ibu yang beliin baju buat Dewi deh.
Sekarang pada siap-siap sana.” ujar Ibu pada kami.
“Asyiiik!! Emang Ibu paling baik sedunia deh.!” teriak Dewi
kegirangan sambil masuk ke kamarnya kemudian disusul
oleh Winnie yang masih terlihat malas untuk beranjak dari
duduknya.
“Teteh bangunin Amar dulu sana. Nanti takut kesiangan
jalannya.” lanjut Ibu ketika aku baru saja hendak masuk ke
dalam kamar.
“Iya Bu.” jawabku lalu segera berbalik untuk menuju ke
kamar adik laki-lakiku.
“Tok. Tok. Tok. Maaar!! Amaaaar.!! Bangun Maaaar.!!” aku
mengetuk pintu kamar adikku dari luar dengan cukup
keras sambil meneriakkan namanya.
Cukup lama aku berusaha membangunkan adikku, namun
belum juga terdengar sahutannya dari dalam. Akhirnya
aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar adikku
karena pintunya juga tidak dalam keadaan terkunci.
Setibanya di dalam aku mendapati adikku sedang tertidur
pulas dengan posisi terlentang. Aku menggoyang-
goyangkan tubuhnya, namun tetap saja belum ada
sedikitpun tanda-tanda dia akan terbangun.
“Pasti si Amar pulang pagi lagi deh makanya nyenyak
banget tidurnya.” keluhku dalam hati.
Di saat aku terus berusaha membangunkan adikku, tanpa
sengaja aku melihat penisnya sedang tegak berdiri di balik
celananya. Tiba-tiba muncul pikiran isengku untuk
membuat adikku terbangun dari tidur pulasnya. Aku
kemudian bangkit dari tepi ranjang lalu menuju pintu
kamar untuk menutup serta menguncinya. Setelah yakin
keadaan telah aman, dengan perlahan aku menurunkan
celana pendek beserta celana dalam milik adikku. Penisnya
yang panjang dan kurus itu kini sudah keluar dari
sarangnya. Tanpa ragu lagi aku segera mengocok
penisnya dengan perlahan-lahan.
“Eeeehmmm. Teeeeeh. Teeteeeeh. Eeehmmm.” di dalam
tidurnya adikku mendesah sambil menyebut-nyebut
namaku saat aku sedang menaik-turunkan penisnya.
“Si Amar pasti lagi ngimpiin aku yang nggak-nggak deh.”
pikirku yang sempat menyangka kalau Amar sudah
tersadar dari tidurnya.
Mendengar igauan adikku tadi membuat aku jadi semakin
semangat untuk mengocok penisnya dengan lebih cepat
lagi. Tidak sampai 5 menit kemudian, penis milik adikku
menyemprotkan spermanya dalam jumlah banyak ke
tanganku bahkan hingga menetes ke paha serta tempat
tidurnya. Dengan sangat bernafsu aku pun menjilati
sperma adikku yang masih menempel di tangan.
“Mmmmm. Enak banget rasa spermanya Amar.” aku
menggumam pelan sambil menikmati rasa sperma adikku.
Setelah selesai aku pun kembali merapihkan celana adikku
seperti keadaan semula. Tidak berapa lama setelah itu dia
pun membuka matanya. Wajah adikku terlihat sedikit
terkejut melihat kehadiranku yang sudah berada di
sebelahnya.
“Eh, Te-teteh. Masa barusan Amar ngimpi ngentot sama
Teteh.” kata adikku dengan polos sambil mengucek-
ngucek matanya.
“Dasar kamu Mar.!! Makanya kalo tidur jangan kelamaan.
Jadi ngimpi yang nggak-nggak tuh.!” jawabku sambil
menahan senyum mendengar ucapan adikku.
“Abisnya Amar udah lama banget sih nggak ngentot
sama Teteh. Sampe celana Amar basah kayak gini.!” kata
adikku sambil menunjuk ke arah celananya.
“Udah deh Mar nggak usah bahas itu lagi. Mendingan Amar
sekarang mandi aja sana. Terus anterin belanja ke ITC
yah.” kataku yang tetap merahasiakan kejadian
sebenarnya.
“Iya deh Teh.” jawab adikku ketika aku sudah beranjak
untuk keluar dari kamarnya.
Setelah selesai bersiap-siap aku pun menuju mobilku yang
diparkir di depan rumah. Aku mengambil duduk di sebelah
adik laki-lakiku yang bertugas menjadi supir karena seperti
biasa Ayah jarang mau ikut apabila diajak pergi ke Mal.
“Hari ini Teteh cantik banget sih.” bisik adikku yang terus
menatapku dengan pandangan kagum walaupun saat itu
aku hanya memakai kaos putih berkerah dan celana jins
ketat warna biru.
“Kakak sendiri kok digombalin sih.” kataku dalam hati
namun tetap saja pujian tersebut membuat aku jadi
tersipu malu.
Setelah kami semua sudah berada di dalam mobil,
akhirnya kami pun berangkat. Selama di perjalanan
pikiranku selalu menerawang bayangan-bayangan
imajinasi liar untuk melakukan persetubuhan dengan adik
laki-lakiku seperti yang dulu sering kami lakukan.
“Aku jadi pengen bersetubuh sama Amar lagi deh. Mungkin
untuk terakhir kalinya.” keinginanku untuk melakukan hal
tersebut semakin kuat karena aku juga yakin kalau adikku
ingin melakukan hal yang sama.
Sebenarnya beberapa bulan lalu kami berdua sepakat
tidak akan pernah lagi melakukan perbuatan terlarang
tersebut, dikarenakan aku dan pacarku telah
merencanakan untuk melangsungkan pernikahan kami
tahun ini. Walaupun aku masih teringat akan janji kami itu,
namun tetap saja aku tidak dapat menghilangkan pikiran
tersebut, apalagi ditambah kenyataan kalau tadi pagi aku
baru saja merasakan sperma milik adikku.
“Lagi mikirin apa sih Teh? Kok dari tadi diem aja sih?”
tanya adik laki-lakiku memecahkan lamunanku.
“Ng-nggak kok Mar. Cuma lagi kepikiran kerjaan aja.”
jawabku berbohong.
“Oh gitu? Tapi kalo Teteh mau cerita, Amar mau kok
ngedengerin.” sambungnya lagi.
“Makasih ya Mar. Sekarang Amar konsen nyetir aja sana!
Entar nabrak lagi.” kataku bercanda.
Karena tersadar kalau percakapan aku dengan Amar
tadi dapat terdengar oleh Ibu serta adik-adik
perempuanku, maka aku segera menoleh ke bangku
belakang. Perasaanku sungguh lega karena ternyata aku
mendapati mereka bertiga sedang tertidur lelap.
“Untung aja. Jadi mereka nggak denger obrolan aku sama
Amar barusan.” karena aku takut kalau Ibu mendengar
percakapan kami tadi beliau akan menjadi kuatir
berlebihan.
Setelah menempuh sekitar 1 jam perjalanan kami pun
akhirnya tiba. Seperti halnya pada hari-hari libur, di depan
jalan sudah penuh dengan mobil yang antri agar
mendapatkan parkir di dalam gedung. Karena takut
membuang waktu terlalu lama, Amar menyuruh kami
semua untuk turun di depan lobi utama, kemudian nanti
dia akan menyusul ke dalam.
“Bu, Teteh nemenin Amar nyari parkir aja deh. Kasihan
Amar. Entar nyasar lagi! Ibu, Winnie sama Dewi duluan aja.”
kataku yang melihat ini adalah kesempatan untuk dapat
berdua saja dengan adik laki-lakiku.
Kelihatannya mereka tidak curiga dengan permintaanku
karena alasan yang aku berikan cukup masuk akal.
Tempat ini memang lebih sering aku datangi bersama
pacarku bila dibandingkan oleh Amar yang baru beberapa
kali saja. Akhirnya kami janjian untuk bertemu di Food
Court karena Winnie dan Dewi sudah kelaparan.
“Teteh baik banget sih pake nemenin Amar segala.” kata
Amar ketika sedang mencari tempat parkir yang kosong.
“Nanti juga Amar tau kok kenapa Teteh mau nemenin.”
kataku sambil tersenyum penuh arti yang membuat
wajah adikku jadi terlihat bingung.
Karena mendapati setiap lantai sudah terisi penuh, maka
kami terus mencari parkir hingga ke tingkat paling atas.
Ketika sampai di sana, aku melihat kondisi pelataran parkir
tersebut sangatlah sepi, paling hanya diisi sekitar 10 mobil
saja. Mungkin karena banyak orang yang malas untuk
parkir hingga ke lantai atas, sehingga mereka lebih memilih
untuk parkir di luar gedung saja. Namun sungguh
kebetulan karena memang suasana seperti inilah yang
aku harapkan.
“Mar, parkir di sana aja tuh.” aku menunjuk sebuah
tempat kosong yang berada di sudut dan jauh dari mobil-
mobil lainnya.
Dengan segera adikku mengarahkan mobil kami untuk
menuju tempat yang aku tunjuk tadi. Tempat tersebut
ternyata cukup gelap karena tidak terlalu terjangkau oleh
sinar matahari maupun lampu penerangan, dikarenakan
tempatnya yang memang cukup terpencil.
“Mar. Teteh jujur aja kalo sebenarnya Teteh masih sering
kepikiran tentang kita.” kataku setelah Amar selesai parkir
dan mematikan mesin mobil.
“Maksudnya Teteh apa sih?” tanya adikku yang
sepertinya memang belum mengerti apa maksud
perkataanku.
“Eeemm. Teteh pengen gituan lagi sama Amar.” jawabku
terus terang.
“E-eh. Te-teteh serius nih?” adikku bertanya dengan
gugup.
Pertanyaan adikku tadi hanya aku jawab dengan
anggukan lalu secara perlahan-lahan aku mulai
mendekatkan wajahku ke arahnya. Aku dapat
merasakan hembusan nafas adikku yang memburu di
wajahku. Kemudian aku lingkarkan tanganku pada
lehernya dan bibir kami mulai saling bertemu. Aku
mengeluarkan lidah menjilati bibirnya, adikku juga ikut
mengeluarkan lidahnya untuk membalas perbuatanku.
Ciuman kami semakin panas seiring dengan gairah yang
membara di dalam diri kami. Suara-suara kecupan
bercampur dengan erangan tertahan ditambah oleh
nafas kami yang semakin tidak beraturan.
Wajah adikku kini merambat turun hingga ke leher
mulusku, kemudian dengan bibir serta lidahnya dia
mencium dan menjilat dengan penuh nafsu. Sambil terus
menciumi leherku, tangan adikku meremas-remas
payudaraku yang masih terbungkus pakaian lengkap.
“Eeeemmmhhh.” desahku sangat pelan.
Tidak puas dengan hanya memegang payudaraku dari
luar saja, tangan adikku mulai menarik ujung kerah bajuku
ke atas hingga akhirnya terlepas seluruhnya. Kini bra
milikku yang berwarna pink dan perutku yang mulus jadi
terlihat. Dengan cepat kedua tangan adikku meraih tali
bra tersebut, kemudian dia membuka kaitannya hingga kini
payudaraku sudah tidak tertutup apa-apa lagi.
Memang payudaraku tidak besar bentuknya, namun tetap
saja menantang untuk diraba dan diremas oleh siapapun
yang melihatnya. Sementara kedua putingku yang
berwarna kecoklatan nampak nikmat untuk dikulum.
Kedua tangan adikku kini memegang masing-masing buah
dadaku. Kemudian aku pun mulai memejamkan mata
karena ingin lebih menghayati dan menikmati rabaan dan
remasan adikku sehingga dia pun juga semakin bernafsu.
Kini adikku meremas-remas kedua payudaraku sambil
memilin kedua putingnya dengan jari-jarinya yang panjang
hingga membuatnya semakin tegang. Tampak putingku
yang kecoklatan sudah sangat mengeras akibat ulah
adikku.
“Oooooooh. Ooooohhhh. Aaaaaaaaaah.” aku merintih tidak
karuan.
Aku tidak tahu persis berapa lama buah dadaku menjadi
bulan-bulanan adikku. Namun yang aku sadari hanya
darahku semakin berdesir ketika adikku kini mulai
menyedot-nyedot puting payudaraku. Aku yang merasa
semakin terangsang hanya dapat menggunakan kedua
tanganku untuk mengelus-elus kepala adikku yang sedang
menghisap payudaraku. Tubuhku bergetar hebat
merasakan payudaraku dihisap habis oleh adikku.
“Aaaaaghhh. Amaaar. Teeruuuuus.” aku melenguh ketika
dengan semakin rakus adikku melumat payudaraku.
Tangan adikku ternyata tidak tinggal diam, sambil terus
melumat payudaraku tangannya memainkan vaginaku
yang masih tertutup dengan celana jeans.
“Mar. Teteh pengen isepin penis Amar sekarang.” aku
berkata pelan sambil menatap adikku.
Tentu saja mendengar permintaanku tanpa pikir panjang
lagi adikku langsung melucuti celananya sendiri hingga kini
terpampang jelas penisnya sudah tegak berdiri seperti
tiang bendera.
“Kok udah tegang kayak gitu aja sih Mar? Pasti Amar
udah nggak tahan ya?” tanyaku dengan nada menggoda.
“I-iyaa Teh.! Abis udah lama banget nggak pernah
disepong sama Teteh lagi.” jawab adikku dengan wajah
malu-malu.
Tanpa rasa canggung dan ragu, akupun memegang dan
mengocok perlahan penis adikku. Nafsu birahiku sepertinya
sudah menguasai diriku sampai aku lupa bahwa sekarang
kami berdua sedang melakukan hal ini di dalam parkiran
mobil yang sewaktu-waktu bisa saja ada satpam atau
orang lain yang datang memergoki kami.
‘Pleeekhh. Pleeekk. Pleeekkk.’ terdengar suara kocokan
tanganku pada batang penis Amar yang semakin
menegang saja.
“Uuuuuuugghhh. Teeeeeh.!!” Amar melenguh-lenguh ketika
aku bermain pada penisnya.
“Teeeh. Amaaar nyalain AC dulu yaaah. Jadi panaaass
nih!” kata adikku yang memang dahinya sudah tampak
penuh dengan keringat.
Aku hanya mengangguk lalu menghentikan kocokanku
tanpa menjawab pertanyaan adikku terlebih dahulu.
Seperti tidak mau kehilangan waktu sedikitpun, dengan
terburu-buru adikku memutar kunci mobil yang masih
menempel pada kontak, kemudian segera menyalakan AC.
Di saat jeda itu aku baru tersadar kalau ternyata
tubuhku juga sudah basah oleh keringat.
“Lanjutin lagi dong Teh.! Udah nggak tahan nih.!” pinta
Amar setelah udara di dalam mobil menjadi lebih sejuk.
Aku langsung meraih penis tersebut dan berkata “Amar
udah siap diisepin sama Teteh?”
Tanpa perlu menunggu jawaban dari adikku terlebih
dahulu, aku pun langsung memasukan penis tersebut ke
dalam mulut.
“Mmmmmmhh.” aku dengan cepat mengulum dan
memainkan lidahku pada penis Amar.
“Aggghhh.!! Iseeep teruuus Teeeeehh.!! Iyaaaah. Eenaaak
bangeeeeet.!!” kata adikku yang kini mendesah dan
mengerang keenakan menikmati apa yang aku lakukan
pada penisnya.
Sekilas tercium bau keringat dari penis adikku sehingga
aku harus sedikit menahan nafas. Namun aku terus saja
memasukkannya lebih dalam ke mulutku lalu mulai
memaju-mundurkan kepalaku. Selain menghisap,
terkadang tanganku juga turut aktif mengocok penisnya.
“Aaaaaaaaaaahh. Teteeeeh makiin jagooo ajaaaa
nyepongnyaaaaa.!!” ceracau adikku karena saat itu aku
memang mengeluarkan semua teknik oralku.
Kedua tangan adikku membelai rambutku dengan lembut
selagi aku terus berusaha membuat penisnya semakin
menegang. Sesekali aku menatap nakal pada adikku, agar
dia semakin terangsang. Tidak lama kemudian tangan
adikku mulai bergerak untuk meraba-raba kedua
payudaraku selagi aku sedang menikmati penisnya.
“Mmmhh. Slurrrp. Mmmmhh.” tentu saja saat ini aku tidak
bisa bebas mendesah ketika kurasakan tangan adikku
semakin kencang meremas dadaku.
“Mmmmh. Aaaaaaahh. Maaaar.!!” karena tidak kuat lagi
akhirnya aku mendesah hingga untuk sesaat penis adikku
terlepas dari kulumanku.
“Kok berhenti sih Teh? Terusin lagi dong. Enak banget
sepongannya Teteh!” dengan kurang ajar adikku
menjejalkan penisnya ke dalam mulutku.
“Mmmppph.” aku merintih tertahan lalu melanjutkan
hisapanku yang sempat tertunda.
“Oooooooh. Teteeeeeeeeh.!!” adikku mulai menjambak
rambutku dengan kencang karena mungkin dia tidak
mampu menahan kenikmatan yang dirasakannya.
Penis adikku itu kujilat memutar, lalu kepala penisnya
kuhisap kuat-kuat dan beberapa saat kemudian penis itu
kembali kucelupkan ke dalam kuluman mulutku. Namun
karena tangan adikku masih saja terus-terusan bermain
pada kedua payudaraku, maka beberapa kali aku
melenguh tertahan karena mulutku penuh dengan
penisnya.
Mungkin karena adikku tidak mau cepat-cepat mengalami
ejakulasi dia berkata “Udah dulu Teh.! Sekarang giliran
Amar yang muasin Teteh yah.” sambil menarik pelan
kepalaku hingga hisapanku pada penisnya terlepas.
Kemudian aku membuka celana panjang dan menurunkan
celana dalamku yang juga berwarna pink. Sehingga
sekarang terlihatlah vaginaku yang tanpa dihiasi bulu
sedikitpun. Adikku memperhatikan sejenak kemaluanku
sambil mengelus pelan bibir bagian luarnya.
“Memek Teteh masih rapet aja.” adikku terkagum-kagum
walaupun ini bukan pertama kalinya dia memegang
vaginaku.
Lalu dengan tidak sabar jari-jari tangannya membelai
kemaluanku yang memang tampak menggoda. Dua jarinya
kemudian masuk ke dalam dan mengelus-elus dinding
vaginaku sekaligus mencari klitorisku. Ketika menemukan
titik rangsangan itu, adikku semakin gencar memainkan
benda tersebut sehingga tubuhku semakin tidak terkendali
dan terus menggeliat-geliat.
“Aaaaaaaaaahh.” aku mendesah-desah karena jari adikku
terus menyentuh bagian tersebut.
Walaupun AC di dalam mobil menyala cukup dingin, namun
butir-butir keringat seperti embun semakin membanjiri
wajah dan tubuhku yang menandakan betapa
terangsangnya aku. Supaya lebih memudahkan Amar, aku
kemudian mengangkat paha sebelah kananku hingga
berada di bangku yang sedang diduduki adikku hingga kini
aku berada dalam posisi mengangkang.
Dengan kedua jarinya, adikku membuka bibir vaginaku
sehingga udara dingin dari AC menerpanya dan
membuatku semakin merinding. Tubuhku semakin
bergetar ketika dengan penuh nafsu Amar mulai
membenamkan wajahnya dan menjilat-jilat vaginaku.
“Oooohhh. Teruuuuushhh Maaar!! Enaaaaak.” aku
berteriak-teriak menikmati jilatan adikku.
Adikku yang sekarang sudah jauh lebih berpengalaman,
memainkan lidahnya dengan jitu pada klitorisku, sedangkan
jari tengahnya menerobos lubang vaginaku. Jendela mobil
yang dalam keadaan tertutup rapat membuat aroma
khas dari vaginaku segera menyebar di dalam mobil yang
justru membuat adikku semakin bernafsu memainkan
lidahnya.
“Eenngghh. Teruuuuus Maar.!!” aku menggeliat merasakan
lidah adikku bergerak liar merangsang setiap titik peka
pada vaginaku.
Aku sungguh menikmati permainan jilatan dari adikku
hingga otot vaginaku semakin menegang. Birahiku pun
semakin memuncak yang berakibat tubuhku
menggelinjang hebat.
“Aaaaaaaaaaah. Amaaaaar.!! Teteeeeh keluaaaaaaar.!!”
aku mengerang panjang karena merasakan nikmat yang
tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Permainan lidah dan tangan adikku akhirnya membuatku
mencapai orgasme yang pertama. Tubuhku mengejang
luar biasa hebat! Dengan tangan kiri aku meremas-remas
payudaraku sendiri dan tangan kananku menekan kepala
adikku agar lebih terbenam lagi di selangkanganku. Aku
merasakan vaginaku dihisap kuat oleh adikku dan dengan
rakusnya dia melahap setiap tetes cairan yang terus
mengalir dari sana.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaah.!! U-udaaaah Maaar.! Teteeeh
udaah nggaak kuaaat lagiiii.!!” aku memohon agar adikku
menghentikan jilatan dan hisapannya pada vaginaku.
Tanpa memperdulikan permintaanku, adikku terus
melumat kemaluanku dengan rakusnya. Lidahnya
menyapu seluruh pelosok vaginaku dari bibirnya, klitorisnya
hingga ke dinding bagian dalamnya. Namun perbuatannya
itu memang memberikan sensasi yang luar biasa. Aku
benar-benar telah lepas kontrol dan mataku menjadi
merem-melek dibuatnya. Setelah menyantap cairan
cintaku hingga benar-benar habis barulah adikku
menghentikan hisapannya.
“Dasaaar. Heeeh. Kamuuu nakaaal Maar.!! Heeeh. Heeeeh.”
kataku dengan nafas terengah-engah.
“Tapi Teteh suka kan?” tanya adikku yang di pinggir
mulutnya masih tampak lengket dengan cairan
kewanitaanku.
Tanpa dapat berkata apa-apa, aku menganggukkan
kepala tanda setuju sambil tersenyum puas. Seperti tidak
mau memberi kesempatan bagiku untuk beristirahat,
adikku mencium lagi bibirku yang juga kubalas dengan tidak
kalah bernafsu. Selagi kami berciuman aku dapat mencium
aroma tajam dari cairan vaginaku yang melekat pada
mulutnya.
“Mar. Masukin penis kamu ke vagina Teteh dong. Teteh
udah nggak tahan.” aku berkata mesra di telinganya
setelah tenagaku pulih kembali.
“Ayo Teh! Tapi biar lebih enak kita pindah ke bangku
belakang aja yah.” ajak adikku dengan penuh semangat.
Setelah aku berpikir kalau benar juga apa yang dikatakan
oleh adikku tadi, aku pun menuruti perintahnya untuk
berpindah ke bangku belakang lalu mengambil posisi
tiduran. Sedangkan adikku yang masih berada di
bangkunya, terlihat sedang sibuk membuka bajunya
hingga akhirnya kami berdua sudah dalam keadaan
telanjang bulat. Setelah itu adikku ikut menyusul ke
belakang.
“Jangan kasar-kasar yah Mar.” pintaku.
“Iyaaa Teh.” jawab adikku ketika sedang berusaha
memasukkan penisnya.
Adikku melebarkan kedua pahaku lalu mengarahkan penis
panjangnya di antara vaginaku. Bibir vaginaku jadi ikut
terbuka siap untuk menyambut penis yang akan
memasukinya. Namun di luar dugaan adikku tidak langsung
mencoblosku, melainkan sengaja dia gesek-gesekkan
terlebih dahulu kepala penisnya pada bibir luar vaginaku
agar semakin memancing birahiku.
“Masukiiiin sekaraaaaang Maaar.!!” karena sudah tidak
sabar ingin segera dicoblos aku pun meraih batang penis
milik adikku yang sudah tegang dan keras sekali lalu
membimbingnya untuk masuk ke dalam vaginaku.
“Uuughhh. Peniiis Amaaaar enaaaak bangeeet.!!” kataku
setelah merasakan penis adikku yang kini hampir
memenuhi seluruh rongga vaginaku.
“Memeeek Teteeeeh jugaa nikmaaat bangeeeet.
Aaaaaaaaah.!!” desah adikku.
Dengan perlahan adikku mulai menggenjot vaginaku yang
sudah mulai basah lagi. Kami berdua sama-sama saling
melampiaskan hasrat dan nafsu yang begitu menggebu-
gebu. Saat melakukan persetubuhan aku sempat berpikir
ada untungnya juga kami parkir di lantai yang sepi dan
letaknya cukup jauh dari mobil-mobil lain, kalau tidak tentu
goyangan-goyangan dari dalam mobil ini pasti akan
mengundang kecurigaan.
“Aaaaaaakkhh.” erangku sambil mengepalkan tangan
erat-erat saat penis adikku sudah masuk seluruhnya ke
dalam vaginaku.
Pelan-pelan adikku menarik penisnya lalu ditekan ke dalam
lagi seakan ingin menikmati dulu gesekan-gesekan pada
himpitan vaginaku yang bergerinjal-gerinjal itu. Aku juga
ikut menggoyangkan pinggul dan memainkan otot
vaginaku mengimbangi hentakan penisnya. Ternyata
gerakanku tadi membuat sodokan adikku semakin lama
semakin kencang saja.
“Aaaauuuuuuhhh.!!” aku menjerit lebih keras akibat
hentakan keras dari penis adikku pada lubang vaginaku.
Kuperhatikan selama adikku menyetubuhiku tubuhnya
yang kurus terus bercucuran keringat. Beberapa menit
kemudian adikku menurunkan tubuhnya hingga menindihku.
Aku menyambutnya dengan pelukan erat, sementara
kedua kakiku aku lingkarkan di pinggangnya. Adikku
mendekatkan mulutnya ke leherku lalu memagutnya.
Sementara di bawah sana penis adikku semakin gencar
mengaduk-aduk vaginaku diselingi gerakan berputar.
Tubuh kami berdua sudah berlumuran keringat yang
saling bercampur.
“Aaaaaagh. Aaaaaah. Oooooh.” aku terus merintih karena
merasa akan mengalami orgasme kembali.
“Aaaahhh. Teteeeh keluaaar lagiiii Maaaaar.!! Oooohhhh.”
aku melenguh panjang ketika aku orgasme untuk yang
kedua kalinya.
Erangan keras tadi menandai orgasme dahsyat
melandaku melebihi yang pertama tadi. Aku pun menjerit
sejadi-jadinya, tidak peduli sedang dimana aku sekarang
ini, untung mobil itu tertutup rapat dari dalam sehingga
suaraku tidak akan terdengar sampai keluar.
“Sekarang giliran Teteh yang di atas yah.” tanpa memberi
aku waktu adikku merubah posisi kami sehingga kini aku
berada di atas tubuhnya.
Walaupun masih merasa sangat lelah akibat mengalami
dua kali orgasme, namun tanganku tetap meraih penis
Amar lalu mengarahkannya ke vaginaku.
“Ooohh. Eenak bangeeet Mar!!” kepalaku menengadah
sambil mengeluarkan desahan menggoda saat
menurunkan tubuhku hingga penis adikku melesak masuk
ke dalam vaginaku yang sudah basah.
“Teteeeeh. Oooooohhh. Teteeeeeeeh.” Amar juga ikut
mendesah sambil tidak henti-hentinya meneriakkan
namaku.
Kedua tangan adikku memegang sepasang payudara
milikku dan meremasinya. Sesaat kemudian, aku sudah
mulai menaik-turunkan tubuhku di atas penis adikku. Amar
melenguh merasakan bibir vaginaku mengapit penisnya
dan dinding-dinding bergerinjal di dalamnya menggeseki
penisnya di dalam sana. Goyangan naik-turunku semakin
liar dan desahanku pun semakin tak karuan.
Karena berada dalam posisi di atas, aku baru sempat
memperhatikan dari dalam mobil kalau ternyata sudah
cukup banyak mobil lain yang parkir di dekat tempat kami
sekarang. Sebenarnya ada rasa ketakutan yang besar di
dalam diriku apabila kami berdua sampai dipergoki oleh
orang lain dalam keadaan seperti ini. Namun justru inilah
sensasi dari melakukan seks di tempat yang berbahaya.
“Aaaaaaaaaaahhh.” aku sungguh menikmati posisi
tersebut dikarenakan penis adikku menancap lebih dalam
pada vaginaku.
Aku mencondongkan badanku lebih ke depan sehingga
payudara milikku mendekati wajah adikku, tanpa diminta
dia langsung melumatnya. Tangan adikku juga ikut
meremasi bongkahan payudaraku dan mulutnya
menggigit-gigit kecil putingnya. Aku merasakan betapa
liang kewanitaanku menjadi tidak terkendali berusaha
menghisap dan melahap alat kejantanan adikku itu
sedalam-dalamnya.
‘Clep. Clep. Clep’ suara vaginaku yang sudah becek
bergesekan dengan penis milik adikku.
Cairan pelumas vaginaku keluar sangat banyak sehingga
penis adikku semakin lancar keluar masuk vaginaku.
Dengan penuh birahi aku terus menggenjot penis Amar.
Tangan nakal adikku meraih payudara serta pantat
mungilku lalu meremas-remasnya dengan gemas.
“Ooohh. Memeeeek Teteeeeh. Sempiiit bangeeeeet.!!
Enaknyaaaa.!!” adikku terus memuji vaginaku.
Cukup lama aku menaik-turunkan tubuhku dengan liar
dalam posisi di atas hingga akhirnya tubuhku dirasakan
semakin mengejang. Gelombang kenikmatan itu menyebar
ke seluruh tubuh menyebabkan tubuhku berkelejotan dan
mulutku mengeluarkan erangan panjang. Hanya dalam
waktu kurang dari 15 menit aku menggoyangkan tubuhku
di atas adikku, aku pun mengalami orgasme untuk yang
ketiga kalinya!
“Aaaaaaaah. Teteeeeh mauuuu keluaaaaar lagiiii. Oohhhh.
Amaaaar!!” Aku melenguh panjang meresapi kenikmatan
yang melanda tubuhku.
“Amaaaar jugaaa udaaah mau keluaaar Teeeh.!!” teriak
adikku yang akhirnya hampir mencapai klimaks.
‘Croooot. Croooot. Croooot.’ tidak lama kemudian akhirnya
terdengar suara sperma adikku yang mengisi penuh
rahimku dalam waktu yang sangat lama.
Sementara itu alat kejantanan adikku tetap aku biarkan
terbenam sedalam-dalamnya di liang kewanitaanku
sehingga seluruh cairan birahinya terhisap di dalam
tubuhku sampai tetes terakhir. Aku memang sengaja
berusaha menjepit penisnya erat-erat karena tidak ingin
segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku.
Aku sungguh mengagumi keperkasaan adikku yang
mampu membuatku mencapai orgasme hingga beberapa
kali. Selanjutnya kami hanya bisa terhempas kelelahan di
jok belakang itu dengan tubuh bugil kami yang penuh oleh
keringat. Kami berdua berpelukan mesra menikmati sisa-
sisa kenikmatan. Nafas kami saling memburu hingga
akhirnya mulai normal lagi setelah beberapa menit
beristirahat.
“Amar hebat banget sih.! Masa Teteh udah keluar sampe
tiga kali, Amar baru sekali.” pujiku sambil mengecup mesra
bibir adikku.
“Berarti nggak percuma dong Amar sering ngentot sama
cewek Amar.” katanya terus terang.
Jujur saja aku sedikit tidak rela kalau adikku bersetubuh
dengan wanita lain selain diriku. Namun aku pun harus
belajar menerima semua itu, karena aku pun juga tidak
setia dengannya. Tidak lama kemudian adikku kembali
melumat bibirku dengan lebih lama dan bergairah. Lidah
kami saling beradu dan saling hisap dengan sangat panas.
Sambil terus berciuman, tangan kurus adikku tidak henti-
hentinya menjelajahi seluruh tubuhku. Sentuhan demi
sentuhan adikku kembali menaikkan birahiku.
Dengan gaya nakal aku mendorong dada adikku hingga dia
kini kembali berada dalam posisi telentang. Aku menaiki
wajah Amar kemudian menggeser tubuhku hingga
penisnya berada di atas mulutku, sementara itu mulut
adikku juga tepat di bawah vaginaku.
“Jilatin vagina Teteh yah Mar. Puasin Teee. Aaaaahhh!”
sebelum sempat menyelesaikan kata-kataku lidah adikku
sudah lebih dulu menyapu bibir vaginaku.
Aku membalasnya dengan menjilati kepala penis adikku
yang sudah tampak licin dan berwarna kehitaman. Lidahku
menjilati bagian yang disunat tersebut beserta lubang
penisnya. Aksiku itu membuat tubuh adikku menjadi
bergetar dan mulutnya mengeluarkan lenguhan nikmat.
Seiring birahiku yang naik semakin tinggi, tentu saja aku
semakin bersemangat mengoral penis milik adikku. Aku
hisap benda itu kuat-kuat hingga pipiku sampai terlihat
cekung menghisapi penis tersebut. Tanganku yang halus
juga ikut memijati buah zakar adikku sehingga pasti
menambah kenikmatan baginya. Jari-jari adikku pun ikut
menusuk-nusuk hingga vaginaku semakin basah saja
dibuatnya.
Pinggulku bergoyang dengan liar akibat ulah adikku yang
dengan sangat cekatan menjilati vaginaku yang kini telah
banjir. Adikku juga terlihat semakin bersemangat
menghisap-hisap dan menjilati klitorisku. Tidak mau terus
kalah dengan Amar, aku semakin berusaha mengeluarkan
kemampuan dalam menjilat dan menyedot-nyedot penis
miliknya hingga dia merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Sebaliknya adikku tetap tidak ingin kalah dengan
mengalami orgasme terlebih dahulu. Sehingga kami berdua
kini saling berlomba merangsang satu sama lain dan
tinggal menunggu saja siapa yang tidak kuat bertahan.
“Teteeeeh nggaaaak kuaaaaaaat lagiiiii.!!
Aaaaaaaaaaaahhhhhhh.!!” lagi-lagi akulah yang menjadi
pecundang karena sudah tidak tahan lagi dirangsang
sedemikian rupa oleh adikku.
Kali ini aku bahkan mengalami orgasme yang sungguh luar
biasa! Saat itu aku sama sekali tidak ingat lagi dengan
keadaan sekitar sehingga aku meracau tidak karuan
sambil berteriak-teriak dengan keras. Sementara itu
vaginaku mengeluarkan cairan yang sangat banyak
hingga membuat wajah adikku jadi basah karenanya.
Adikku terus-menerus merangsang titik-titik sensitif pada
daerah vaginaku hingga membuat tubuhku semakin
menggelinjang.
Tidak berapa lama setelah aku mengalami orgasme,
adikku sudah mulai terlihat tidak tahan lagi dengan
perlakuanku pada penisnya. Apalagi mulutku terus
melakukan hisapan secara terus-menerus.
Hingga akhirnya ‘Croooott. Croootttt. Croooott.’ sperma
adikku yang hangat, kental serta memiliki bau yang khas,
keluar dengan sangat banyak ke dalam mulut mungilku.
“Ooooohh. Sedoot teruus Teeeh!! Enaaaak. Teleeen pejuuu
Amaaar semuanyaaaa.!!” perintah adikku agar menelan
seluruh sperma yang dikeluarkan dari penisnya dengan
mulutku sampai betul-betul habis.
Setelah selesai meminum sperma adikku yang terasa
sangat nikmat di mulut, aku pun meraih batang penisnya
lalu menghirup dalam-dalam aroma spermanya. Dengan
perlahan aku menjilati sisa sperma adikku yang masih
menempel hingga penisnya menjadi mengkilap dan licin
kembali.
“Emang paling mantep deh sepongannya Teteh.!” kata
adikku memuji pelayananku.
Setelah tenaga kami sudah terasa habis, kami berdua
hanya bisa menyenderkan tubuh di kursi belakang. Selama
kami tersandar lemas di bangku belakang, suasana di
dalam mobil menjadi hening. Hanya terdengar suara desah
nafas dan juga suara tiupan AC mobil yang angin
dinginnya menerpa tubuh telanjang kami berdua.
“Ternyata mimpi Amar bener-bener jadi kenyataan.” kata
adikku yang nampak tersenyum puas.
Seperti layaknya sepasang kekasih, aku menyandarkan
kepalaku di pundak Amar sambil memeluk badannya yang
kurus. Kemudian kami berciuman kembali sambil saling
menggoda dan bercanda menikmati saat-saat terakhir
sebelum akhirnya berbenah diri.
“Aduh Mar!! Kita udah satu jam lebih nih.! Nanti bilang apa
ke Ibu?” aku berteriak kaget ketika melihat ke arah jam
tanganku.
“Tenang aja Teh! Bilang aja nyari parkirnya susah, terus
Teteh bilang aja sekalian liat-liat baju.” jawab adikku
dengan santainya.
“Iiih. Amar emang pinter banget deh kalo nyari alesan.!”
kataku sambil mencubit pelan pipinya.
Setelah kembali berpakaian lengkap akhirnya kami pun
segera keluar dari mobil dan menuju ke Food Court
tempat Ibu dan adik-adikku yang lain menunggu. Ternyata
alasan yang disarankan Amar tadi benar-benar membuat
mereka percaya begitu saja. Karena sudah merasa
sangat lapar dan lelah akibat saling melepas birahi di mobil
tadi, akhirnya aku dan Amar langsung memesan makanan
sebelum kami semua melanjutkan perjalanan untuk
berbelanja. Sungguh hari ini menjadi belanja paling
melelahkan bagiku. Bahkan aku sempat tertidur di mobil
cukup lama dalam perjalanan pulang ke rumah.
Di dalam hati kecilku, aku merasa yakin kalau setelah
kejadian ini aku dan adik laki-lakiku akan tetap melanjutkan
hubungan terlarang ini setiap kali ada kesempatan.
Bahkan tidak tertutup kemungkinan kami melakukannya
setelah aku menikah dengan pacarku nanti.

Peluh Kakak yang Cantik

Hai namaku Dwi, usia 18 tahun. Aku memiliki kakak bernama Ika yang sudah berumur 25 tahun. Pada satu hari aku gagal ML sama cewekku karena keluarganya ada yang mengalami kecelakaan. Mobil fortuner silver punya tantenya remuk depan belakang. Jadi ketika mau check in, di parkiran hotel Kafila, Pasar Baru, ceweku dapet telepon dari nyokapnya. Nyokapnya nyampein pesen kalo tantenya accident di tol Wiyoto Wiyono KM 15,200.

Alhasil, ML tidak didapat, sakit kepala semakin menguat. Singkat cerita aku mengaantar cewekku ke rumah sakit pertamina cempaka putih tempat tantenya dirawat. Setelah beberapa jam di rumah sakit, aku memutuskan pulang ke rumah di daerah Sunter. Waktu sampai di rumah, ternyata Kak Ika, kakakku yang putih, berkacamata, manis dan seksi sedang memarkir mobil Yaris miliknya. Sementara aku memarkir motor Ninja 250 di depan mobilnya.

Waktu masuk ke dalam rumah, sepertinya terlihat ada yang aneh dari kakakku ini. Kok cemberut, nggak menegur, sendal juga asal lempar. Kenapa nih si Kakak?

“Kak, kakak lagi kenapa sih? Badminton banget mukanya…” tanyaku sambil bercanda.

“Lagi BT aja de…” jawabnya dingin.

“Kakak gak jadi ML yak sama pacar kakak? Hehehe… Bercanda…” celetuku iseng.

Sontak mukanya langsung berubah lebih merah.

“Gawat, jangan-jangan beneran nih. Aduh, mampus deh…! Entar pasti di khotbahin sama dia…” gumamku dalam hati.

“Kalo emang bener gak jadi kenapa?” jawab Kak Ika, ketus.

“Sama kak, dede juga gagal ML tadi…” jawabku makin sembarangan.

Kami memang terbuka dalam segala hal.

“Ya udah, kalo begitu..” Jawabnya sambil berlalu ke taman belakang.

“Kakak, I’m sorry if my words so rude…” mohonku.

“It’s okay my love. Kakak tau kamu kok…” jawabnya.

Lalu kakakku termenung diam menghadap tanaman di taman belakang sambil menyalakan rokoknya.

Tidak lama kemudian, dia masuk kekamarnya. Dan aku pun beranjak mandi.

Setelah mandi, aku baru pake celana dalam dan boxer saat kakakku memanggil.

“Dedeee!! Tolongin kakak dong, kayaknya AC kamar kakak ngaco deh…”

Begitu masuk kamarnya, kakakku sudah bermandikan keringat karena kepanasan saat dia tidur tadi sehingga gaun tidurnya basah semua. Kucoba untuk mengutak-atik AC-nya namun hasilnya nihil.

Lalu kakakku terdiam di depan lemarinya membelakangku “Kayaknya masih kepikiran yang tadi nih si Kakak…” pikirku.

“Ah, sial…! Mana sange lagi… Ini kayaknya kakakku nganggur nih…” setan di dalam diriku mulai menghasut.

Kudekati kakakku dan ku peluk mesra tubuhnya yang wangi dari belakang sambil kucium tengkuknya. Ternyata kakakku terangsang dan mulai mendesah.

Lalu kakakku berbalik dan mulai melumat bibirku. Mulai kulucuti gaun tidurnya yang tipis sehingga tersisa bra dan celana dalam putihnya. Sambil tetap bermain lidah, kulepaskan perlahan bh dan kuturunkan cdnya dengan kaki ku. Kakakku membalas dengan menurunkan boxer dan celana dalamku sambil mencium dada, perut serta pinggangku. Sesaat kakakku ingin memainkan penisku, kutarik tubuhnya agar kembali berdiri.

Bermandikan peluh dan saling memandang mata, kulanjutkan dengan sebuah ciuman mesra dan pelukan sembari tangan bergerilya di dada dan bokong.

Kakakku mendesah ketika bokongnya ku remas. Lalu mulai ku sentuh clitoris miliknya dan kakakku mulai mengerang “Dwi, aku mau kamu…!”

Tampaknya kakakku sudah tidak tahan, lalu dihempaskan tubuhku keatas kasurnya dan kakakku mulai mencium tubuhku mulai dari leher sampai penis.

Sejurus kemudian, Kak Ika mulai mencium penis, menjilat dan mengkulum penisku yang sudah tegang sedari ciuman pertama. Sesekali kakakku menyedot penisku sehingga membuatku mengerang dan mendesah.

“Ah, kakak.. Jangan diterusin please. Nanti aku ke-keluaaaar…” Pintaku. Karena memang nikmat sekali sepongan kakak kandungku ini…

“Kakak, please… Stop kak, nanti keluar niiih…” tapi tampaknya kakakku memang ingin sekali spermaku..

“Aw.. Akh, kakak, terusin.. Aku mau keluar!!!” maka sesaat kemudian, muntahlah pejuku di dalam mulut kakakku yang langsung dia lumat dan dilahap habis tanpa sisa.

Aku berinisiatif kutarik kakakku dan gantian sekarang aku yang bermain dengan vaginanya yang mulus tanpa bulu.

Ku jilat vaginanya, ku cium dan ku gigit kecil klitoris miliknya.

“Akh, yes.. Oh, yes baby. Lagi sayang…”

Lalu ku mainkan lidahku turun ke lobang vagina milik kakakku. Kumainkan lidahku dengan penuh hasrat yang menggebu-gebu.. Dan jariku aktif bermain dengan clitoris milik kakakku.

Lalu kakakku meracau, mengerang, mendesah dengan penuh nikmat walaupun bermandikan peluh cinta di kamarnya yang panas ini.

“Ah, ssstt, aw. Yes… oh.. truss… akh, lagi…” Erang kakakku.

“Ssssshh… La-lagiiiih… Cepetaaan… Yang cepet… Teruusssssss sayaaaaaaannnnnggg…!!!!” Sesaat kemudian muncratlah cairan kewanitaan milik kakakku tepat di wajahku.

“Ah, ah, ah,” Desah kakakku sembari menikmati orgasme panjangnya.

“Kakak, doggy yah?” Pintaku kepada kakakku. Dan kakakku berbalik badan dan berkuda-kuda doggy.

“Kakak, I love you.. May I cum inside you?” Pintaku mesra.

“Whatever you like darling.. Just please fuck me now…” Jawab kakakku dengan penuh nafsu.

Kumainkan penisku yang mulai mengeras di vagina kakakku. Mulai ku gesek-gesek sejenak, lalu mulai ku penetrasikan penisku kedalam vagina kakak kandungku sendiri..

Perlahan tapi pasti.. “Sleeb.” Masuk semua penisku kedalam vagina kakakku yang sangat sempit seperti perawan..

“Akh, kakak, sempit nih. Enak.” Ujar ku nikmat.

Lalu kumainkan lidahku di leher kakakku yang sudah bermandikan peluh.

Serta merta tetap memaju-mundurkan pinggul.

Sementara tangan kiri bermain dengan klitoris yang semakin menegang.

Dan tangan kanan tetap meraba penuh kenikmatan pada payudara yang semakin mengencang.

Makin kupercepat goyangan pinggulku.

“Plok, plok, plok…” suara pahaku beradu dengan pantat kakakku.

“Akh, jadi sempit” pekik aku pelan karena vagina Kak Ika menyempit tanda mendekati orgasme.

Ku percepat dan ku perkeras lagi hentakan pinggulku… Dan tidak lama kemudian kakakku mengejang tanda dia mencapai orgasmenya yang ke 2.

“Bruk” tubuh kakakku terkulai diatas kasurnya dan sudah bermandikan keringat.

Ku balik badannya dan ku cium mesra bibirnya 1 kali. Kami berpandangan mata dan Kak Ika melumat habis bibirku..

“Lagi de, lagi… Puasin kakak. Kakak suka permainan kamu.”

Sejurus kemudian ku posisikan betisnya di pinggang ku, ku rebahkan sedikit badanku ke arah Kak Ika.

Mulai ku penetrasi rudal Taepodong-ku ke vagina milik kakakku.

Dengan sangat perlahan kudorong penisku masuk kedalam vagina Kak Ika tanpa berkedip beradu pandang dengannya. Ketika sudah masuk semua, segera kucabut dan aku sisakan kepala penisku saja.

“Aaaaahhh…” delik mata kaget Kak Ika dan dengan nafas memburu.

“Jangan gitu dong de…” pintanya.

Tetap ku ulangi proses sebelumnya, penetrasi perlahan, dan tarik secepat kilat. Hanya perlu 3 kali, kakakku sudah orgasme lagi..

“Jangan de, aku cepet banget keluarnya… Please de…”

Tanpa sepatah kata dan tidak berkedip ku pandang matanya, tetap ku ulangi proses yang sama hingga Kak Ika ku hitung 5 kali orgasme. Dan aku kasian ketika air matanya berlinang karena tidak mampu menahan nikmatnya “proses” yang aku lakukan tadi.

“Please de.. Aku suka, tapi itu terlalu dahsyat buat kakak…”

Tak habis akal dengan kepala penisku yang masih menancap, ku jalankan proses ke 2. Yaitu teknik 5-1.

Dengan ritme yang tetap, ku mulai 5x penetrasi sedalam 2 cm dan 1x penetrasi sedalam-dalamnya.

“Akh, deeee!!! Enak, lagiii…!!”

Terus ku mainkan teknik 5-1 milikku.

“Adee, keluarin de…!! Aaaakh… E-enaaak bangeeet… Teruuusss…!! Stooop… Aaaakh… Aaaaww..” kakakku meracau tidak karuan.

“Kamu kurang ngajar yah sama kakak de… Kakak bilang stooopp…!! Aaaakhh enaaaak…” desah kakakku yang makin horny dan memerah seluruh badannya.

“Dwi, please stop.” pinta kakakku.

“Please baby…” mohonnya lagi.

Tidak ku gubris, dan tetap ku mainkan pola 5-1.

“Plaaak” pipiku ditampar olehnya, kakakku sendiri.

“Kamu kurang ajar, kakak bilang stop, ya stop…!!” hardik Kak Ika.

“Kenapa sih Kak!? Apa salah dede coba?” tanyaku.

‘Bruk…!!’ tubuhku dihempaskan oleh kakakku ke kasur.

“Kakak minta stop karena kakak mau gantian, kakak gak tahan sama punya kamu.” bisiknya di telingaku.

Berubahlah posisi menjadi woman on top.

Maju dan mundur, naik lalu turun, pinggul kakakku terus bermain diatas penisku.

Peluh kakakku menetes di perut dan dadaku. Gerakan pinggul kakakku semakin tidak terkontrol dan desahan kakakku semakin ngaco.

“Fuck!! Damn.. Akh.. Shit.. Aw.. Yes.. Yessss..” desah Kak Ika.

Kurasakan gejolak internal didalam penisku, menandakan aku akan orgasme.

“Kakak, harder please.. I’m cumming inside you…” pintaku sambil tetap meremas payudaranya yang sekal.

“Bareng de, tahan sedikit” ujar Kak Ika.

Kakakku mempercepat gerakannya sambil meracau tidak jelas tanda kenikmatan tiada tara.

“Cum inside me, Deee!!!” teriak Kak Ika.

“Kaaaak, aku keluar!!” teriakku sambil mecurahkan semua isi penisku didalam vagina Kak Ika.

“Crottt” dan Kak Ika terkulai diatas tubuhku dan mengejang hebat tanda orgasme panjangnya.

Kubalik tubuh Kak Ika dengan penis masih menempel dan segera ku angkat betisnya ke pundakku. Dan kulanjutkan peperangan dengan keras dan cepat.

Vagina Kak Ika semakin nikmat karena licin oleh spermaku dan mani milik kakakku.

“Shit, enak banget kak.” ujarku sambil memejamkan mata dan mendesah nikmat.

“Fuck me! Fuck me! Fuck me baby!! Fill me baby!!” desah kakakku yang terangsang lagi.

Sekitar 5 menit kupompa kakakku, keringat membahasi tubuh kami, membuat masing-masing dari kami semakin seksi. Dan kami pun semakin nafsu.

“Akh, fuck, fuck, yess” desahku sambil mempercepat tempo permainan.

“Dwi, fill me now, fill me now!!” teriak kakakku sambil menjambak rambutku.

“Kakak, I’m cumming again..” pekik aku..

“Bareng lagi sayang..” kakakku mulai memainkan clitnya dan menyempitkan vaginanya.

“Akh shit. Sempit banget. Ayo kak, dede udah gak tahan.” pintaku.

“Aaarrrkkkhhhhh…!!!” pekik Kak Ika sembari mengejang lebih meronta dari sebelumnya sambil menjambak rambutku dan memelukku.

“Aaaahhhhhhh…!!” desahku nafsu.

‘Crootttt!! Croottt!! Croooott!!’ tumpahlah semua isi penisku kedalam vagina kakakku.

Kucium, kujilat, dan kulumat habis bibirnya dengan nafsu tinggi.

“I love you baby..” desah Kak Ika, kakak kandungku di telingaku dan memelukku tanpa membiarkan aku mencabut penisku dari vaginanya.

Semenjak itu kami menjalani hari-hari kami seperti biasanya seperti tidak terjadi apa-apa. Namun, kami tetap melakukannya jika sedang berdua dirumah dan tidak ada orang lain.

“Fuck and fill me again my darling, please?” desah kakakku manja.

Dan kini saatnya kami ber ‘proses’ lagi.

- Tamat -

OH mama, oh adikku

Membaca cerita-cerita di rumahseks.blogspot.com ini mengingatkan diriku pada 19 tahun yang lalu saat pertama kalinya aku merasakan nikmatnya seks. Saat itu usiaku 11 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD. Dan orang-orang pertama yang menjadi pemuas nafsuku adalah Mama dan adikku sendiri.

Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun aku mempunyai keingintahuan dan hasrat yang kuat akan seks. Secara sembunyi-sembunyi aku sering membaca majalah dewasa milik orang tuaku. Biasanya hal itu kulakukan saat sebelum berangkat sekolah dan orang tuaku tidak di rumah. Saat membaca majalah tersebut aku juga beronani untuk memuaskan hasratku.

Pada saat usiaku 10 tahun, hasratku akan pemuasan seks semakin besar, maklum saat itu adalah masa puber. Frekuensiku melakukan onani juga semakin sering, dalam sehari bisa sampai 4 kali. Dan setiap hari minimal 1 kali pasti aku lakukan.

Pada suatu sore ketika aku duduk di kelas 6 SD, saat itu tidak ada seorang pun di rumah. Papa sedang bertugas keluar kota, sedangkan Mama dan adikku sedang mengikuti suatu kegiatan sejak pagi. Aku gunakan kesempatan tersebut untuk menonton blue film milik orang tuaku. Sejak pagi sudah 3 film aku putar dan sudah 4 kali aku melakukan onani. Namun hasratku masih juga begitu besar.

Ada adegan yang sangat aku sukai dan aku sering berkhayal bahwa aku menjadi pemeran pria dalam film itu. Adegan itu adalah saat seorang pria sedang berbaring sementara wanita pertama duduk di atas penis sang pria sambil menggoyangkan pinggulnya dan wanita kedua duduk tepat di atas mukanya sementara sang pria dengan lahapnya menjilati vagina wanita kedua tersebut.

Aku segera menurunkan celanaku bersiap melakukan onani sambil menyaksikan adegan favoritku. Di tengah-tengah kegiatanku dan film sedang hot-hotnya, tiba-tiba terdengar suara pintu pagar dibuka. Saat itu menunjukkan pukul 20.00, ternyata Mama dan adikku sudah pulang. Segera aku kenakan celanaku kembali dan mengeluarkan video dari playernya kemudian meletakkannya kembali di tempatnya. Lalu baru aku membukakan pintu untuk mereka.

“Eh Wan, tolong bantu masukkan barang-barang dong”, Mama memintaku membantunya membawa barang-barang.
“Iya Ma. Shin, di sana ngapain aja? Koq sepertinya capek banget sih?”, aku menyapa adikku Shinta.
“Wah, banyak. Pagi setelah aerobik terus jalan lintas alam. Sampai di atas udah siang. Terus sorenya baru turun. Pokoknya capek deh.”, Shinta menjelaskannya dengan bersemangat.

Setelah itu mereka mandi dan makan malam. Sementara aku duduk di ruang keluarga sambil menonton acara TV. Setelah mereka selesai makan malam, adikku langsung menuju ke kamarnya di atas. Mama ikut bergabung denganku menonton TV.

“Wan, ada acara bagus apa aja?”, Mama bertanya padaku.
“Cuma ini yang mendingan, yang lainnya jelek”, aku memberi tahu bahwa hanya acara yang sedang kutonton yang cukup bagus.

Saat itu acaranya adalah film action. Setelah itu ada pembicaraan kecil antara aku dan Mama. Karena lelah, Mama menonton sambil tiduran di atas karpet. Tidak lama sesudah itu Mama rupanya terlelap. Aku tetap menonton. Pada suatu saat, dalam film tersebut ada jalan cerita dimana teman wanita sang jagoan tertangkap dan diperkosa oleh boss penjahat. Spontan saja penisku mengembang. Aku tetap meneruskan menonton.

Ketika film sedang seru-serunya, tanpa sengaja aku menatap Mama yang sedang tertidur dengan posisi telentang dan kaki yang terbentang. Baju tidurnya (daster) tersingkap, sehingga sedikit celana dalamnya terlihat. Tubuhku langsung bergetar karena nafsuku yang tiba-tiba meledak. Tidak pernah terpikir olehku melakukan persetubuhan dengan Mamaku sendiri. Tapi pemandangan ini sungguh menggiurkan. Pada usia 29 tahun, Mama masih terlihat sangat menarik. Dengan kulit kuning, tinggi badan 161 cm, berat badan 60 kg, buah dada 36B ditambah bentuk pinggulnya yang aduhai, ternyata selama ini aku tidak menyadari bahwa sebenarnya Mama sangat menggairahkan.

Selama ini aku benar-benar tidak pernah punya pikiran aneh terhadap Mama. Sekarang sepertinya baru aku tersadar. Nafsu mendorongku untuk menjamah Mama, namun sejenak aku ragu. Bagaimana kalau sampai Mama terbangun. Namun dorongan nafsu memaksaku. Akhirnya aku memberanikan diri setelah sebelumnya aku mengecilkan volume TV agar tidak membangunkan Mama. Aku bergerak mendekati Mama dan mengambil posisi dari arah kaki kanannya. Untuk memastikan agar Mama tidak sampai terbangun, kugerak-gerakkan tangan Mama dan ternyata memang tidak ada reaksi.

Rupanya karena lelah seharian, ia jadi tertidur dengan sangat lelap. Dasternya yang tersingkap, kucoba singkap lebih tinggi lagi sampai perut dan tidak ada kesulitan. Tapi itu belum cukup, aku singkap dasternya lebih tinggi lagi dengan terlebih dahulu aku pindahkan posisi kedua tangannya ke atas. Sekarang kedua buah dadanya dapat terlihat dengan jelas, karena ternyata Mama tidak mengenakan bra. Langsung aku sentuh buah dada kanannya dengan telapak tangan terbuka dan dengan perlahan aku remas. Setelah puas meremasnya, aku hisap bagian putingnya lalu seluruh bagian buah dadanya.

Tiba-tiba Mama mendesah. Aku kaget dan merasa takut kalau-kalau sampai Mama terbangun. Tetapi setelah kutunggu beberapa saat tidak ada reaksi lain darinya. Untuk memastikannya lagi aku meremas buah dada Mama lebih keras dan tetap tidak ada reaksi. Walau masih penasaran dengan bagian dadanya, namun aku takut jika tidak punya cukup waktu. Sekarang sasaran aku arahkan ke vaginanya. Mama mengenakan CD tipis berwarna kuning sehingga masih terlihat bulu kemaluannya.

Aku raba dan aku ciumi vagina Mama, tapi aku tidak puas karena masih terhalang CD-nya. Jadi kuputuskan untuk menurunkan CD-nya sampai seluruh vaginanya terlihat. Namun hal itu tidak dapat kulakukan karena posisi kakinya yang terbentang menyulitkanku untuk menurunkannya. Jadi terpaksa aku rapatkan kakinya sehingga aku bisa menurunkan CD-nya sampai lutut. Tapi akibatnya aku jadi tidak bisa mengeksplorasi vagina Mama dengan leluasa karena kakinya kini merapat. Apakah aku harus melepas semuanya? Tentu akan lebih leluasa, tapi jika Mama sampai terbangun akan berbahaya karena aku tidak akan bisa dengan cepat memakaikannya kembali.

Berhubung nafsuku sudah memburu, maka aku putuskan untuk melepaskannya semua. Lalu aku rentangkan kakinya. Sekarang vagina Mama dapat terlihat dengan jelas. Tidak tahan lagi, langsung aku cium dan jilati vaginanya. Lebih jauh lagi, dengan kedua tangan kubuka bibir-bibir vaginanya dan aku jilati bagian dalamnya. Aku benar-benar semakin bernafsu, ingin rasanya aku telan vagina Mama. Tidak lama setelah aku jilati, vaginanya menjadi basah. Setelah puas mencium dan menjilati bagian vaginanya, penisku sudah tidak tahan untuk dimasukkan ke dalam vagina Mama. Aku kemudian berdiri untuk melepas celanaku. Lalu aku duduk lagi di antara kedua kaki Mama dan aku bentangkan kakinya lebih lebar.

Dengan mengambil posisi duduk dan kedua kakiku dibentangkan untuk menahan kedua kaki Mama, aku arahkan penisku ke lubang vaginanya. Tangan kananku membantu membuka lubang vagina Mama sementara aku dorong penisku perlahan. Aku rasakan penisku memasuki daerah yang basah, hangat dan menjepit. Tubuhku gemetar hebat karena nafsu yang mendesak. Setelah beberapa saat akhirnya seluruh penisku sudah berhasil masuk ke dalam vagina Mama dengan tidak terlalu sulit, mungkin karena Mama sudah melahirkan dua orang anak.

Mulailah kugoyangkan pinggulku maju mundur secara perlahan. Kurasakan kenikmatan dan sensasi yang luar biasa. Aku memutuskan untuk memuaskan nafsuku, apa pun yang terjadi. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Dengan semakin bernafsu, aku peluk tubuh Mama dan mengulum dadanya, sementara penisku terus bergerak cepat menggosok vagina Mama. Aku sudah tidak peduli lagi apakah Mama akan terbangun atau tidak, biar pun terbangun aku akan terus menggoyangnya sampai aku puas.

Sungguh nikmat. Bahkan lebih nikmat daripada fantasiku selama ini. Setelah aku berjuang keras selama 6 menit, akhirnya aku sudah tidak tahan lagi hingga aku benamkan penisku dalam-dalam ke vagina Mama. Aku rasakan spermaku mengalir bersamaan dengan sensasi yang luar biasa. Seakan melayang sampai-sampai terasa sakit kepala. Aku biarkan penisku beberapa saat di dalam tubuh Mamaku.

Setelah cukup rileks, aku cabut penisku. Aku puas. Aku tidak menyesal. Aku kenakan kembali celanaku. Sebelum aku kenakan kembali CD-Mama, aku puaskan diri dengan meremas-remas vagina Mama. Setelah itu aku rapikan kembali daster Mama. Aku matikan TV dan naik menuju kamarku di atas. Aku langsung rebahan di atas kasurku. Walau aku merasa lelah tapi aku tidak bisa tidur membayangkan pengalaman ternikmat yang baru saja aku rasakan. Pengalaman seorang anak SD yang baru saja melakukan hubungan seks dengan Mamanya sendiri.

Membayangkan hal tersebut saja membuat nafsuku bangkit kembali. Aku berpikir untuk kembali melakukannya dengan Mama. Aku berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. Namun di depan kamar Shinta adikku, entah apa yang mengubah pikiranku. Aku berpikir, kalau Mama saja tidur sedemikian lelapnya maka tentu Shinta juga demikian. Apalagi selama ini Shinta kalau sudah tidur sulit sekali untuk dibangunkan.

Perlahan aku buka kamarnya dan aku lihat Shinta tertidur dengan menggunakan selimut. Aku masuk ke kamarnya dan aku tutup lagi pintunya. Seperti yang sudah aku lakukan dengan Mama, aku juga sudah bertekad akan menyetubuhi Shinta adikku sendiri. Walaupun ia bangun aku juga tidak akan peduli.

Lalu aku singkap selimutnya dan aku lepaskan dasternya serta tidak CD-nya. Sekarang Shinta sudah benar-benar bugil. Karena Shinta belum memiliki buah dada, sasaranku langsung ke vaginanya. Vaginanya sungguh mulus karena belum ditumbuhi rambut. Aku rentangkan kakinya lalu aku cium dan jilati vaginanya. Sekali-kali aku gigit perlahan. Lalu aku buka lebar-lebar bibir vaginanya dengan jariku dan kujilati bagian dalamnya.

Setelah puas menciumi vaginanya, aku bersiap untuk menghunjamkan penisku ke dalam vagina Shinta yang masih mulus. Aku rentangkan kakinya dan aku tempatkan melingkar di pinggangku. Aku ingin mengambil posisi yang memungkinkanku dapat menyetubuhi Shinta dengan leluasa.

Lalu kuarahkan penisku ke lubang vaginanya sementara kedua tanganku membantu membuka bibir vaginanya. Aku dorong perlahan namun ternyata tidak semudah aku melakukannya dengan Mama. Vagina Shinta begitu sempit, karena ia masih kecil (saat itu ia baru berusia 9 tahun) dan tentu saja masih perawan. Tapi itu bukan halangan bagiku. Aku terus mendorong penisku dan bagian kepala penisku akhirnya berhasil masuk. Namun untuk lebih jauh sangat sulit.

Nafsuku sudah memuncak tapi masih belum bisa masuk juga hingga membuatku kesal. Karena aku sudah bertekad, maka aku paksakan untuk mendorongnya hingga aku berhasil. Namun tiba-tiba saja Shinta merintih. Aku diam sejenak dan ternyata Shinta tidak bereaksi lebih jauh. Walaupun aku tidak peduli apakah Shinta akan tahu atau tidak, tetap saja akan lebih baik kalau Shinta tidak mengetahuinya.

Kemudian aku mulai menggoyang pinggulku, tetapi gerakanku tidak bisa selancar saat melakukannya dengan Mama, karena vagina Mama basah dan tidak terlalu sempit, sedangkan milik Shinta kering dan sempit. Aku terus menggesekan penisku di dalam tubuh Shinta semakin lama semakin cepat sambil memeluk tubuhnya. Ada perbedaan kenikmatan tersendiri antara vagina Mama dan Shinta. Karena vagina Shinta lebih sempit maka hanya dalam waktu 3 menit aku sudah mencapai orgasme.

Kubiarkan spermaku mengalir di dalam vagina Shinta. Aku tidak perlu khawatir karena aku tahu Shinta belum bisa hamil. Aku tekan penisku dalam-dalam dan aku peluk Shinta dengan erat. Setelah puas aku kenakan lagi pakaian Shinta baru aku kenakan pakaianku sendiri. Aku berjingkat kembali ke kamarku dan tertidur sampai keesokan paginya.

Pada pagi harinya aku agak khawatir jika ketahuan. Tapi sampai aku berangkat sekolah tidak ada yang mencurigakan dari sikap Mama maupun Shinta. Sejak saat itu aku selalu terbayang kenikmatan yang aku alami pada malam itu. Aku ingin mengulanginya. Dengan Mama kemungkinannya bisa dilakukan jika Papa tidak di rumah. Jadi akan lebih besar kesempatannya jika melakukannya dengan Shinta saja. Walaupun pada saat melakukannya, aku tidak peduli jika diketahui tetapi tetap akan lebih aman jika mereka tidak mengetahuinya. Maka hampir setiap malam, aku selalu bergerilya ke kamar Shinta. Namun aku hanya berhasil sampai tahap melucuti pakaiannya. Setiap kali penisku mulai masuk, Shinta selalu terbangun.

Empat bulan sejak pengalaman pertama, aku belum pernah lagi melakukan sex. Pada bulan kelima, aku masuk SMP dan pada pelajaran biologi aku mengenal suatu bahan kimia praktikum yang digunakan untuk membius. Saat itu aku langsung berpikir bahwa aku bisa menggunakannya bersetubuh dengan Shinta lagi.

Setelah pelajaran biologi, aku mengambil sebotol obat bius untuk dibawa ke rumah. Pada malam hari setelah semuanya tertidur, aku masuk ke kamar Shinta. Sebuah sapu tangan yang telah dilumuri obat bius aku tempatkan di hidung Shinta. Setelah beberapa saat, aku angkat sapu tangan tersebut dan mulai melucuti pakaian Shinta. Dan setelah aku melucuti seluruh pakaianku, aku naik ke ranjang Shinta dan duduk di antara kedua kakinya.

Aku mengambil posisi favoritku dengan menempatkan kedua kakinya melingkari pinggangku. Aku masukkan penisku ke vaginanya dengan perlahan sampai keseluruhan penisku masuk. Goyangan pinggulku mulai menggoyang tubuh Shinta. Aku memeluk tubuhnya dengan erat dan penisku bergerak keluar masuk dengan cepat. Karena aku yakin Shinta tidak akan terbangun maka aku bisa mengubah posisi sesukaku. Seperti sebelumnya, saat pada puncaknya aku biarkan spermaku tertumpah di dalam vaginanya.

Sejak saat itu hampir setiap hari aku menyetubuhi adikku, Shinta. Sesekali jika Papa sedang di luar kota, aku juga menyetubuhi Mama. Alangkah beruntungnya aku. Dengan ilmu pengetahuan, suatu hambatan ternyata dapat diselesaikan dengan mudah.