OH mama, oh adikku

Membaca cerita-cerita di rumahseks.blogspot.com ini mengingatkan diriku pada 19 tahun yang lalu saat pertama kalinya aku merasakan nikmatnya seks. Saat itu usiaku 11 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD. Dan orang-orang pertama yang menjadi pemuas nafsuku adalah Mama dan adikku sendiri.

Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun aku mempunyai keingintahuan dan hasrat yang kuat akan seks. Secara sembunyi-sembunyi aku sering membaca majalah dewasa milik orang tuaku. Biasanya hal itu kulakukan saat sebelum berangkat sekolah dan orang tuaku tidak di rumah. Saat membaca majalah tersebut aku juga beronani untuk memuaskan hasratku.

Pada saat usiaku 10 tahun, hasratku akan pemuasan seks semakin besar, maklum saat itu adalah masa puber. Frekuensiku melakukan onani juga semakin sering, dalam sehari bisa sampai 4 kali. Dan setiap hari minimal 1 kali pasti aku lakukan.

Pada suatu sore ketika aku duduk di kelas 6 SD, saat itu tidak ada seorang pun di rumah. Papa sedang bertugas keluar kota, sedangkan Mama dan adikku sedang mengikuti suatu kegiatan sejak pagi. Aku gunakan kesempatan tersebut untuk menonton blue film milik orang tuaku. Sejak pagi sudah 3 film aku putar dan sudah 4 kali aku melakukan onani. Namun hasratku masih juga begitu besar.

Ada adegan yang sangat aku sukai dan aku sering berkhayal bahwa aku menjadi pemeran pria dalam film itu. Adegan itu adalah saat seorang pria sedang berbaring sementara wanita pertama duduk di atas penis sang pria sambil menggoyangkan pinggulnya dan wanita kedua duduk tepat di atas mukanya sementara sang pria dengan lahapnya menjilati vagina wanita kedua tersebut.

Aku segera menurunkan celanaku bersiap melakukan onani sambil menyaksikan adegan favoritku. Di tengah-tengah kegiatanku dan film sedang hot-hotnya, tiba-tiba terdengar suara pintu pagar dibuka. Saat itu menunjukkan pukul 20.00, ternyata Mama dan adikku sudah pulang. Segera aku kenakan celanaku kembali dan mengeluarkan video dari playernya kemudian meletakkannya kembali di tempatnya. Lalu baru aku membukakan pintu untuk mereka.

“Eh Wan, tolong bantu masukkan barang-barang dong”, Mama memintaku membantunya membawa barang-barang.
“Iya Ma. Shin, di sana ngapain aja? Koq sepertinya capek banget sih?”, aku menyapa adikku Shinta.
“Wah, banyak. Pagi setelah aerobik terus jalan lintas alam. Sampai di atas udah siang. Terus sorenya baru turun. Pokoknya capek deh.”, Shinta menjelaskannya dengan bersemangat.

Setelah itu mereka mandi dan makan malam. Sementara aku duduk di ruang keluarga sambil menonton acara TV. Setelah mereka selesai makan malam, adikku langsung menuju ke kamarnya di atas. Mama ikut bergabung denganku menonton TV.

“Wan, ada acara bagus apa aja?”, Mama bertanya padaku.
“Cuma ini yang mendingan, yang lainnya jelek”, aku memberi tahu bahwa hanya acara yang sedang kutonton yang cukup bagus.

Saat itu acaranya adalah film action. Setelah itu ada pembicaraan kecil antara aku dan Mama. Karena lelah, Mama menonton sambil tiduran di atas karpet. Tidak lama sesudah itu Mama rupanya terlelap. Aku tetap menonton. Pada suatu saat, dalam film tersebut ada jalan cerita dimana teman wanita sang jagoan tertangkap dan diperkosa oleh boss penjahat. Spontan saja penisku mengembang. Aku tetap meneruskan menonton.

Ketika film sedang seru-serunya, tanpa sengaja aku menatap Mama yang sedang tertidur dengan posisi telentang dan kaki yang terbentang. Baju tidurnya (daster) tersingkap, sehingga sedikit celana dalamnya terlihat. Tubuhku langsung bergetar karena nafsuku yang tiba-tiba meledak. Tidak pernah terpikir olehku melakukan persetubuhan dengan Mamaku sendiri. Tapi pemandangan ini sungguh menggiurkan. Pada usia 29 tahun, Mama masih terlihat sangat menarik. Dengan kulit kuning, tinggi badan 161 cm, berat badan 60 kg, buah dada 36B ditambah bentuk pinggulnya yang aduhai, ternyata selama ini aku tidak menyadari bahwa sebenarnya Mama sangat menggairahkan.

Selama ini aku benar-benar tidak pernah punya pikiran aneh terhadap Mama. Sekarang sepertinya baru aku tersadar. Nafsu mendorongku untuk menjamah Mama, namun sejenak aku ragu. Bagaimana kalau sampai Mama terbangun. Namun dorongan nafsu memaksaku. Akhirnya aku memberanikan diri setelah sebelumnya aku mengecilkan volume TV agar tidak membangunkan Mama. Aku bergerak mendekati Mama dan mengambil posisi dari arah kaki kanannya. Untuk memastikan agar Mama tidak sampai terbangun, kugerak-gerakkan tangan Mama dan ternyata memang tidak ada reaksi.

Rupanya karena lelah seharian, ia jadi tertidur dengan sangat lelap. Dasternya yang tersingkap, kucoba singkap lebih tinggi lagi sampai perut dan tidak ada kesulitan. Tapi itu belum cukup, aku singkap dasternya lebih tinggi lagi dengan terlebih dahulu aku pindahkan posisi kedua tangannya ke atas. Sekarang kedua buah dadanya dapat terlihat dengan jelas, karena ternyata Mama tidak mengenakan bra. Langsung aku sentuh buah dada kanannya dengan telapak tangan terbuka dan dengan perlahan aku remas. Setelah puas meremasnya, aku hisap bagian putingnya lalu seluruh bagian buah dadanya.

Tiba-tiba Mama mendesah. Aku kaget dan merasa takut kalau-kalau sampai Mama terbangun. Tetapi setelah kutunggu beberapa saat tidak ada reaksi lain darinya. Untuk memastikannya lagi aku meremas buah dada Mama lebih keras dan tetap tidak ada reaksi. Walau masih penasaran dengan bagian dadanya, namun aku takut jika tidak punya cukup waktu. Sekarang sasaran aku arahkan ke vaginanya. Mama mengenakan CD tipis berwarna kuning sehingga masih terlihat bulu kemaluannya.

Aku raba dan aku ciumi vagina Mama, tapi aku tidak puas karena masih terhalang CD-nya. Jadi kuputuskan untuk menurunkan CD-nya sampai seluruh vaginanya terlihat. Namun hal itu tidak dapat kulakukan karena posisi kakinya yang terbentang menyulitkanku untuk menurunkannya. Jadi terpaksa aku rapatkan kakinya sehingga aku bisa menurunkan CD-nya sampai lutut. Tapi akibatnya aku jadi tidak bisa mengeksplorasi vagina Mama dengan leluasa karena kakinya kini merapat. Apakah aku harus melepas semuanya? Tentu akan lebih leluasa, tapi jika Mama sampai terbangun akan berbahaya karena aku tidak akan bisa dengan cepat memakaikannya kembali.

Berhubung nafsuku sudah memburu, maka aku putuskan untuk melepaskannya semua. Lalu aku rentangkan kakinya. Sekarang vagina Mama dapat terlihat dengan jelas. Tidak tahan lagi, langsung aku cium dan jilati vaginanya. Lebih jauh lagi, dengan kedua tangan kubuka bibir-bibir vaginanya dan aku jilati bagian dalamnya. Aku benar-benar semakin bernafsu, ingin rasanya aku telan vagina Mama. Tidak lama setelah aku jilati, vaginanya menjadi basah. Setelah puas mencium dan menjilati bagian vaginanya, penisku sudah tidak tahan untuk dimasukkan ke dalam vagina Mama. Aku kemudian berdiri untuk melepas celanaku. Lalu aku duduk lagi di antara kedua kaki Mama dan aku bentangkan kakinya lebih lebar.

Dengan mengambil posisi duduk dan kedua kakiku dibentangkan untuk menahan kedua kaki Mama, aku arahkan penisku ke lubang vaginanya. Tangan kananku membantu membuka lubang vagina Mama sementara aku dorong penisku perlahan. Aku rasakan penisku memasuki daerah yang basah, hangat dan menjepit. Tubuhku gemetar hebat karena nafsu yang mendesak. Setelah beberapa saat akhirnya seluruh penisku sudah berhasil masuk ke dalam vagina Mama dengan tidak terlalu sulit, mungkin karena Mama sudah melahirkan dua orang anak.

Mulailah kugoyangkan pinggulku maju mundur secara perlahan. Kurasakan kenikmatan dan sensasi yang luar biasa. Aku memutuskan untuk memuaskan nafsuku, apa pun yang terjadi. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Dengan semakin bernafsu, aku peluk tubuh Mama dan mengulum dadanya, sementara penisku terus bergerak cepat menggosok vagina Mama. Aku sudah tidak peduli lagi apakah Mama akan terbangun atau tidak, biar pun terbangun aku akan terus menggoyangnya sampai aku puas.

Sungguh nikmat. Bahkan lebih nikmat daripada fantasiku selama ini. Setelah aku berjuang keras selama 6 menit, akhirnya aku sudah tidak tahan lagi hingga aku benamkan penisku dalam-dalam ke vagina Mama. Aku rasakan spermaku mengalir bersamaan dengan sensasi yang luar biasa. Seakan melayang sampai-sampai terasa sakit kepala. Aku biarkan penisku beberapa saat di dalam tubuh Mamaku.

Setelah cukup rileks, aku cabut penisku. Aku puas. Aku tidak menyesal. Aku kenakan kembali celanaku. Sebelum aku kenakan kembali CD-Mama, aku puaskan diri dengan meremas-remas vagina Mama. Setelah itu aku rapikan kembali daster Mama. Aku matikan TV dan naik menuju kamarku di atas. Aku langsung rebahan di atas kasurku. Walau aku merasa lelah tapi aku tidak bisa tidur membayangkan pengalaman ternikmat yang baru saja aku rasakan. Pengalaman seorang anak SD yang baru saja melakukan hubungan seks dengan Mamanya sendiri.

Membayangkan hal tersebut saja membuat nafsuku bangkit kembali. Aku berpikir untuk kembali melakukannya dengan Mama. Aku berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. Namun di depan kamar Shinta adikku, entah apa yang mengubah pikiranku. Aku berpikir, kalau Mama saja tidur sedemikian lelapnya maka tentu Shinta juga demikian. Apalagi selama ini Shinta kalau sudah tidur sulit sekali untuk dibangunkan.

Perlahan aku buka kamarnya dan aku lihat Shinta tertidur dengan menggunakan selimut. Aku masuk ke kamarnya dan aku tutup lagi pintunya. Seperti yang sudah aku lakukan dengan Mama, aku juga sudah bertekad akan menyetubuhi Shinta adikku sendiri. Walaupun ia bangun aku juga tidak akan peduli.

Lalu aku singkap selimutnya dan aku lepaskan dasternya serta tidak CD-nya. Sekarang Shinta sudah benar-benar bugil. Karena Shinta belum memiliki buah dada, sasaranku langsung ke vaginanya. Vaginanya sungguh mulus karena belum ditumbuhi rambut. Aku rentangkan kakinya lalu aku cium dan jilati vaginanya. Sekali-kali aku gigit perlahan. Lalu aku buka lebar-lebar bibir vaginanya dengan jariku dan kujilati bagian dalamnya.

Setelah puas menciumi vaginanya, aku bersiap untuk menghunjamkan penisku ke dalam vagina Shinta yang masih mulus. Aku rentangkan kakinya dan aku tempatkan melingkar di pinggangku. Aku ingin mengambil posisi yang memungkinkanku dapat menyetubuhi Shinta dengan leluasa.

Lalu kuarahkan penisku ke lubang vaginanya sementara kedua tanganku membantu membuka bibir vaginanya. Aku dorong perlahan namun ternyata tidak semudah aku melakukannya dengan Mama. Vagina Shinta begitu sempit, karena ia masih kecil (saat itu ia baru berusia 9 tahun) dan tentu saja masih perawan. Tapi itu bukan halangan bagiku. Aku terus mendorong penisku dan bagian kepala penisku akhirnya berhasil masuk. Namun untuk lebih jauh sangat sulit.

Nafsuku sudah memuncak tapi masih belum bisa masuk juga hingga membuatku kesal. Karena aku sudah bertekad, maka aku paksakan untuk mendorongnya hingga aku berhasil. Namun tiba-tiba saja Shinta merintih. Aku diam sejenak dan ternyata Shinta tidak bereaksi lebih jauh. Walaupun aku tidak peduli apakah Shinta akan tahu atau tidak, tetap saja akan lebih baik kalau Shinta tidak mengetahuinya.

Kemudian aku mulai menggoyang pinggulku, tetapi gerakanku tidak bisa selancar saat melakukannya dengan Mama, karena vagina Mama basah dan tidak terlalu sempit, sedangkan milik Shinta kering dan sempit. Aku terus menggesekan penisku di dalam tubuh Shinta semakin lama semakin cepat sambil memeluk tubuhnya. Ada perbedaan kenikmatan tersendiri antara vagina Mama dan Shinta. Karena vagina Shinta lebih sempit maka hanya dalam waktu 3 menit aku sudah mencapai orgasme.

Kubiarkan spermaku mengalir di dalam vagina Shinta. Aku tidak perlu khawatir karena aku tahu Shinta belum bisa hamil. Aku tekan penisku dalam-dalam dan aku peluk Shinta dengan erat. Setelah puas aku kenakan lagi pakaian Shinta baru aku kenakan pakaianku sendiri. Aku berjingkat kembali ke kamarku dan tertidur sampai keesokan paginya.

Pada pagi harinya aku agak khawatir jika ketahuan. Tapi sampai aku berangkat sekolah tidak ada yang mencurigakan dari sikap Mama maupun Shinta. Sejak saat itu aku selalu terbayang kenikmatan yang aku alami pada malam itu. Aku ingin mengulanginya. Dengan Mama kemungkinannya bisa dilakukan jika Papa tidak di rumah. Jadi akan lebih besar kesempatannya jika melakukannya dengan Shinta saja. Walaupun pada saat melakukannya, aku tidak peduli jika diketahui tetapi tetap akan lebih aman jika mereka tidak mengetahuinya. Maka hampir setiap malam, aku selalu bergerilya ke kamar Shinta. Namun aku hanya berhasil sampai tahap melucuti pakaiannya. Setiap kali penisku mulai masuk, Shinta selalu terbangun.

Empat bulan sejak pengalaman pertama, aku belum pernah lagi melakukan sex. Pada bulan kelima, aku masuk SMP dan pada pelajaran biologi aku mengenal suatu bahan kimia praktikum yang digunakan untuk membius. Saat itu aku langsung berpikir bahwa aku bisa menggunakannya bersetubuh dengan Shinta lagi.

Setelah pelajaran biologi, aku mengambil sebotol obat bius untuk dibawa ke rumah. Pada malam hari setelah semuanya tertidur, aku masuk ke kamar Shinta. Sebuah sapu tangan yang telah dilumuri obat bius aku tempatkan di hidung Shinta. Setelah beberapa saat, aku angkat sapu tangan tersebut dan mulai melucuti pakaian Shinta. Dan setelah aku melucuti seluruh pakaianku, aku naik ke ranjang Shinta dan duduk di antara kedua kakinya.

Aku mengambil posisi favoritku dengan menempatkan kedua kakinya melingkari pinggangku. Aku masukkan penisku ke vaginanya dengan perlahan sampai keseluruhan penisku masuk. Goyangan pinggulku mulai menggoyang tubuh Shinta. Aku memeluk tubuhnya dengan erat dan penisku bergerak keluar masuk dengan cepat. Karena aku yakin Shinta tidak akan terbangun maka aku bisa mengubah posisi sesukaku. Seperti sebelumnya, saat pada puncaknya aku biarkan spermaku tertumpah di dalam vaginanya.

Sejak saat itu hampir setiap hari aku menyetubuhi adikku, Shinta. Sesekali jika Papa sedang di luar kota, aku juga menyetubuhi Mama. Alangkah beruntungnya aku. Dengan ilmu pengetahuan, suatu hambatan ternyata dapat diselesaikan dengan mudah.

Ibu dan anak – 2

Kami terbangun ketika jam dinding di kamar Cindy menunjukkan waktu pukul setengah delapan dan di luar sudah gelap, Cindy melepaskan diri dari tubuhku, memakai dasternya dan keluar kamar untuk menghidupkan lampu. Aku ke kamar mandi dan mandi sekali lagi untuk membersihkan tubuhku dengan siraman air hangat dari shower, setelah selesai aku kembali memakai t-shirt-ku dan celana pendek, lalu kembali ke ruang tengah melihat TV yang sekarang sedang menayangkan acara hiburan.

Cindy masuk ke kamarnya dan kurasa ia juga mandi untuk menyegarkan tubuhnya, karena ketika keluar ia sudah memakai baju kaos ketat dan celana pendek, lalu duduk di sampingku sambil merebahkan kepalanya di dadaku.

“Sekarang Oom percaya ‘kan sama apa yang Cindy bilang..?” Cindy membuka pembicaraan.
“Iya, tapi menurut Oom itu tidak baik, karena kamu ‘kan masih di bawah umur..!” aku menjawab.
“Ah.., Oom ini bagaimana sih, sekarang ‘kan umur tidak menjadi soal lagi! Yang penting ‘kan dia bisa melakukan seks dengan baik. Oom kuno ahh..!” Cindy menukas sambil mencubit pahaku dengan manja.

“Iya lah.. Oom enggak bisa bilang apa-apa lagi, yang penting Mama jangan sampai tahu, ya..!” aku menjawab sambil memeluk tubuhnya yang langsing.
“Ahh.., biar aja Mama tahu, ‘kan memang ini yang diinginkan Mama..!” Cindy menukas lagi.
“Kamu yakin Mama enggak marah kalau tahu kita sudah pernah main seks..?” tanyaku lagi.
“Pasti deh Oom, lihat aja nanti kalau Mama pulang, Cindy akan cerita dan pasti Mama enggak akan marah..!” ia berkata yakin sambil merebahkan tubuhnya di pangkuanku.
“Ya terserah kamu deh Cindy, Oom cuma nurut saja!” aku mengiyakan sambil menarik nafas.

Kami masih terus menonton TV ketika terdengar suara mobil memasuki pekarangan, dan tak lama kemudian suara pintu depan dibuka dan Mamanya melangkah masuk ke ruang tengah.
“Wah.. wah.. rupanya kalian berdua belum tidur ya. Apa kabar, Kak..?” Vivi menyapaku.
“Kabar baik, bagaimana arisannya tadi..?” aku balik menyapanya.
“Lumayan lah, Vivi bertemu teman-teman dan ngobrol panjang lebar. Cindy, kok kamu begitu.., tiduran di pangkuan Oom, apa enggak malu anak gadis masih kolokan..?” ia menegur Cindy.
“Ah, enggak apa-apa kok Ma, malahan Cindy dan Oom barusan selesai dari kamar Cindy..!”

“Lho.., ngapain kamu di kamar sama Oom..?” Vivi bertanya lagi.
“Itu lho Ma.., yang dulu Mama pernah bilang.., ternyata Oom hebat sekali Ma.., Cindy belum pernah merasakan kayak begitu, malahan tadi sampai dua kali Ma..!” Cindy menjelaskan.
“Jadi kalian berdua tadi.., waduh Cindy.., Mama rugi dong kalau begitu! Kalau tahu tentu Mama tidak pergi arisan tadi, lebih baik disini aja pesta bertiga..!” Vivi menjawab sambil tersenyum ke arahku lalu masuk ke kamarnya.

Tak berapa lama kemudian pintu kamar Vivi terbuka separuh dan terlihat Vivi di balik pintu dengan daster putihnya melambaikan tangan mengajak kami masuk.
Cindy berdiri dan menarik tanganku sambil mengatakan, “Benar ‘kan Oom, Mama enggak marah.., malahan sekarang ngajak lagi tuh..! Ayo.., kita ke kamar Mama..!” Cindy mengajak.
Aku tak dapat menolak lagi dan menurut saja ketika Cindy menarik tanganku memasuki kamar Vivi yang luas dengan tempat tidur ukuran super king size yang dapat menampung empat orang.

Vivi langsung mengunci pintu kamarnya dan mengecilkan lampu, sehingga suasana menjadi sedikit temaram, lalu Vivi mulai melepaskan dasternya, ternyata ia tidak memakai apa-apa lagi di baliknya. Tubuhnya yang putih montok sangat menggiurkan, buah dadanya yang besar dan padat terlihat sangat menantang dengan putingnya yang merah jambu. Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi ketika Cindy melepaskan seluruh pakaianku dan kemudian melepaskan baju kaos dan celana pendeknya, kini kami bertiga sudah telanjang bulat.

Vivi segera menarik tanganku ke arah tempat tidur, lalu ia menelentangkan tubuhku di tempat tidur dan sambil menelungkup di atasku, Vivi mulai menghisap mulutku dengan penuh nafsu. Aku membalas ciumannya dengan bernafsu pula, sementara itu terasa olehku tangan mungil Cindy yang lembut halus menggenggam penisku yang sudah menegang keras dan mulai mengocoknya dengan gerakan lembut yang begitu merangsang.

Nafsuku memuncak dengan cepat. Aku dan Vivi saling menghisap, dan Vivi demikian liarnya sehingga aku agak kewalahan menghadapinya. Hisapannya pada mulutku kuat sekali, sementara tangannya mengelus seluruh tubuhku dari dada, perut, pinggul, dan pahaku. Aku merasa kewalahan menghadapi dua wanita yang begitu liar dan ganas ini.
Tiba-tiba Vivi melepaskan kuluman mulutnya dan berkata, “Ayo Kak.. isap ini yang kuat..!” sambil tangannya mengangsurkan buah dadanya yang kanan ke arah mulutku.
Aku segera saja melakukan apa yang dimintanya.

Aku menghisap buah dadanya dengan kuat sambil memainkan lidahku pada putingnya yang merah jambu, membuat Vivi merintih lirih dalam kenikmatan yang dirasakannya.
“Adduuhh Kaak.. adduuhh.. isap yang kuat Kaak.. lebih kuat Kaak.. aadduuhh.. terus isap Kaak.. aadduuhh.. aaduh..!”
Tubuh Vivi menggeliat-geliat menahan kenikmatan itu. Keharuman aroma tubuhnya membuatku semakin menggila, ditambah dengan remasan dan kocokan tangan Cindy pada penisku yang tegang luar biasa, membuatku semakin tak dapat menguasai diriku. Kedua tangan Vivi berada di samping kepalaku sambil merenggut rambutku dengan kuat.

Nafasnya terdengar memburu disertai erangan nikmat dan rintihan lirihnya, “Aadduuhh Kaak.. isap teruuss Kaak.. aadduuhh.. teruus.. lebih kuaat.. aaduuh..!”
Lalu Vivi melepaskan buah dadanya yang kanan dari mulutku dan meletakkan buah dadanya yang kiri di atas mulutku sambil berkata, “Sekarang yang ini Kak.., ayo isap yang kuat seperti tadi.., ayo Kaak.. ayo cepat isap.. aadduuh..!”
Aku menghisapnya dengan kuat dan mengulum putingnya serta memainkan lidahku disitu. Tanganku mengelus vaginanya yang basah dan berdenyut, ini membuat Vivi semakin bernafsu dan menggila demikian liarnya. Renggutan tangannya pada rambutku terasa begitu kuat disertai nafasnya yang terengah-engah dan rintihan nikmatnya.

“Ayoo Kaak.. aadduuhh.. ayoo isap yang kuaat.. aadduuhh.. teruuss.. aadduuhh..!”
Nafas Vivi mendengus-dengus menandakan nafsunya yang sudah sangat memuncak. Tubuhnya sudah berada di atas tubuhku dengan kedua pahanya yang mulus lembut terbuka lebar. Tanganku terus mengelus vaginanya yang sudah sangat basah dengan jariku, membuat Vivi semakin liar dan ganas. Pinggulnya mulai bergerak naik turun dan memutar mengikuti irama gerakan jariku di vaginanya yang berdenyut basah. Aku memasukkan jariku dan menggerakkannya keluar masuk.

Vivi semakin liar dan ganas. Pinggulnya bergerak naik turun tak beraturan sekarang. Ia menekankan buah dadanya ke mulutku dan menggerakkannya memutar-mutar. Rintihannya semakin lirih dan sayu.
“Ayoo Kaak.. masukin sekarang Kaak.. Vivi enggak tahan lagi.. ayoo masukiin.. aadduuhh.. aadduuh..!”
Terasa tangan Cindy sambil mengocok membawa penisku yang sangat tegang ke arah vagina Vivi yang berdenyut-denyut. Dan ketika terasa ujung penisku menyentuh vaginanya, Vivi menurunkan badannya sedikit, sehingga kepala penisku masuk ke dalam vaginanya yang terasa meremas penisku dengan denyutan amat lembut.

Vivi merintih lirih dalam kenikmatannya, “Ayoo Kaak.. masukin teruuss.. ayoo.. aadduuhh.. ayoo..!”
Aku tak dapat menahannya lagi dan menekan ke atas, sehingga seluruh penisku kini masuk ke dalam vaginanya yang berdenyut lembut meremas penisku dengan kuat. Aku mulai memompa Vivi dengan gerakan panjang dan lambat yang membuat Vivi semakin gila.
“Aaduhh Kaak.. yang cepat Kaak.. aduhh.. lebih cepat lagi.. lagii.. aaduh.. ayoo. aaduuh..!”
Aku memompa lebih cepat di tengah remasan vagina Vivi yang terasa begitu lembut. Aku memompa semakin cepat dan cepat sambil terus menghisap buah dadanya dengan kuat. Penisku terasa membesar dan membesar di dalam remasan vaginanya yang lembut luar biasa.

Aku tak dapat menahan diriku lagi, dan Vivi juga menjadi semakin liar dan begitu ganas dalam gejolak nafsunya.
“Aaduhh Kaak.. ayoo Kaak.. lebih cepat Kaak.. lagii.. lagii.. aaduuhh.. aduh..!”
Kami bergumul dengan asyik penuh nafsu dalam kenikmatan yang tiada taranya, dengus nafas kami menderu-deru dalam berpacu menuju puncak kenikmatan yang menanti kami dalam klimaks yang terasa semakin dekat dan dekat. Tak ada lagi yang dapat menghentikan kami sekarang. Pinggul Vivi berputar dalam gerakan naik turun yang cepat mengikuti gerakan penisku yang memompa semakin cepat dan kuat. Rasanya penisku mulai membesar dan terus membesar disertai rasa nikmat luar biasa dalam remasan vagina Vivi yang basah dan lembut.

Kedua tangan Vivi masih terus mencengkeram rambutku. Hisapanku pada buah dadanya semakin kuat, sehingga hampir seluruh daging buah dadanya masuk ke mulutku. Sementara itu kedua tangan lembut Cindy terus meremas-remas kedua pangkal pahaku. Aku terus memompa Vivi dengan seluruh tenaga yang ada padaku dalam remasan vaginanya yang lembut luar biasa. Penisku terasa semakin membesar dan memanjang. Vivi merintih nikmat tak dapat menahan nafsunya lagi.
“Aaduuhh Kaak.. aduh.. teruuss Kaak.. lebih cepat lagi Kaak.. aku enggak bisa tahan lagii.. aduhh.. sudah mau keluar Kaak.. mau keluaarr.. aduhh..!” erangan dan rintihan Vivi menandakan ia sudah sangat dekat dengan klimaksnya.

Aku sendiri juga merasa sudah hampir tiba pada klimaksku. Aku menghisap buah dadanya kuat sekali. Kami sudah sangat dekat pada klimaks kami dan rasanya sudah tak tertahankan lagi. Sudah dekat sekali. Rintihan Vivi semakin kuat.
“Aaduuh Kaak.. aku mau keluar Kaak.. aduhh.. mau keluaar.. aduhh.. aku keluarr Kaak.. keluarr.. aduuhh Kaak.. keluar Kak.. keluarr.. aduuhh..!”
Vivi tak dapat menahannya lagi. Tubuhnya menyentak kuat sekali kemudian mulai menggelepar-gelepar dalam kenikmatan orgasmenya yang luar biasa ketika ia meledak dalam puncak klimaksnya disertai remasan vaginanya yang kuat dan lembut pada penisku.

Aku juga sudah tak dapat lagi menahannya ketika kurasakan penisku membengkak besar sekali dalam remasan vagina Vivi dan kenikmatan itu mulai menjalar dari pangkal penisku menuju ke ujungnya. Aku memompa Vivi cepat sekali, dan kini terasa kenikmatan itu sampai di ujung penisku dan tanpa dapat kutahan lagi penisku meledak dahsyat dalam gumpalan-gumpalan orgasme yang nikmat luar biasa diantara remasan vagina Vivi yang begitu lembut. Tubuhku menyentak-nyentak tak dapat menahan kenikmatan itu. Kami berpelukan erat sekali dalam klimaks yang luar biasa nikmatnya.

“Aaduhh Kaak.. aku keluaarr Kaak.. aduhh.. keluar.. keluar.. aduuh.. adduuhh.. keluaarr.. aduh..!”
Vivi setengah berteriak menahan kenikmatan saat ia mencapai puncak orgasmenya dalam klimaks yang begitu dahsyat dengan kedua kakinya yang merangkul ketat pada kedua pahaku. Kami masih terus bergumul dalam ledakan klimaks yang sungguh luar biasa dengan tubuh menggelepar-gelepar menahan kenikmatan itu sampai akhirnya kedua tubuh kami terkulai lemah berkeringat dan nafas mendengus kelelahan.

Dalam kelelahan yang amat sangat, akhirnya kami tertidur lelap sekali dan baru terbangun ketika jam dinding di kamar Vivi berdentang sepuluh kali. Malam itu kami menyantap makan malam yang terasa begitu nikmat dengan lahap. Dan setelah selesai membersihkan piring di dapur, kami bertiga kembali ke kamar Vivi untuk sebuah pergumulan seks yang lebih dahsyat lagi.

Kisah cinta ibu dan anak – 1

“Ma.. Mama” teriakku sambil melambaikan tangan.

Sebelum aku lupa aku bernama Yoyo(nama samaran) umur 16, aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Mama berumur 27 dan Papa berumur 45. Kenapa umur kedua orang tuaku berbeda jauh, karena Mama saat umur 12 tahun hamil karena diperkosa oleh tetangganya waktu di desa Mama dan yang menolong penderitaan Mama adalah Papa yang berumur 30 tahun tapi belum menikah. Kata paman Mama sudah manis dan cantik (macan) waktu kecil.

Sekarang Mama tidak mungkin hamil lagi karena Mama mengalami pendarahan rahim yang sangat parah ketika melahirkan aku, itu dikarenakan umur Mama yang masih sangat muda saat melahirkan aku. Aku sangat menyayangi dan mencintai Mama disamping itu ada juga perasaanku ingin menikmati tubuh Mama. Mama sangat cantik, dadanya besar, dan kalau setiap melihat Mama pasti adikku selalu bangun. Apalagi setiap aku melakukan onani dalam anganku aku melakukan hubungan intim dengan Mama.

“Sayang kamu berhasil, dan kamu juga mendapat ranking 1″ teriak Mama sambil melambaikan tangan kepadaku.

Pukul 19.00, kami sekeluarga makan bersama.

“Selamat ya Yo, kamu ingin melanjuntukan ke SMU mana?” tanya Papa.
“Enggak tahu Pa” jawabku.
“Kok enggak tahu sih, ntar kamu tidak sekolah loh” kata Mama.
“Ya sudah ntar Papa cariin tapi kamu harus pertahankan prestasimu yaa” kata Papa.

Pukul 20.00, aku dan Mama nonton TV bareng. Papa pergi ke Bandung setelah makan tadi karena katanya ada urusan kerja dan Papa akan di Bandung selama 4 hari, dan aku disuruh menjaga Mama. Mama tidak berapa lama pergi ke kamar tidur.

“Mama tidur dulu ya sayang” kata Mama.

Aku menonton TV acara misteri, aku yang orangnya takut akan hal-hal gaib pergi ke kamar Mama supaya ditemanin nonton. Aku mendorong kamar Mama yang ternyata tidak terkunci. Aku sangat takjub melihat Mama yang sedang tidur karena Mama tidur hanya memakai BH dan CD. Aku sesak napas tak tahu harus bagaimana karena ini benar-benar kejadian yang tak diduga.

Aku mendekati Mama, Mama kalau tidur susah untuk dibangunkan jadi mungkin ini kesempatanku untuk merasakan tubuh Mama pikirku dalam hati. Dengan perasaan takut kubuka BH Mama. Begitu terbuka, aku sadar bahwa dada Mama sangat indah. Dada Mama tidak kalah indah dengan dada cewek jepang yang aku tonton di blue film. Kuremas-remas kedua dada Mama dengan ritme kadang keras kadang lembut, kuremas berulang-ulang.

“Akh.. Akh..” desah Mama walau pelan tapi aku mendengar.

Aku seperti mendapat lampu merah menghisap tetenya kanan kiri secara bergantian sedangkan tangan kiriku kuselipkan ke dalam CD Mama untuk memainkan vagina Mama.

“Sshh.. Shh” desah Mama tangan kiriku yang kuselipkan ke CD untuk memainkan vagina Mama terkena lendir Mama yang sudah keluar. Dada Mama yang kuhisap kedua puting Mama mengeras. Setelah puas menghisap dan menjilat puting Mama aku membuka CD Mama yang sudah sedikit basah sama lendir Mama sendiri. Kujilat, kuhisap dengan keras vagina Mama dan kumasukkan lidahku ke dalam vagina Mama.

“Ohk.. Ssh” desah Mama dan lendir Mama lagi-lagi keluar.

Aku ganti dengan mengocok vagina Mama dengan jari tangan kanan sementara tangan kiri mengelu-elus klitoris Mama yang membesar.

“Akhh.. Sshh.. Okhh” desis Mama agak keras tapi tetap dalam keadaan tidur. Aku tidak peduli Mama bangun atau tidak kukocok tangan kananku yang mengocok vagina Mama dengan cepat.

“Plok.. Plokk” bunyi kocokan vagina Mama lalu.
“Akhh.. Akhh. Yaa.. terus.. sampai” gunggam Mama yang disertai tubuh Mama mengejang dan mengeluarkan lendir banyak.

Aku tahu pada saat itu Mama pasti orgasme langsung saja kujilat vagina Mama yang masih berlendir.

“Wah benar-benar vagina Mama wangi dan lendirnya enak” kataku kubisikkan ke kuping Mama yang aku sendiri tidak tahu Mama masih tidur atau sudah bangun.

Mama masih mengatur napas karena habis orgasme, tapi aku nekat dengan mencium mulut Mama dan memasukkan lidah ku ke dalam mulut Mama. Ternyata Mama membalas kulumanku dan memainkan lidah Mama dengan lidah aku, lama sekali kami saling menghisap dan mengulum. Tapi tanganku tidak diam. Tanganku meremas buah dada Mama, memilin puting Mama yang menyebabakan Mama mendesis.

“Okhh.. Akhh”.

Tubuh Mama tiba-tiba mengejang lagi tang menandakan Mama orgasme untuk ke-2 kalinya.

“Akhh.. Okkhh.. Datang.. Nikmat” gunggam Mama lagi tetapi tidak menampakkan Mama akan bangun.

Lagi-lagi cairan Mama keluar. Aku tidak berani membuat Mama melakukan oral kepadaku karena takut Mama tahu aku berbuat mesum padanya. Makanya aku langsung memasukkan kontolku ke vagina Mama yang sudah basah. Walaupun vagina Mama basah tapi kontolku ynag besar tidak dapat masuk. Aku akui kontolku besar dan panjang tapi setelah kucoba-coba akhirnya dapat masuk.

“Okhh… Shh..” desah Mama waktu kontolku masuk ke vagina Mama.

Vagina Mama sempit, aku sangat sulit menggerakkan kontolku. Vagina Mama terasa nikmat yang membuat aku melayang syraf-syaraf dan otot-otot vagina Mama memijit kontolku. Mama pun seperti cacing kepanasan menggoyangkan pantatnya tidak beraturan yang membuat kontolku akhirnya masuk seluruhnya ke vagina Mama.

“Akkhh.. Okhh” desah Mama sambil mengejang dan itu membuat aku kaget karena Mama orgasme ke-3 kalinya. Dan cairan Mama yang keluar agak memudah kan aku melakukan gerakan kontolku di vagina Mama. Mama merenggangkan kedua pahanya untuk memudahkan aku menggerakkan kontolku. Mula-mula kukocok pelan-pelan, lalu selanjutnya berirama kadang pelan kadang cepat yang semakin membuat Mama mengugam.

“Akhh.. Teruus nikmat.. Yaa” aku semakin bersemangat, mulai menganti posisi Mama sekarang Mama telungkup dan pantatnya kubuat menungging, dengan gaya doggie style ini aku merasa nikmat dan Mama pantatnya mengikuti irama goyangan kontolku, otot vagina Mama mengedut dan aku yakin Mama orgasme, ternyata Mama orgasme untuk ke-4 kalinya.

Aku juga mengedut dan muncratlah spermaku di vagina Mama, bahkan aku yakin spermaku menymprot rahim Mama karena kontolku di vagina Mama selalu kena rahimnya.

“Akhh.. Akhh” desah Mama.

Aku tak puas lalu kupangku Mama dan wajah kami berhadapan lalu kumasukkan kontolku ke vagina Mama. Plleess.. bunyinya.

“Akkhh..” desah Mama.

Kukocok dengan berirama, aku dan Mama orgasme berbarengan sambil kami mengulum. Kudiamkan sebentar kontolku dalam vagina Mama. Kukeluarkan, plop bunyinya. Kucium kening Mama dan kuusap rambutnya. Kulihat Mama sangat lelah dengan keringat yang bercucuran, ku bisikkan ke telinga Mama.

“Lain kali lagi ya Ma, Mama sangat enak vaginanya” lalu aku matikan TV dan pergi ke kamar sebelum tidur kulihat jam ternyata jam 3 dini hari aku selesai main sex dengan Mama.

Kesokannya..

Pukul 17.00, aku berenang dengan santainya, aku tidak canggung kalau bertemu Mama begitu juga dengan Mama seperti tidak tahu kejadian semalam.

“Yo Mama ikut berenang donk” kata Mama yang begitu aku berbalik melihat Mama sudah memakai bikini untuk berenang, dan aku yakin bahwa Mama tidak memakai apa-apa selain bikini itu. Mama lalu masuk ke kolam dan menuju ke aku.

“Ajarin Mama berenang donk Yo” kata Mama agak manja. Aku yang mendapat kesempatan langsung berpikir bagaimana caranya untuk menyetubuhi Mama lagi.

“Begini ya Ma, Yoyo akan ngajari Mama tapi Mama harus nuruti kata Yoyo. Gimana Ma, mau enggak?” tanyaku.
“Boleh” kata Mama sambil tersenyum.
“Pertama kita pemanasan dulu Ma” kataku.

Lalu aku membelai dada Mama yang montok. Aku melihat Mama diam saja sambil napas Mama terlihat sesak, aku mulai membuka bikini atas Mama.

“Jangan Yo ada Bi Inah dan Bi Pur” kata Mama.
“Enggak pa.. pa.. Ma enggak ketahuan kok” balasku.

Mama diam saja, segera aku menjilat dada kanan Mama dan memilin puting kiri Mama dengan tangan.

“Akhh… akhh, kamu mulai bandel ya.. Yo” kata Mama sambil mendesah.

Kucium mulut Mama dan Mama membalas dengan memasukkan lidahnya dan menghisap kidahku serta meludahi aku. Kami bermain lidah sangat lama.

“Yo masukin donk, Mama enggak tahan nih akhh..” kata Mama.

Aku lalu menaikkan tubuh Mama ke pinggir kolam lalu membuka bikini yang melindungi vaginanya. Begitu terbuka kulihat lendir Mama sudah keluar segera saja kuhisap, kujilat dan kumasukkan lidahku dalam vagina Mama.

“Akkh.. Okhh enak Yo vagina Mama sangat enak” kata Mama.
“Ma aku kan membuat Mama lebih baik tapi Mama tidak boleh main sex dengan siapapun termasuk Papa” kataku sambil mengocok-ngocok vagina.
“Iya Yo, Mama kan budak sex mu, cepat Yo masukkin kontolmu ke vagina Mama akkhh.. Sshh” jawab Mama.

Aku naik ke pinggir kolam lalu mendudukan Mama di atas pangkuanku dengan wajah kami bertemu “bleess” bunyi kontolku ke vagina Mama.

“Wah, Mama sudah bisa ya nampung kontol Yoyo” candaku.
“Kan kemarin sudah latihan ama kamu” kata Mama.

Lalu aku sadar bahwa Mama kemarin suka melakukan sex denganku. Dengan semangat kupompa dengan cepat.

“Akkhh.. Yess.. Enak sayang.. terus” teriak Mama.

Senyumku melebar dan aku pun mencium mulut Mamaku yang dari tadi mendesis dengan disertai pompaanku yang cepat.

“Sayang.. Saayangg Mama datangg” teriak Mamaku. Lalu kurasakan mani Mama menyiram kontolku yang masih memompa Mama. Tubuh Mama menegang dan memelukku dengan kuat, tapi tiba tiba Bi Inah kulihat datang.
“Kenapa sayang kamu mau main di kolam sama Mama?” tanya Mama.
“Iya Ma habis Bi Inah datang”jawabku.

Aku senderan di dinding kolam sedangkan Mama berhadapan denganku. Mama lalu masuk ke air dan tanpa kusadari Mama melakukan oral kepadaku. Mama hisap, jilat pokoknya Mama melakukan yang hebat dan membuat aku mendesah.

“Akhh”.
“Kenapa Den?” tanya Bi Inah. Aku kaget.
“Enggak pa.. pa.. Bi” jawabku.

Lalu Bi Inah ke dalam dan aku orgasme tapi Mama meminum spermaku sekaligus minum air kolam. Kutarik Mama.

“Enggak pa.. pa.. Ma?” Tanyaku.

Waktu mama mau menjawab, kucium mulut Mama dan kumasukkan kontolku ke dalam vagina Mama dengan gaya aku seperti mengendong Mama. Lama kami melakukannya dan Mama memeluk erat-erat, tubuhnya mengejang dan orgasme Mama untuk ke-2 kalinya. Aku yang masih bangun menyuruh Mama naik lagi ke luar kolam dan Mama ku suruh menungging. Kali ini aku masukin kontolku ke lubang pantat Mama.

“Ma, kita anal sex yuk?” tanyaku.
“Jangan Yo, Mama belum pernah” jawab Mama.

Tanpa memperdulikan jawaban Mama kumasukkan dengan paksa ke pantat Mama walau pun lama akhirnya masuk juga.

“Penuh Yo.. Sakit” teriak Mama.

Aku tak peduli tetap kukocok tak berapa lama Mama menggoyang pantatnya untuk mengimbangi kocokanku.

“Enak Yo.. Shh.. Yang keras Yo” teriak Mamaku.

Kupercepat lajuku, kontolku mengedut dan tubuh Mama mengejang lalu kami sama-sama orgasme.

“Akhh Mama datang sayang” teriak Mama.
“Akhh vagina Mama enak juga” kataku.

Setelah kami selesai sex. Kami mandi berdua lagi dan melakukan sex lagi. Terus-terusan kami melakukannya dimana ada kesempatan, entah saat mandi, malam ketika Papa keluar kota, di mobil, dan kami juga menyewa hotel jika kondisi tidak aman tapi kami ingin melakukan sex. Pokoknya kami melakukannya setiap hari baik itu dimana tempatnya.

Aku memasuki kelas 2 SMU..

Papa ingin merayakan pernikahan Mama dengan Papa dengan liburan dari kantor untuk 3 orang selama 2 hari, aku pun ikut dalam liburan tersebut. Memang Mama masih menepati janjinya untuk bermain sex hanya dengan aku, tapi aku merasa Mama akan mau melakukan hubungan badan karena ini hari pernikahan mereka. Makanya aku pun berhasrat untuk minta ikut. Mama tahu alasan sebenarnya aku ikut makanya Mama mengiyakan permintaanku. Liburan ini benar-benar liburan buat kami tapi tidak untuk Papa makanya liburan akan ulang tahun pernikahan mereka menjadi hubungan sex antara Ibu dan anak.

Pukul 14.00, kami tiba di^^^. Hotelnya bagus. Papa memesan 2 kamar. Aku melihat Papa mencium Mama tapi Mama menolak karena Mama melihat mataku yang menatap Mama dengan tajam.

“Kamu kok selama ini menolak apapun permintaanku, bahkan untuk kucium aja kamu nolak” tanya Papa.
“Malu kan dilihat orang” hindar Mama.

Telepon Papa berbunyi dan Papa ngomong sebentar lalu menghentikan pembicaraannya. Kamar aku dan ke-2 orang tuaku bersebelahan, aku mau masuk lalu kudengar.

“Ma, Papa pergi dulu ya maaf, nih ntar Papa baliknya jam 21.00″ kata Papa ke Mama.

Aku masuk kamarku, kutunggu selama 4 menit dan keluar kamar sambil melihat Papa ada atau tidak. Kulihat tak ada Papa maka aku pun membuka kamar Mama yang ternyata tidak terkunci. Aku masuk dan merantai pintu kamar, kulihat Mama sudah telanjang bulat tanpa apa-apa mendekat kepadaku. Diciumnya bibirku, akhirnya kami saling mengulum. Mama menundukkan wajah ke celana jeansku, dan membuka celanaku dan CDku. Dengan cepat aku juga membuka bajuku. Sekarang kami sama-sama telanjang bulat.

Mama mengulum kontolku, menjilat, mengocok.

“Akhh” desahku.
“Kontolmu lebih dahsyat 100x dari pada kontol papamu” kata Mama.

Dengan kehebatan Mama dalam oral aku orgasme. Cpreett.. Cepreet.. suara dalam mulut Mama dan Mama pun menelan spermaku tanpa ada yang tersisa.

“Enak sekali spermamu sayang” kata Mama genit.

Aku membawa Mama ke ranjang lalu aku melakukan oral ke Mama. Kuhisap jilat klirotis Mama, sedangkan tangan kanan mengocok pantat Mama, lalu tangan kiri bermain aktif dengan buah dada Mama, kuremas-remas dengan ganas.

“Akhh.. Teruuss Yo” desah Mama.

Kumainkan posisi ini dengan lama, Mama pun mengejang.

“Akkhh.. Memekku.. Aku.. Datang sayaanngg” teriak Mama sekeras mungkin.

Kurasakan dimulutku lendir Mama keluar dari vaginanya, sedangkan tangan kananku merasa keluar lendir juga dari lubang pantat Mama. Kujilat dan kutelan lendir Mama baik yang di vagina dan lubang pantat Mama. Kucium Mama lalu kutanya.

“Siap Mamaku sayang” Jawab Mama.
“Terserah kamu dan kontolmu say, pantat, buah dada, vagina Mama semuanya hanya milikmu”.

Dengan semangat Mama membuka pahanya lebar-lebar, tapi Mama salah karena kumasukkan kontolku ke lubang pantat Mama.

“Ukhh.. Sshh” desah Mama.

Dengan Mama yang berlendir dan selama ini kami berhubungan sex, mengakibatkan Mama tidak kesusahan menerima kontolku. Tak berapa lama Mama mengaitkan kedua kakinya ke pinggangku dan tubuh Mama menegang.

“Oohh.. Yeeaahh” teriak Mama.

Kurasakan daging di lubang pantat Mama mengurut kontolku dan menyiram dengan lendir Mama. Aku tak peduli Mama orgasme, tetap kupompa lambat, cepat, lambat dengan berirama. Lalu aku menelungkupkan Mama dan membuat Mama menunging, kumasukkan kontolku tetap pada lubang pantat Mama. Mama mengoyangkan pantatnya sesuai gerakanku. Sepertinya gairah Mama naik lagi, karena Mama mendesis.

“Oohhk.. Uhkk.. Yeaa” sambil tetap mengimbangi gerakanku. Kontolku semakin besar dan gerakan Mama juga semakin liar,
“Ma, Yoyo datang” kataku.
“Tahan Yo datangnya sama Mama ya sayangg.. Okhh” balas Mama.

Tak berapa lama aku dan Mama orgasme berbarengan. Di pantat Mama Bercampur benih kasih cinta spermaku dengan mani Mama.

Kulihat jam ternyata sudah jam 18.00, “Ma pindah yuk ke kamar Yoyo” ajakku, “Ntar Papa jadinya enggak bisa main sama Mama” kataku lagi.
“Ayuk lagipula Mama inikan milikmu sayang” kata Mama sambil mengulum mulutku.

Kontan gairahku naik lagi tapi sempat kutahan, dan meminta Mama pindah. Kami pun pindah ke kamarku, lalu kami main lagi.

Anakku Sayang

Marlina, 35 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Penampilan Marlina sangat menarik. Sebagai wanita yang tinggal di kota besar, Bandung, cara berpakaiannya selalu sexy. Tidak sexy murahan tapi berkelas dan menarik. Dengan tubuh tinggi semampai, dada 36, dan kulit yang putih, walau sudah menikah dan punya anak yang sudah cukup dewasa, tapi masih banyak lelaki yang selalu menggodanya.

Anaknya yang paling besar, Jimmy, 16 tahun, seorang anak yang yang baik dan penurut pada orang tuanya. Anak kedua, Yenny, 14 tahun, seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Sedangkan suami Marlina, Herman, adalah seorang suami yang cukup baik dan perhatian pada keluarga. Bekerja sebagai seorang PNS di suatu instansi pemerintah.

Kehidupan sexual Marlina sebetulnya tidak ada masalah sama sekali dengan suaminya. Walau banyak lelaki yang menggoda, tak sedikitpun ada niat dia untuk mengkhianati Herman.

Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Marlina ketika suatu hari dia secara tidak sengaja melihat anak lelakinya, Jimmy, sedang berpakaian setelah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Marlina dengan jelas melihat Jimmy telanjang. Matanya tertuju pada kontol Jimmy yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.

Sejak saat itu Marlina pikirannya selalu teringat pada tubuh telanjang anak lelakinya itu. Bahkan seringkali Marlina memperhatikan Jimmy bila sedang makan, sedang duduk, atau sedang apapun bila ada kesempatan.

“Ada apa si Mam, kok liatin Jimmy terus?” tanya Jimmy ketika Marlina memperhatikannya di ruang tamu.

“Tidak ada apa-apa, Jim.. Hanya saja Mama jadi senang karena melihat kamu makin besar dan dewasa,” ujar Marlina sambil tersenyum.

“Kamu sudah punya pacar, Jim?” tanya Marlina.

“Pacar resmi sih belum ada, tapi kalau sekedar teman jalan sih ada beberapa. Memangnya kenapa, Mam?” tanya Jimmy.

“Ah, tidak. Mama hanya pengen tahu saja,” ujar Marlina.

“Kamu pernah kissing?” tanya Marlina.

“Ah, Mama.. Pertanyaannya bikin malu Jimmy ah…” ujar Jimmy sambil tersenyum.

“Yee.. Tidak apa-apa kok, Jim.. Jujur saja pada Mama. Mama juga pernah muda kok. Mama mengerti akan maunya anak muda kok…” ujar Marlina sambil menjewer pelan telinga Jimmy. Jimmy tertawa.

“Ya, Jimmy pernah ciuman dengan mereka,” ujar jimmy.

“ML?” tanya Marlina lagi.

“ML apa sih artinya, Mam?” tanya Jimmy tidak mengerti.

“Making LOve.. Bersetubuh…” ujar Marlina sambil mempraktekkan ibu jarinya diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah.

“Wah kalau itu JImmy belum pernah, Mam.. Tidak berani. Takut hamil…” ujar Jimmy. Marlina tersenyum mendengarnya.

“Kenapa Mama tersenyum?” tanya Jimmy.

“Karena kamu masih sangat polos, sayang…” kata Marlina sambil mencubit pipi Jimmy, lalu bangkit untuk menyiapkan segala sesuatunya karena Herman akan segera pulang.

Malam harinya, Marlina, Jimmy, dan Yenny asyik menonton TV, sedangkan Herman sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

“Ciuman rasanya gimana sih?” tanya Yenny ketika menyaksikan adegan ciuman di televisi.

“Ah, kamu.. Masih kecil! Tidak perlu tahu,” ujar Jimmy sambil mengucek-ngucek rambut Yenny.

“Tidak boleh begitu, Jim.. Adikmu harus tahu tentang apapun yang dia tidak mengerti. Biar tidak salah langkah nantinya…” ujar Marlina sambil menatap Jimmy.

“Begini, Yen…” ujar Marlina.

“Ciuman itu tidak ada rasa apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Hanya saja, kalau kamu sudah besar nanti dan sudah merasakannya, yang terasa hanya perasaan nyaman dan makin sayang kepada pacar atau suami kamu…” ujar Marlina lagi.

“Ah, nggak ngerti…” ujar yenny.

“Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Sudah ngantuk…” ujar Yenny.

“Ya sudah, tidurlah sayang,” ujar Marlina. Yenny kemudian bangkit dan segera menuju kamar tidurnya.

Ketika menyaksikan adegan ranjang di televisi, Marlina bertanya kepada Jimmy, “Apakah kamu sudah itu dengan pacarmu?”.

“Jimmy belum punya pacar, Mam.. Mereka hanya sekedar teman saja,” jawab Jimmy.

“Tapi kok kamu bisa ciuman dengan mereka?” tanya Marlina lagi sambil tersenyum.

“Ya namanya juga saling suka…” jawab Jimmy sambil tersenyum juga.

“Sudah sejauh mana kamu melakukan sesuatu dengan mereka?” tanya Marlina.

“Tidak apa-apa kok, Jim.. Bicara terbuka saja dengan Mama,” ujarnya Marlina lagi. Jimmy menatap mata ibunya sambil tersenyum.

“Ya begitulah…” kata Jimmy.

“Ya begitulah apa?” tanya Marlina lagi.

“Ya begiutlah.. Ciuman, saling pegang, saling raba…” ujar Jimmy malu malu. Marlina tersenyum.

“Hanya itu?” tanya Marlina lagi.

Jimmy melirik ke arah ayahnya yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

“Mama jangan bilang ke Papa ya?” ujar Jimmy.

Marlina tersenyum sambil mengangguk. Jimmy lalu beringsut mendekati Marlina.

“Jimmy pernah oral dengan beberapa teman wanita…” ujarnya sambil berbisik.

Marlina tersenyum sambil mencubit pipi Jimmy.

“Nakal juga ya kamu!” ujar Marlina sambil tersenyum.

“Rasanya bagaimana?” tanya Marlina sambil berbisik.

“Sangat enak, Mam…” ujar Jimmy.

“Tapi Jimmy dengar, katanya kalau punya Jimmy dimasukkan ke punya wanita rasanya lebih enak.. Benar tidak, Mam?” tanya Jimmy.

Marlina kembali tersenyum tapi tidak menjawab..

“Kamu mau tahu rasanya, Jim?” tanya Marlina sambil tetap tersenyum. Jimmy mengangguk.

“Sini ikut Mama…” ajak Marlina sambil bangkit lalu pergi ke ruang belakang. Jimmy mengikuti dari belakang.

Sesampai di ruang belakang, Marlina menarik tangan Jimmy agar mendekat.

“Ada apa sih, Mam?” tanya Jimmy.

“Karena kamu sudah dewasa, Mama anggap kamu sudah seharusnya tahu tentang hal tersebut,” ujar Marlina dengan nafas agak memburu menahan gejolak yang selama ini terpendam terhadap anaknya tersebut.

“Ciumlah Mama sayang…” kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.

Jimmy diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Marlina terus melumat bibir anaknya itu sambil tanggannya masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy. Lalu dengan lembut diremas dan dikocoknya kontol anaknya. Karena tidak tahan merasakan rasa enak, Jimmy dengan segera membalas ciuman Marlina dengan hangat.

Sambil terus mengocok dan meremas kontol Jimmy, Marlina berkata, “Kamu ingin merasakan rasanya bersetubuh kan, sayang?”.

“Iya, Mam…” ujar Jimmy dengan nafas memburu.

“Mama juga sama, Jim.. Mama ingin merasakan hal itu dengan kamu,” ujar Marlina.

“Kapan, Ma?” tanya Jimmy sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur karena enak dikocok kontol oleh Marlina.

“Jangan sekarang ya, sayang…” ujar Marlina sambil melepaskan genggaman tangannya pada kontol Jimmy.

“Yang penting kamu harus tahu bahwa Mama sangat sayang kamu…” kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.

“Jimmy juga sangat sayang Mama,” ujar Jimmy.

“Sekarang Mama harus tidur karena sudah malam. Nanti Papamu curiga…” ujar Marlina sambil meninggalkan Jimmy.

Jimmy menarik nafas panjang menahan suatu rasa yang tak bisa diucapkan.. Tak lama Jimmy masuk ke kamar mandi.. Onani. Besok paginya, Herman sudah siap-siap pergi kerja sekalian mengantar Yenni ke sekolah karena masuk pagi. Sementara Jimmy masuk sekolah siang. Dia masih tidur di kamarnya.

Setelah Herman dan Yenni pergi, dengan segera Marlina mengetuk dan masuk ke kamar Jimmy. Jimmy masih tidur dengan hanya memakai celana Hawaii saja. Marlina tersenyum sambil duduk di sisi ranjang anaknya tersebut. Tangannya mengusap dada Jimmy. Dimainkannya puting susu Jimmy. Jimmy terbangun karena merasakan ada sesuatu yang membuat darahnya berdesir nikmat. Ketika matanya dibuka, terlihat mamanya sedang menatap dirinya sambil tersenyum.

“Bangun dong, sayang.. Sudah siang,” ujar Marlina sambil tangannya berpindah masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy.

Diusap, dibelai, diremas, lalu dikocoknya kontol Jimmy sampai tegang dan tegak. Jimmy terus menatap mata MArlina sambil merasakan rasa nikmat pada kontolnya.

“Mau sekarang?” tanya Marlina sambil tetap tersenyum.

“Saya mau kencing dulu, Mam…” kata Jimmy sambil bangkit lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai, segera dia kembali ke kamarnya.

“Lama amat sih?” tanya Marlina.

“Jimmy kan sikat gigi dulu, Mam…” ujar Jimmy sambil duduk di pinggir ranjang berdampingan dengan Marlina.

“Kenapa Mama mau melakukan ini dengan Jimmy?” tanya Jimmy. Marlina tersenyum sambil mencium pipi anaknya itu.

“Karena Mama sangat sayang kamu. Juga Mama ingin mendapat kebahagiaan dari orang yang paling Mama sayangi.. Kamu,” ujar Marlina sambil kemudian melumat bibir Jimmy.

Jimmy membalasnya dengan hangat pula. Kemudian Marlina bangkit lalu melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Jimmy terus menatap tubuh ibunya dengan kagum dan nafsu.

“Buka celana kamu dong, sayang,” ujar Marlina.

“Iya, Mam…” ujar Jimmy sambil bangkit lalu melepas celana Hawaiinya.

“Sini, Jim…” ujar Marlina sambil berjongkok.

Tak lama mulut Marlina sudah mengulum kontol Jimmy. Jilatan dan hisapannya membuat Jimmy bergetar tubuhnya menahan nikmat yang amat sangat.

“Mmhh.. Enakk, Mamm…” desah Jimmy sambil agak menggerakkan pinggulnya maju mundur.

Marlina melepas kulumannya, sambil tersenyum menatap wajah Jimmy yang tengadah merasakan nikmat, tangannya terus mengocok kontol Jimmy.

“Gantian, Jim…” ujar Marlina.

“Iya, Mam…” ujar Jimmy.

Marlina lalu naik ke ranjang anaknya. Lalu segera dibukanya paha lebar-lebar.. Jimmy langsung mendekatkan wajahnya ke memek Marlina. Lalu segera dijilatinya seluruh permukaan memek Marlina. Marlina terpejam menahan nikmat. Apalagi ketika jilatan lidah Jimmy bermain di kelentitnya.. Mata Marlina terpejam, tubuhnya bergetar sambil menggoyangkan pinggulnya.

“Ohh.. Enakk.. Teruss, Jimm…” desah Marlina.

Setelah sekian menit Marlina dijilati memeknya, tiba-tiba tubuhnya bergetar makin keras, ditekannya kepala Jimmy ke memeknya, lalu segera dijepit dengan pahanya.. Tak lama…

“Ohh.. Mhh.. Ohh…” desah Marlina panjang. Marlina orgasme.

“Ohh, enak sekali sayang.. Naik sini!” ujar Marlina.

Jimmy naik ke tubuh Marlina. Dengan segera Marlina melumat bibir Jimmy walau masih belepotan dengan cairan dari memek Marlina sendiri.

“Masukkin sayang…” bisik Marlina sambil menggenggam kontol Jimmy dan diarahkan ke memeknya.

Setelah itu, Jimmy langsung memompa kontolnya di memek Marlina. Mata Jimmy terpejam sambil terus mengeluarmasukkan kontolnya.

“Bagaimana rasanya, Jim?” tanya Marlina sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan Jimmy.

“Nikmat sekali, Mam…” ujar Jimmy.

Marlina tersenyum sambil terus menatap mata anaknya. Tak lama, tiba-tiba tubuh Jimmy mengejang, gerakannya makin cepat..

“Jimmy mau keluar, Mam,” bisik Jimmy.

“Mmhh.. Keluarkan sayang, puaskan dirimu…” bisik Marlina sambil memegang pantat Jimmy lalu menekankan ke memeknya keras-keras.

Tak lama.. Crott! Crott! Crott! Air mani Jimmy muncrat banyak di dalam memek Marlina. Jimmy mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Marlina..

“Bagaimana rasanya sayang?” tanya Marlina.

“Sangat nikmat, Mam.. Lebih nikmat daripada oral…” ujar Jimmy sambil mengecup bibir Marlina.

“Jimmy sangat sayang Mama,” ujar Jimmy.

“Mama juga sangat sayang kamu,” ujar Marlina.

Lalu mereka berpelukan telanjang.