<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Esex2&#039;s</title>
	<atom:link href="http://esex2.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://esex2.wordpress.com</link>
	<description>Electronic SEX</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jan 2009 14:19:13 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='esex2.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/dc27d8f5da7dab72aaac8192233c1f85?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Esex2&#039;s</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>OH mama, oh adikku</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/oh-mama-oh-adikku/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/oh-mama-oh-adikku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 14:19:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[sedarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/oh-mama-oh-adikku/</guid>
		<description><![CDATA[Membaca cerita-cerita di rumahseks.blogspot.com ini mengingatkan diriku pada 19 tahun yang lalu saat pertama kalinya aku merasakan nikmatnya seks. Saat itu usiaku 11 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD. Dan orang-orang pertama yang menjadi pemuas nafsuku adalah Mama dan adikku sendiri.
Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun aku mempunyai keingintahuan dan hasrat yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=113&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Membaca cerita-cerita di rumahseks.blogspot.com ini mengingatkan diriku pada 19 tahun yang lalu saat pertama kalinya aku merasakan nikmatnya seks. Saat itu usiaku 11 tahun dan masih duduk di kelas 6 SD. Dan orang-orang pertama yang menjadi pemuas nafsuku adalah Mama dan adikku sendiri.</p>
<p>Sudah sejak berumur 7 atau 8 tahun aku mempunyai keingintahuan dan hasrat yang kuat akan seks. Secara sembunyi-sembunyi aku sering membaca majalah dewasa milik orang tuaku. Biasanya hal itu kulakukan saat sebelum berangkat sekolah dan orang tuaku tidak di rumah. Saat membaca majalah tersebut aku juga beronani untuk memuaskan hasratku.</p>
<p>Pada saat usiaku 10 tahun, hasratku akan pemuasan seks semakin besar, maklum saat itu adalah masa puber. Frekuensiku melakukan onani juga semakin sering, dalam sehari bisa sampai 4 kali. Dan setiap hari minimal 1 kali pasti aku lakukan.</p>
<p>Pada suatu sore ketika aku duduk di kelas 6 SD, saat itu tidak ada seorang pun di rumah. Papa sedang bertugas keluar kota, sedangkan Mama dan adikku sedang mengikuti suatu kegiatan sejak pagi. Aku gunakan kesempatan tersebut untuk menonton blue film milik orang tuaku. Sejak pagi sudah 3 film aku putar dan sudah 4 kali aku melakukan onani. Namun hasratku masih juga begitu besar.</p>
<p>Ada adegan yang sangat aku sukai dan aku sering berkhayal bahwa aku menjadi pemeran pria dalam film itu. Adegan itu adalah saat seorang pria sedang berbaring sementara wanita pertama duduk di atas penis sang pria sambil menggoyangkan pinggulnya dan wanita kedua duduk tepat di atas mukanya sementara sang pria dengan lahapnya menjilati vagina wanita kedua tersebut.</p>
<p>Aku segera menurunkan celanaku bersiap melakukan onani sambil menyaksikan adegan favoritku. Di tengah-tengah kegiatanku dan film sedang hot-hotnya, tiba-tiba terdengar suara pintu pagar dibuka. Saat itu menunjukkan pukul 20.00, ternyata Mama dan adikku sudah pulang. Segera aku kenakan celanaku kembali dan mengeluarkan video dari playernya kemudian meletakkannya kembali di tempatnya. Lalu baru aku membukakan pintu untuk mereka.</p>
<p>&#8220;Eh Wan, tolong bantu masukkan barang-barang dong&#8221;, Mama memintaku membantunya membawa barang-barang.<br />
&#8220;Iya Ma. Shin, di sana ngapain aja? Koq sepertinya capek banget sih?&#8221;, aku menyapa adikku Shinta.<br />
&#8220;Wah, banyak. Pagi setelah aerobik terus jalan lintas alam. Sampai di atas udah siang. Terus sorenya baru turun. Pokoknya capek deh.&#8221;, Shinta menjelaskannya dengan bersemangat.</p>
<p>Setelah itu mereka mandi dan makan malam. Sementara aku duduk di ruang keluarga sambil menonton acara TV. Setelah mereka selesai makan malam, adikku langsung menuju ke kamarnya di atas. Mama ikut bergabung denganku menonton TV.</p>
<p>&#8220;Wan, ada acara bagus apa aja?&#8221;, Mama bertanya padaku.<br />
&#8220;Cuma ini yang mendingan, yang lainnya jelek&#8221;, aku memberi tahu bahwa hanya acara yang sedang kutonton yang cukup bagus.</p>
<p>Saat itu acaranya adalah film action. Setelah itu ada pembicaraan kecil antara aku dan Mama. Karena lelah, Mama menonton sambil tiduran di atas karpet. Tidak lama sesudah itu Mama rupanya terlelap. Aku tetap menonton. Pada suatu saat, dalam film tersebut ada jalan cerita dimana teman wanita sang jagoan tertangkap dan diperkosa oleh boss penjahat. Spontan saja penisku mengembang. Aku tetap meneruskan menonton.</p>
<p>Ketika film sedang seru-serunya, tanpa sengaja aku menatap Mama yang sedang tertidur dengan posisi telentang dan kaki yang terbentang. Baju tidurnya (daster) tersingkap, sehingga sedikit celana dalamnya terlihat. Tubuhku langsung bergetar karena nafsuku yang tiba-tiba meledak. Tidak pernah terpikir olehku melakukan persetubuhan dengan Mamaku sendiri. Tapi pemandangan ini sungguh menggiurkan. Pada usia 29 tahun, Mama masih terlihat sangat menarik. Dengan kulit kuning, tinggi badan 161 cm, berat badan 60 kg, buah dada 36B ditambah bentuk pinggulnya yang aduhai, ternyata selama ini aku tidak menyadari bahwa sebenarnya Mama sangat menggairahkan.</p>
<p>Selama ini aku benar-benar tidak pernah punya pikiran aneh terhadap Mama. Sekarang sepertinya baru aku tersadar. Nafsu mendorongku untuk menjamah Mama, namun sejenak aku ragu. Bagaimana kalau sampai Mama terbangun. Namun dorongan nafsu memaksaku. Akhirnya aku memberanikan diri setelah sebelumnya aku mengecilkan volume TV agar tidak membangunkan Mama. Aku bergerak mendekati Mama dan mengambil posisi dari arah kaki kanannya. Untuk memastikan agar Mama tidak sampai terbangun, kugerak-gerakkan tangan Mama dan ternyata memang tidak ada reaksi.</p>
<p>Rupanya karena lelah seharian, ia jadi tertidur dengan sangat lelap. Dasternya yang tersingkap, kucoba singkap lebih tinggi lagi sampai perut dan tidak ada kesulitan. Tapi itu belum cukup, aku singkap dasternya lebih tinggi lagi dengan terlebih dahulu aku pindahkan posisi kedua tangannya ke atas. Sekarang kedua buah dadanya dapat terlihat dengan jelas, karena ternyata Mama tidak mengenakan bra. Langsung aku sentuh buah dada kanannya dengan telapak tangan terbuka dan dengan perlahan aku remas. Setelah puas meremasnya, aku hisap bagian putingnya lalu seluruh bagian buah dadanya.</p>
<p>Tiba-tiba Mama mendesah. Aku kaget dan merasa takut kalau-kalau sampai Mama terbangun. Tetapi setelah kutunggu beberapa saat tidak ada reaksi lain darinya. Untuk memastikannya lagi aku meremas buah dada Mama lebih keras dan tetap tidak ada reaksi. Walau masih penasaran dengan bagian dadanya, namun aku takut jika tidak punya cukup waktu. Sekarang sasaran aku arahkan ke vaginanya. Mama mengenakan CD tipis berwarna kuning sehingga masih terlihat bulu kemaluannya.</p>
<p>Aku raba dan aku ciumi vagina Mama, tapi aku tidak puas karena masih terhalang CD-nya. Jadi kuputuskan untuk menurunkan CD-nya sampai seluruh vaginanya terlihat. Namun hal itu tidak dapat kulakukan karena posisi kakinya yang terbentang menyulitkanku untuk menurunkannya. Jadi terpaksa aku rapatkan kakinya sehingga aku bisa menurunkan CD-nya sampai lutut. Tapi akibatnya aku jadi tidak bisa mengeksplorasi vagina Mama dengan leluasa karena kakinya kini merapat. Apakah aku harus melepas semuanya? Tentu akan lebih leluasa, tapi jika Mama sampai terbangun akan berbahaya karena aku tidak akan bisa dengan cepat memakaikannya kembali.</p>
<p>Berhubung nafsuku sudah memburu, maka aku putuskan untuk melepaskannya semua. Lalu aku rentangkan kakinya. Sekarang vagina Mama dapat terlihat dengan jelas. Tidak tahan lagi, langsung aku cium dan jilati vaginanya. Lebih jauh lagi, dengan kedua tangan kubuka bibir-bibir vaginanya dan aku jilati bagian dalamnya. Aku benar-benar semakin bernafsu, ingin rasanya aku telan vagina Mama. Tidak lama setelah aku jilati, vaginanya menjadi basah. Setelah puas mencium dan menjilati bagian vaginanya, penisku sudah tidak tahan untuk dimasukkan ke dalam vagina Mama. Aku kemudian berdiri untuk melepas celanaku. Lalu aku duduk lagi di antara kedua kaki Mama dan aku bentangkan kakinya lebih lebar.</p>
<p>Dengan mengambil posisi duduk dan kedua kakiku dibentangkan untuk menahan kedua kaki Mama, aku arahkan penisku ke lubang vaginanya. Tangan kananku membantu membuka lubang vagina Mama sementara aku dorong penisku perlahan. Aku rasakan penisku memasuki daerah yang basah, hangat dan menjepit. Tubuhku gemetar hebat karena nafsu yang mendesak. Setelah beberapa saat akhirnya seluruh penisku sudah berhasil masuk ke dalam vagina Mama dengan tidak terlalu sulit, mungkin karena Mama sudah melahirkan dua orang anak.</p>
<p>Mulailah kugoyangkan pinggulku maju mundur secara perlahan. Kurasakan kenikmatan dan sensasi yang luar biasa. Aku memutuskan untuk memuaskan nafsuku, apa pun yang terjadi. Semakin lama gerakanku semakin cepat. Dengan semakin bernafsu, aku peluk tubuh Mama dan mengulum dadanya, sementara penisku terus bergerak cepat menggosok vagina Mama. Aku sudah tidak peduli lagi apakah Mama akan terbangun atau tidak, biar pun terbangun aku akan terus menggoyangnya sampai aku puas.</p>
<p>Sungguh nikmat. Bahkan lebih nikmat daripada fantasiku selama ini. Setelah aku berjuang keras selama 6 menit, akhirnya aku sudah tidak tahan lagi hingga aku benamkan penisku dalam-dalam ke vagina Mama. Aku rasakan spermaku mengalir bersamaan dengan sensasi yang luar biasa. Seakan melayang sampai-sampai terasa sakit kepala. Aku biarkan penisku beberapa saat di dalam tubuh Mamaku.</p>
<p>Setelah cukup rileks, aku cabut penisku. Aku puas. Aku tidak menyesal. Aku kenakan kembali celanaku. Sebelum aku kenakan kembali CD-Mama, aku puaskan diri dengan meremas-remas vagina Mama. Setelah itu aku rapikan kembali daster Mama. Aku matikan TV dan naik menuju kamarku di atas. Aku langsung rebahan di atas kasurku. Walau aku merasa lelah tapi aku tidak bisa tidur membayangkan pengalaman ternikmat yang baru saja aku rasakan. Pengalaman seorang anak SD yang baru saja melakukan hubungan seks dengan Mamanya sendiri.</p>
<p>Membayangkan hal tersebut saja membuat nafsuku bangkit kembali. Aku berpikir untuk kembali melakukannya dengan Mama. Aku berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga. Namun di depan kamar Shinta adikku, entah apa yang mengubah pikiranku. Aku berpikir, kalau Mama saja tidur sedemikian lelapnya maka tentu Shinta juga demikian. Apalagi selama ini Shinta kalau sudah tidur sulit sekali untuk dibangunkan.</p>
<p>Perlahan aku buka kamarnya dan aku lihat Shinta tertidur dengan menggunakan selimut. Aku masuk ke kamarnya dan aku tutup lagi pintunya. Seperti yang sudah aku lakukan dengan Mama, aku juga sudah bertekad akan menyetubuhi Shinta adikku sendiri. Walaupun ia bangun aku juga tidak akan peduli.</p>
<p>Lalu aku singkap selimutnya dan aku lepaskan dasternya serta tidak CD-nya. Sekarang Shinta sudah benar-benar bugil. Karena Shinta belum memiliki buah dada, sasaranku langsung ke vaginanya. Vaginanya sungguh mulus karena belum ditumbuhi rambut. Aku rentangkan kakinya lalu aku cium dan jilati vaginanya. Sekali-kali aku gigit perlahan. Lalu aku buka lebar-lebar bibir vaginanya dengan jariku dan kujilati bagian dalamnya.</p>
<p>Setelah puas menciumi vaginanya, aku bersiap untuk menghunjamkan penisku ke dalam vagina Shinta yang masih mulus. Aku rentangkan kakinya dan aku tempatkan melingkar di pinggangku. Aku ingin mengambil posisi yang memungkinkanku dapat menyetubuhi Shinta dengan leluasa.</p>
<p>Lalu kuarahkan penisku ke lubang vaginanya sementara kedua tanganku membantu membuka bibir vaginanya. Aku dorong perlahan namun ternyata tidak semudah aku melakukannya dengan Mama. Vagina Shinta begitu sempit, karena ia masih kecil (saat itu ia baru berusia 9 tahun) dan tentu saja masih perawan. Tapi itu bukan halangan bagiku. Aku terus mendorong penisku dan bagian kepala penisku akhirnya berhasil masuk. Namun untuk lebih jauh sangat sulit.</p>
<p>Nafsuku sudah memuncak tapi masih belum bisa masuk juga hingga membuatku kesal. Karena aku sudah bertekad, maka aku paksakan untuk mendorongnya hingga aku berhasil. Namun tiba-tiba saja Shinta merintih. Aku diam sejenak dan ternyata Shinta tidak bereaksi lebih jauh. Walaupun aku tidak peduli apakah Shinta akan tahu atau tidak, tetap saja akan lebih baik kalau Shinta tidak mengetahuinya.</p>
<p>Kemudian aku mulai menggoyang pinggulku, tetapi gerakanku tidak bisa selancar saat melakukannya dengan Mama, karena vagina Mama basah dan tidak terlalu sempit, sedangkan milik Shinta kering dan sempit. Aku terus menggesekan penisku di dalam tubuh Shinta semakin lama semakin cepat sambil memeluk tubuhnya. Ada perbedaan kenikmatan tersendiri antara vagina Mama dan Shinta. Karena vagina Shinta lebih sempit maka hanya dalam waktu 3 menit aku sudah mencapai orgasme.</p>
<p>Kubiarkan spermaku mengalir di dalam vagina Shinta. Aku tidak perlu khawatir karena aku tahu Shinta belum bisa hamil. Aku tekan penisku dalam-dalam dan aku peluk Shinta dengan erat. Setelah puas aku kenakan lagi pakaian Shinta baru aku kenakan pakaianku sendiri. Aku berjingkat kembali ke kamarku dan tertidur sampai keesokan paginya.</p>
<p>Pada pagi harinya aku agak khawatir jika ketahuan. Tapi sampai aku berangkat sekolah tidak ada yang mencurigakan dari sikap Mama maupun Shinta. Sejak saat itu aku selalu terbayang kenikmatan yang aku alami pada malam itu. Aku ingin mengulanginya. Dengan Mama kemungkinannya bisa dilakukan jika Papa tidak di rumah. Jadi akan lebih besar kesempatannya jika melakukannya dengan Shinta saja. Walaupun pada saat melakukannya, aku tidak peduli jika diketahui tetapi tetap akan lebih aman jika mereka tidak mengetahuinya. Maka hampir setiap malam, aku selalu bergerilya ke kamar Shinta. Namun aku hanya berhasil sampai tahap melucuti pakaiannya. Setiap kali penisku mulai masuk, Shinta selalu terbangun.</p>
<p>Empat bulan sejak pengalaman pertama, aku belum pernah lagi melakukan sex. Pada bulan kelima, aku masuk SMP dan pada pelajaran biologi aku mengenal suatu bahan kimia praktikum yang digunakan untuk membius. Saat itu aku langsung berpikir bahwa aku bisa menggunakannya bersetubuh dengan Shinta lagi.</p>
<p>Setelah pelajaran biologi, aku mengambil sebotol obat bius untuk dibawa ke rumah. Pada malam hari setelah semuanya tertidur, aku masuk ke kamar Shinta. Sebuah sapu tangan yang telah dilumuri obat bius aku tempatkan di hidung Shinta. Setelah beberapa saat, aku angkat sapu tangan tersebut dan mulai melucuti pakaian Shinta. Dan setelah aku melucuti seluruh pakaianku, aku naik ke ranjang Shinta dan duduk di antara kedua kakinya.</p>
<p>Aku mengambil posisi favoritku dengan menempatkan kedua kakinya melingkari pinggangku. Aku masukkan penisku ke vaginanya dengan perlahan sampai keseluruhan penisku masuk. Goyangan pinggulku mulai menggoyang tubuh Shinta. Aku memeluk tubuhnya dengan erat dan penisku bergerak keluar masuk dengan cepat. Karena aku yakin Shinta tidak akan terbangun maka aku bisa mengubah posisi sesukaku. Seperti sebelumnya, saat pada puncaknya aku biarkan spermaku tertumpah di dalam vaginanya.</p>
<p>Sejak saat itu hampir setiap hari aku menyetubuhi adikku, Shinta. Sesekali jika Papa sedang di luar kota, aku juga menyetubuhi Mama. Alangkah beruntungnya aku. Dengan ilmu pengetahuan, suatu hambatan ternyata dapat diselesaikan dengan mudah.</p>
Posted in Cerita Sex Sedarah Tagged: adik, anak, mama, sedarah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=113&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/oh-mama-oh-adikku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibu dan anak &#8211; 2</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/ibu-dan-anak-2/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/ibu-dan-anak-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 14:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[sedarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/ibu-dan-anak-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kami terbangun ketika jam dinding di kamar Cindy menunjukkan waktu pukul setengah delapan dan di luar sudah gelap, Cindy melepaskan diri dari tubuhku, memakai dasternya dan keluar kamar untuk menghidupkan lampu. Aku ke kamar mandi dan mandi sekali lagi untuk membersihkan tubuhku dengan siraman air hangat dari shower, setelah selesai aku kembali memakai t-shirt-ku dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=112&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kami terbangun ketika jam dinding di kamar Cindy menunjukkan waktu pukul setengah delapan dan di luar sudah gelap, Cindy melepaskan diri dari tubuhku, memakai dasternya dan keluar kamar untuk menghidupkan lampu. Aku ke kamar mandi dan mandi sekali lagi untuk membersihkan tubuhku dengan siraman air hangat dari shower, setelah selesai aku kembali memakai t-shirt-ku dan celana pendek, lalu kembali ke ruang tengah melihat TV yang sekarang sedang menayangkan acara hiburan.</p>
<p>Cindy masuk ke kamarnya dan kurasa ia juga mandi untuk menyegarkan tubuhnya, karena ketika keluar ia sudah memakai baju kaos ketat dan celana pendek, lalu duduk di sampingku sambil merebahkan kepalanya di dadaku.</p>
<p>&#8220;Sekarang Oom percaya &#8216;kan sama apa yang Cindy bilang..?&#8221; Cindy membuka pembicaraan.<br />
&#8220;Iya, tapi menurut Oom itu tidak baik, karena kamu &#8216;kan masih di bawah umur..!&#8221; aku menjawab.<br />
&#8220;Ah.., Oom ini bagaimana sih, sekarang &#8216;kan umur tidak menjadi soal lagi! Yang penting &#8216;kan dia bisa melakukan seks dengan baik. Oom kuno ahh..!&#8221; Cindy menukas sambil mencubit pahaku dengan manja.</p>
<p>&#8220;Iya lah.. Oom enggak bisa bilang apa-apa lagi, yang penting Mama jangan sampai tahu, ya..!&#8221; aku menjawab sambil memeluk tubuhnya yang langsing.<br />
&#8220;Ahh.., biar aja Mama tahu, &#8216;kan memang ini yang diinginkan Mama..!&#8221; Cindy menukas lagi.<br />
&#8220;Kamu yakin Mama enggak marah kalau tahu kita sudah pernah main seks..?&#8221; tanyaku lagi.<br />
&#8220;Pasti deh Oom, lihat aja nanti kalau Mama pulang, Cindy akan cerita dan pasti Mama enggak akan marah..!&#8221; ia berkata yakin sambil merebahkan tubuhnya di pangkuanku.<br />
&#8220;Ya terserah kamu deh Cindy, Oom cuma nurut saja!&#8221; aku mengiyakan sambil menarik nafas.</p>
<p>Kami masih terus menonton TV ketika terdengar suara mobil memasuki pekarangan, dan tak lama kemudian suara pintu depan dibuka dan Mamanya melangkah masuk ke ruang tengah.<br />
&#8220;Wah.. wah.. rupanya kalian berdua belum tidur ya. Apa kabar, Kak..?&#8221; Vivi menyapaku.<br />
&#8220;Kabar baik, bagaimana arisannya tadi..?&#8221; aku balik menyapanya.<br />
&#8220;Lumayan lah, Vivi bertemu teman-teman dan ngobrol panjang lebar. Cindy, kok kamu begitu.., tiduran di pangkuan Oom, apa enggak malu anak gadis masih kolokan..?&#8221; ia menegur Cindy.<br />
&#8220;Ah, enggak apa-apa kok Ma, malahan Cindy dan Oom barusan selesai dari kamar Cindy..!&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho.., ngapain kamu di kamar sama Oom..?&#8221; Vivi bertanya lagi.<br />
&#8220;Itu lho Ma.., yang dulu Mama pernah bilang.., ternyata Oom hebat sekali Ma.., Cindy belum pernah merasakan kayak begitu, malahan tadi sampai dua kali Ma..!&#8221; Cindy menjelaskan.<br />
&#8220;Jadi kalian berdua tadi.., waduh Cindy.., Mama rugi dong kalau begitu! Kalau tahu tentu Mama tidak pergi arisan tadi, lebih baik disini aja pesta bertiga..!&#8221; Vivi menjawab sambil tersenyum ke arahku lalu masuk ke kamarnya.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian pintu kamar Vivi terbuka separuh dan terlihat Vivi di balik pintu dengan daster putihnya melambaikan tangan mengajak kami masuk.<br />
Cindy berdiri dan menarik tanganku sambil mengatakan, &#8220;Benar &#8216;kan Oom, Mama enggak marah.., malahan sekarang ngajak lagi tuh..! Ayo.., kita ke kamar Mama..!&#8221; Cindy mengajak.<br />
Aku tak dapat menolak lagi dan menurut saja ketika Cindy menarik tanganku memasuki kamar Vivi yang luas dengan tempat tidur ukuran super king size yang dapat menampung empat orang.</p>
<p>Vivi langsung mengunci pintu kamarnya dan mengecilkan lampu, sehingga suasana menjadi sedikit temaram, lalu Vivi mulai melepaskan dasternya, ternyata ia tidak memakai apa-apa lagi di baliknya. Tubuhnya yang putih montok sangat menggiurkan, buah dadanya yang besar dan padat terlihat sangat menantang dengan putingnya yang merah jambu. Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi ketika Cindy melepaskan seluruh pakaianku dan kemudian melepaskan baju kaos dan celana pendeknya, kini kami bertiga sudah telanjang bulat.</p>
<p>Vivi segera menarik tanganku ke arah tempat tidur, lalu ia menelentangkan tubuhku di tempat tidur dan sambil menelungkup di atasku, Vivi mulai menghisap mulutku dengan penuh nafsu. Aku membalas ciumannya dengan bernafsu pula, sementara itu terasa olehku tangan mungil Cindy yang lembut halus menggenggam penisku yang sudah menegang keras dan mulai mengocoknya dengan gerakan lembut yang begitu merangsang.</p>
<p>Nafsuku memuncak dengan cepat. Aku dan Vivi saling menghisap, dan Vivi demikian liarnya sehingga aku agak kewalahan menghadapinya. Hisapannya pada mulutku kuat sekali, sementara tangannya mengelus seluruh tubuhku dari dada, perut, pinggul, dan pahaku. Aku merasa kewalahan menghadapi dua wanita yang begitu liar dan ganas ini.<br />
Tiba-tiba Vivi melepaskan kuluman mulutnya dan berkata, &#8220;Ayo Kak.. isap ini yang kuat..!&#8221; sambil tangannya mengangsurkan buah dadanya yang kanan ke arah mulutku.<br />
Aku segera saja melakukan apa yang dimintanya.</p>
<p>Aku menghisap buah dadanya dengan kuat sambil memainkan lidahku pada putingnya yang merah jambu, membuat Vivi merintih lirih dalam kenikmatan yang dirasakannya.<br />
&#8220;Adduuhh Kaak.. adduuhh.. isap yang kuat Kaak.. lebih kuat Kaak.. aadduuhh.. terus isap Kaak.. aadduuhh.. aaduh..!&#8221;<br />
Tubuh Vivi menggeliat-geliat menahan kenikmatan itu. Keharuman aroma tubuhnya membuatku semakin menggila, ditambah dengan remasan dan kocokan tangan Cindy pada penisku yang tegang luar biasa, membuatku semakin tak dapat menguasai diriku. Kedua tangan Vivi berada di samping kepalaku sambil merenggut rambutku dengan kuat.</p>
<p>Nafasnya terdengar memburu disertai erangan nikmat dan rintihan lirihnya, &#8220;Aadduuhh Kaak.. isap teruuss Kaak.. aadduuhh.. teruus.. lebih kuaat.. aaduuh..!&#8221;<br />
Lalu Vivi melepaskan buah dadanya yang kanan dari mulutku dan meletakkan buah dadanya yang kiri di atas mulutku sambil berkata, &#8220;Sekarang yang ini Kak.., ayo isap yang kuat seperti tadi.., ayo Kaak.. ayo cepat isap.. aadduuh..!&#8221;<br />
Aku menghisapnya dengan kuat dan mengulum putingnya serta memainkan lidahku disitu. Tanganku mengelus vaginanya yang basah dan berdenyut, ini membuat Vivi semakin bernafsu dan menggila demikian liarnya. Renggutan tangannya pada rambutku terasa begitu kuat disertai nafasnya yang terengah-engah dan rintihan nikmatnya.</p>
<p>&#8220;Ayoo Kaak.. aadduuhh.. ayoo isap yang kuaat.. aadduuhh.. teruuss.. aadduuhh..!&#8221;<br />
Nafas Vivi mendengus-dengus menandakan nafsunya yang sudah sangat memuncak. Tubuhnya sudah berada di atas tubuhku dengan kedua pahanya yang mulus lembut terbuka lebar. Tanganku terus mengelus vaginanya yang sudah sangat basah dengan jariku, membuat Vivi semakin liar dan ganas. Pinggulnya mulai bergerak naik turun dan memutar mengikuti irama gerakan jariku di vaginanya yang berdenyut basah. Aku memasukkan jariku dan menggerakkannya keluar masuk.</p>
<p>Vivi semakin liar dan ganas. Pinggulnya bergerak naik turun tak beraturan sekarang. Ia menekankan buah dadanya ke mulutku dan menggerakkannya memutar-mutar. Rintihannya semakin lirih dan sayu.<br />
&#8220;Ayoo Kaak.. masukin sekarang Kaak.. Vivi enggak tahan lagi.. ayoo masukiin.. aadduuhh.. aadduuh..!&#8221;<br />
Terasa tangan Cindy sambil mengocok membawa penisku yang sangat tegang ke arah vagina Vivi yang berdenyut-denyut. Dan ketika terasa ujung penisku menyentuh vaginanya, Vivi menurunkan badannya sedikit, sehingga kepala penisku masuk ke dalam vaginanya yang terasa meremas penisku dengan denyutan amat lembut.</p>
<p>Vivi merintih lirih dalam kenikmatannya, &#8220;Ayoo Kaak.. masukin teruuss.. ayoo.. aadduuhh.. ayoo..!&#8221;<br />
Aku tak dapat menahannya lagi dan menekan ke atas, sehingga seluruh penisku kini masuk ke dalam vaginanya yang berdenyut lembut meremas penisku dengan kuat. Aku mulai memompa Vivi dengan gerakan panjang dan lambat yang membuat Vivi semakin gila.<br />
&#8220;Aaduhh Kaak.. yang cepat Kaak.. aduhh.. lebih cepat lagi.. lagii.. aaduh.. ayoo. aaduuh..!&#8221;<br />
Aku memompa lebih cepat di tengah remasan vagina Vivi yang terasa begitu lembut. Aku memompa semakin cepat dan cepat sambil terus menghisap buah dadanya dengan kuat. Penisku terasa membesar dan membesar di dalam remasan vaginanya yang lembut luar biasa.</p>
<p>Aku tak dapat menahan diriku lagi, dan Vivi juga menjadi semakin liar dan begitu ganas dalam gejolak nafsunya.<br />
&#8220;Aaduhh Kaak.. ayoo Kaak.. lebih cepat Kaak.. lagii.. lagii.. aaduuhh.. aduh..!&#8221;<br />
Kami bergumul dengan asyik penuh nafsu dalam kenikmatan yang tiada taranya, dengus nafas kami menderu-deru dalam berpacu menuju puncak kenikmatan yang menanti kami dalam klimaks yang terasa semakin dekat dan dekat. Tak ada lagi yang dapat menghentikan kami sekarang. Pinggul Vivi berputar dalam gerakan naik turun yang cepat mengikuti gerakan penisku yang memompa semakin cepat dan kuat. Rasanya penisku mulai membesar dan terus membesar disertai rasa nikmat luar biasa dalam remasan vagina Vivi yang basah dan lembut.</p>
<p>Kedua tangan Vivi masih terus mencengkeram rambutku. Hisapanku pada buah dadanya semakin kuat, sehingga hampir seluruh daging buah dadanya masuk ke mulutku. Sementara itu kedua tangan lembut Cindy terus meremas-remas kedua pangkal pahaku. Aku terus memompa Vivi dengan seluruh tenaga yang ada padaku dalam remasan vaginanya yang lembut luar biasa. Penisku terasa semakin membesar dan memanjang. Vivi merintih nikmat tak dapat menahan nafsunya lagi.<br />
&#8220;Aaduuhh Kaak.. aduh.. teruuss Kaak.. lebih cepat lagi Kaak.. aku enggak bisa tahan lagii.. aduhh.. sudah mau keluar Kaak.. mau keluaarr.. aduhh..!&#8221; erangan dan rintihan Vivi menandakan ia sudah sangat dekat dengan klimaksnya.</p>
<p>Aku sendiri juga merasa sudah hampir tiba pada klimaksku. Aku menghisap buah dadanya kuat sekali. Kami sudah sangat dekat pada klimaks kami dan rasanya sudah tak tertahankan lagi. Sudah dekat sekali. Rintihan Vivi semakin kuat.<br />
&#8220;Aaduuh Kaak.. aku mau keluar Kaak.. aduhh.. mau keluaar.. aduhh.. aku keluarr Kaak.. keluarr.. aduuhh Kaak.. keluar Kak.. keluarr.. aduuhh..!&#8221;<br />
Vivi tak dapat menahannya lagi. Tubuhnya menyentak kuat sekali kemudian mulai menggelepar-gelepar dalam kenikmatan orgasmenya yang luar biasa ketika ia meledak dalam puncak klimaksnya disertai remasan vaginanya yang kuat dan lembut pada penisku.</p>
<p>Aku juga sudah tak dapat lagi menahannya ketika kurasakan penisku membengkak besar sekali dalam remasan vagina Vivi dan kenikmatan itu mulai menjalar dari pangkal penisku menuju ke ujungnya. Aku memompa Vivi cepat sekali, dan kini terasa kenikmatan itu sampai di ujung penisku dan tanpa dapat kutahan lagi penisku meledak dahsyat dalam gumpalan-gumpalan orgasme yang nikmat luar biasa diantara remasan vagina Vivi yang begitu lembut. Tubuhku menyentak-nyentak tak dapat menahan kenikmatan itu. Kami berpelukan erat sekali dalam klimaks yang luar biasa nikmatnya.</p>
<p>&#8220;Aaduhh Kaak.. aku keluaarr Kaak.. aduhh.. keluar.. keluar.. aduuh.. adduuhh.. keluaarr.. aduh..!&#8221;<br />
Vivi setengah berteriak menahan kenikmatan saat ia mencapai puncak orgasmenya dalam klimaks yang begitu dahsyat dengan kedua kakinya yang merangkul ketat pada kedua pahaku. Kami masih terus bergumul dalam ledakan klimaks yang sungguh luar biasa dengan tubuh menggelepar-gelepar menahan kenikmatan itu sampai akhirnya kedua tubuh kami terkulai lemah berkeringat dan nafas mendengus kelelahan.</p>
<p>Dalam kelelahan yang amat sangat, akhirnya kami tertidur lelap sekali dan baru terbangun ketika jam dinding di kamar Vivi berdentang sepuluh kali. Malam itu kami menyantap makan malam yang terasa begitu nikmat dengan lahap. Dan setelah selesai membersihkan piring di dapur, kami bertiga kembali ke kamar Vivi untuk sebuah pergumulan seks yang lebih dahsyat lagi.</p>
Posted in Cerita Sex Sedarah Tagged: anak, mama, sedarah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=112&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/ibu-dan-anak-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah cinta ibu dan anak &#8211; 1</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/kisah-cinta-ibu-dan-anak-1/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/kisah-cinta-ibu-dan-anak-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 14:11:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[sedarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/kisah-cinta-ibu-dan-anak-1/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ma.. Mama&#8221; teriakku sambil melambaikan tangan.
Sebelum aku lupa aku bernama Yoyo(nama samaran) umur 16, aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Mama berumur 27 dan Papa berumur 45. Kenapa umur kedua orang tuaku berbeda jauh, karena Mama saat umur 12 tahun hamil karena diperkosa oleh tetangganya waktu di desa Mama dan yang menolong penderitaan Mama adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=111&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&#8220;Ma.. Mama&#8221; teriakku sambil melambaikan tangan.</p>
<p>Sebelum aku lupa aku bernama Yoyo(nama samaran) umur 16, aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Mama berumur 27 dan Papa berumur 45. Kenapa umur kedua orang tuaku berbeda jauh, karena Mama saat umur 12 tahun hamil karena diperkosa oleh tetangganya waktu di desa Mama dan yang menolong penderitaan Mama adalah Papa yang berumur 30 tahun tapi belum menikah. Kata paman Mama sudah manis dan cantik (macan) waktu kecil.</p>
<p>Sekarang Mama tidak mungkin hamil lagi karena Mama mengalami pendarahan rahim yang sangat parah ketika melahirkan aku, itu dikarenakan umur Mama yang masih sangat muda saat melahirkan aku. Aku sangat menyayangi dan mencintai Mama disamping itu ada juga perasaanku ingin menikmati tubuh Mama. Mama sangat cantik, dadanya besar, dan kalau setiap melihat Mama pasti adikku selalu bangun. Apalagi setiap aku melakukan onani dalam anganku aku melakukan hubungan intim dengan Mama.</p>
<p>&#8220;Sayang kamu berhasil, dan kamu juga mendapat ranking 1&#8243; teriak Mama sambil melambaikan tangan kepadaku.</p>
<p>Pukul 19.00, kami sekeluarga makan bersama.</p>
<p>&#8220;Selamat ya Yo, kamu ingin melanjuntukan ke SMU mana?&#8221; tanya Papa.<br />
&#8220;Enggak tahu Pa&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Kok enggak tahu sih, ntar kamu tidak sekolah loh&#8221; kata Mama.<br />
&#8220;Ya sudah ntar Papa cariin tapi kamu harus pertahankan prestasimu yaa&#8221; kata Papa.</p>
<p>Pukul 20.00, aku dan Mama nonton TV bareng. Papa pergi ke Bandung setelah makan tadi karena katanya ada urusan kerja dan Papa akan di Bandung selama 4 hari, dan aku disuruh menjaga Mama. Mama tidak berapa lama pergi ke kamar tidur.</p>
<p>&#8220;Mama tidur dulu ya sayang&#8221; kata Mama.</p>
<p>Aku menonton TV acara misteri, aku yang orangnya takut akan hal-hal gaib pergi ke kamar Mama supaya ditemanin nonton. Aku mendorong kamar Mama yang ternyata tidak terkunci. Aku sangat takjub melihat Mama yang sedang tidur karena Mama tidur hanya memakai BH dan CD. Aku sesak napas tak tahu harus bagaimana karena ini benar-benar kejadian yang tak diduga.</p>
<p>Aku mendekati Mama, Mama kalau tidur susah untuk dibangunkan jadi mungkin ini kesempatanku untuk merasakan tubuh Mama pikirku dalam hati. Dengan perasaan takut kubuka BH Mama. Begitu terbuka, aku sadar bahwa dada Mama sangat indah. Dada Mama tidak kalah indah dengan dada cewek jepang yang aku tonton di blue film. Kuremas-remas kedua dada Mama dengan ritme kadang keras kadang lembut, kuremas berulang-ulang.</p>
<p>&#8220;Akh.. Akh..&#8221; desah Mama walau pelan tapi aku mendengar.</p>
<p>Aku seperti mendapat lampu merah menghisap tetenya kanan kiri secara bergantian sedangkan tangan kiriku kuselipkan ke dalam CD Mama untuk memainkan vagina Mama.</p>
<p>&#8220;Sshh.. Shh&#8221; desah Mama tangan kiriku yang kuselipkan ke CD untuk memainkan vagina Mama terkena lendir Mama yang sudah keluar. Dada Mama yang kuhisap kedua puting Mama mengeras. Setelah puas menghisap dan menjilat puting Mama aku membuka CD Mama yang sudah sedikit basah sama lendir Mama sendiri. Kujilat, kuhisap dengan keras vagina Mama dan kumasukkan lidahku ke dalam vagina Mama.</p>
<p>&#8220;Ohk.. Ssh&#8221; desah Mama dan lendir Mama lagi-lagi keluar.</p>
<p>Aku ganti dengan mengocok vagina Mama dengan jari tangan kanan sementara tangan kiri mengelu-elus klitoris Mama yang membesar.</p>
<p>&#8220;Akhh.. Sshh.. Okhh&#8221; desis Mama agak keras tapi tetap dalam keadaan tidur. Aku tidak peduli Mama bangun atau tidak kukocok tangan kananku yang mengocok vagina Mama dengan cepat.</p>
<p>&#8220;Plok.. Plokk&#8221; bunyi kocokan vagina Mama lalu.<br />
&#8220;Akhh.. Akhh. Yaa.. terus.. sampai&#8221; gunggam Mama yang disertai tubuh Mama mengejang dan mengeluarkan lendir banyak.</p>
<p>Aku tahu pada saat itu Mama pasti orgasme langsung saja kujilat vagina Mama yang masih berlendir.</p>
<p>&#8220;Wah benar-benar vagina Mama wangi dan lendirnya enak&#8221; kataku kubisikkan ke kuping Mama yang aku sendiri tidak tahu Mama masih tidur atau sudah bangun.</p>
<p>Mama masih mengatur napas karena habis orgasme, tapi aku nekat dengan mencium mulut Mama dan memasukkan lidah ku ke dalam mulut Mama. Ternyata Mama membalas kulumanku dan memainkan lidah Mama dengan lidah aku, lama sekali kami saling menghisap dan mengulum. Tapi tanganku tidak diam. Tanganku meremas buah dada Mama, memilin puting Mama yang menyebabakan Mama mendesis.</p>
<p>&#8220;Okhh.. Akhh&#8221;.</p>
<p>Tubuh Mama tiba-tiba mengejang lagi tang menandakan Mama orgasme untuk ke-2 kalinya.</p>
<p>&#8220;Akhh.. Okkhh.. Datang.. Nikmat&#8221; gunggam Mama lagi tetapi tidak menampakkan Mama akan bangun.</p>
<p>Lagi-lagi cairan Mama keluar. Aku tidak berani membuat Mama melakukan oral kepadaku karena takut Mama tahu aku berbuat mesum padanya. Makanya aku langsung memasukkan kontolku ke vagina Mama yang sudah basah. Walaupun vagina Mama basah tapi kontolku ynag besar tidak dapat masuk. Aku akui kontolku besar dan panjang tapi setelah kucoba-coba akhirnya dapat masuk.</p>
<p>&#8220;Okhh&#8230; Shh..&#8221; desah Mama waktu kontolku masuk ke vagina Mama.</p>
<p>Vagina Mama sempit, aku sangat sulit menggerakkan kontolku. Vagina Mama terasa nikmat yang membuat aku melayang syraf-syaraf dan otot-otot vagina Mama memijit kontolku. Mama pun seperti cacing kepanasan menggoyangkan pantatnya tidak beraturan yang membuat kontolku akhirnya masuk seluruhnya ke vagina Mama.</p>
<p>&#8220;Akkhh.. Okhh&#8221; desah Mama sambil mengejang dan itu membuat aku kaget karena Mama orgasme ke-3 kalinya. Dan cairan Mama yang keluar agak memudah kan aku melakukan gerakan kontolku di vagina Mama. Mama merenggangkan kedua pahanya untuk memudahkan aku menggerakkan kontolku. Mula-mula kukocok pelan-pelan, lalu selanjutnya berirama kadang pelan kadang cepat yang semakin membuat Mama mengugam.</p>
<p>&#8220;Akhh.. Teruus nikmat.. Yaa&#8221; aku semakin bersemangat, mulai menganti posisi Mama sekarang Mama telungkup dan pantatnya kubuat menungging, dengan gaya doggie style ini aku merasa nikmat dan Mama pantatnya mengikuti irama goyangan kontolku, otot vagina Mama mengedut dan aku yakin Mama orgasme, ternyata Mama orgasme untuk ke-4 kalinya.</p>
<p>Aku juga mengedut dan muncratlah spermaku di vagina Mama, bahkan aku yakin spermaku menymprot rahim Mama karena kontolku di vagina Mama selalu kena rahimnya.</p>
<p>&#8220;Akhh.. Akhh&#8221; desah Mama.</p>
<p>Aku tak puas lalu kupangku Mama dan wajah kami berhadapan lalu kumasukkan kontolku ke vagina Mama. Plleess.. bunyinya.</p>
<p>&#8220;Akkhh..&#8221; desah Mama.</p>
<p>Kukocok dengan berirama, aku dan Mama orgasme berbarengan sambil kami mengulum. Kudiamkan sebentar kontolku dalam vagina Mama. Kukeluarkan, plop bunyinya. Kucium kening Mama dan kuusap rambutnya. Kulihat Mama sangat lelah dengan keringat yang bercucuran, ku bisikkan ke telinga Mama.</p>
<p>&#8220;Lain kali lagi ya Ma, Mama sangat enak vaginanya&#8221; lalu aku matikan TV dan pergi ke kamar sebelum tidur kulihat jam ternyata jam 3 dini hari aku selesai main sex dengan Mama.</p>
<p>Kesokannya..</p>
<p>Pukul 17.00, aku berenang dengan santainya, aku tidak canggung kalau bertemu Mama begitu juga dengan Mama seperti tidak tahu kejadian semalam.</p>
<p>&#8220;Yo Mama ikut berenang donk&#8221; kata Mama yang begitu aku berbalik melihat Mama sudah memakai bikini untuk berenang, dan aku yakin bahwa Mama tidak memakai apa-apa selain bikini itu. Mama lalu masuk ke kolam dan menuju ke aku.</p>
<p>&#8220;Ajarin Mama berenang donk Yo&#8221; kata Mama agak manja. Aku yang mendapat kesempatan langsung berpikir bagaimana caranya untuk menyetubuhi Mama lagi.</p>
<p>&#8220;Begini ya Ma, Yoyo akan ngajari Mama tapi Mama harus nuruti kata Yoyo. Gimana Ma, mau enggak?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Boleh&#8221; kata Mama sambil tersenyum.<br />
&#8220;Pertama kita pemanasan dulu Ma&#8221; kataku.</p>
<p>Lalu aku membelai dada Mama yang montok. Aku melihat Mama diam saja sambil napas Mama terlihat sesak, aku mulai membuka bikini atas Mama.</p>
<p>&#8220;Jangan Yo ada Bi Inah dan Bi Pur&#8221; kata Mama.<br />
&#8220;Enggak pa.. pa.. Ma enggak ketahuan kok&#8221; balasku.</p>
<p>Mama diam saja, segera aku menjilat dada kanan Mama dan memilin puting kiri Mama dengan tangan.</p>
<p>&#8220;Akhh&#8230; akhh, kamu mulai bandel ya.. Yo&#8221; kata Mama sambil mendesah.</p>
<p>Kucium mulut Mama dan Mama membalas dengan memasukkan lidahnya dan menghisap kidahku serta meludahi aku. Kami bermain lidah sangat lama.</p>
<p>&#8220;Yo masukin donk, Mama enggak tahan nih akhh..&#8221; kata Mama.</p>
<p>Aku lalu menaikkan tubuh Mama ke pinggir kolam lalu membuka bikini yang melindungi vaginanya. Begitu terbuka kulihat lendir Mama sudah keluar segera saja kuhisap, kujilat dan kumasukkan lidahku dalam vagina Mama.</p>
<p>&#8220;Akkh.. Okhh enak Yo vagina Mama sangat enak&#8221; kata Mama.<br />
&#8220;Ma aku kan membuat Mama lebih baik tapi Mama tidak boleh main sex dengan siapapun termasuk Papa&#8221; kataku sambil mengocok-ngocok vagina.<br />
&#8220;Iya Yo, Mama kan budak sex mu, cepat Yo masukkin kontolmu ke vagina Mama akkhh.. Sshh&#8221; jawab Mama.</p>
<p>Aku naik ke pinggir kolam lalu mendudukan Mama di atas pangkuanku dengan wajah kami bertemu &#8220;bleess&#8221; bunyi kontolku ke vagina Mama.</p>
<p>&#8220;Wah, Mama sudah bisa ya nampung kontol Yoyo&#8221; candaku.<br />
&#8220;Kan kemarin sudah latihan ama kamu&#8221; kata Mama.</p>
<p>Lalu aku sadar bahwa Mama kemarin suka melakukan sex denganku. Dengan semangat kupompa dengan cepat.</p>
<p>&#8220;Akkhh.. Yess.. Enak sayang.. terus&#8221; teriak Mama.</p>
<p>Senyumku melebar dan aku pun mencium mulut Mamaku yang dari tadi mendesis dengan disertai pompaanku yang cepat.</p>
<p>&#8220;Sayang.. Saayangg Mama datangg&#8221; teriak Mamaku. Lalu kurasakan mani Mama menyiram kontolku yang masih memompa Mama. Tubuh Mama menegang dan memelukku dengan kuat, tapi tiba tiba Bi Inah kulihat datang.<br />
&#8220;Kenapa sayang kamu mau main di kolam sama Mama?&#8221; tanya Mama.<br />
&#8220;Iya Ma habis Bi Inah datang&#8221;jawabku.</p>
<p>Aku senderan di dinding kolam sedangkan Mama berhadapan denganku. Mama lalu masuk ke air dan tanpa kusadari Mama melakukan oral kepadaku. Mama hisap, jilat pokoknya Mama melakukan yang hebat dan membuat aku mendesah.</p>
<p>&#8220;Akhh&#8221;.<br />
&#8220;Kenapa Den?&#8221; tanya Bi Inah. Aku kaget.<br />
&#8220;Enggak pa.. pa.. Bi&#8221; jawabku.</p>
<p>Lalu Bi Inah ke dalam dan aku orgasme tapi Mama meminum spermaku sekaligus minum air kolam. Kutarik Mama.</p>
<p>&#8220;Enggak pa.. pa.. Ma?&#8221; Tanyaku.</p>
<p>Waktu mama mau menjawab, kucium mulut Mama dan kumasukkan kontolku ke dalam vagina Mama dengan gaya aku seperti mengendong Mama. Lama kami melakukannya dan Mama memeluk erat-erat, tubuhnya mengejang dan orgasme Mama untuk ke-2 kalinya. Aku yang masih bangun menyuruh Mama naik lagi ke luar kolam dan Mama ku suruh menungging. Kali ini aku masukin kontolku ke lubang pantat Mama.</p>
<p>&#8220;Ma, kita anal sex yuk?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Jangan Yo, Mama belum pernah&#8221; jawab Mama.</p>
<p>Tanpa memperdulikan jawaban Mama kumasukkan dengan paksa ke pantat Mama walau pun lama akhirnya masuk juga.</p>
<p>&#8220;Penuh Yo.. Sakit&#8221; teriak Mama.</p>
<p>Aku tak peduli tetap kukocok tak berapa lama Mama menggoyang pantatnya untuk mengimbangi kocokanku.</p>
<p>&#8220;Enak Yo.. Shh.. Yang keras Yo&#8221; teriak Mamaku.</p>
<p>Kupercepat lajuku, kontolku mengedut dan tubuh Mama mengejang lalu kami sama-sama orgasme.</p>
<p>&#8220;Akhh Mama datang sayang&#8221; teriak Mama.<br />
&#8220;Akhh vagina Mama enak juga&#8221; kataku.</p>
<p>Setelah kami selesai sex. Kami mandi berdua lagi dan melakukan sex lagi. Terus-terusan kami melakukannya dimana ada kesempatan, entah saat mandi, malam ketika Papa keluar kota, di mobil, dan kami juga menyewa hotel jika kondisi tidak aman tapi kami ingin melakukan sex. Pokoknya kami melakukannya setiap hari baik itu dimana tempatnya.</p>
<p>Aku memasuki kelas 2 SMU..</p>
<p>Papa ingin merayakan pernikahan Mama dengan Papa dengan liburan dari kantor untuk 3 orang selama 2 hari, aku pun ikut dalam liburan tersebut. Memang Mama masih menepati janjinya untuk bermain sex hanya dengan aku, tapi aku merasa Mama akan mau melakukan hubungan badan karena ini hari pernikahan mereka. Makanya aku pun berhasrat untuk minta ikut. Mama tahu alasan sebenarnya aku ikut makanya Mama mengiyakan permintaanku. Liburan ini benar-benar liburan buat kami tapi tidak untuk Papa makanya liburan akan ulang tahun pernikahan mereka menjadi hubungan sex antara Ibu dan anak.</p>
<p>Pukul 14.00, kami tiba di^^^. Hotelnya bagus. Papa memesan 2 kamar. Aku melihat Papa mencium Mama tapi Mama menolak karena Mama melihat mataku yang menatap Mama dengan tajam.</p>
<p>&#8220;Kamu kok selama ini menolak apapun permintaanku, bahkan untuk kucium aja kamu nolak&#8221; tanya Papa.<br />
&#8220;Malu kan dilihat orang&#8221; hindar Mama.</p>
<p>Telepon Papa berbunyi dan Papa ngomong sebentar lalu menghentikan pembicaraannya. Kamar aku dan ke-2 orang tuaku bersebelahan, aku mau masuk lalu kudengar.</p>
<p>&#8220;Ma, Papa pergi dulu ya maaf, nih ntar Papa baliknya jam 21.00&#8243; kata Papa ke Mama.</p>
<p>Aku masuk kamarku, kutunggu selama 4 menit dan keluar kamar sambil melihat Papa ada atau tidak. Kulihat tak ada Papa maka aku pun membuka kamar Mama yang ternyata tidak terkunci. Aku masuk dan merantai pintu kamar, kulihat Mama sudah telanjang bulat tanpa apa-apa mendekat kepadaku. Diciumnya bibirku, akhirnya kami saling mengulum. Mama menundukkan wajah ke celana jeansku, dan membuka celanaku dan CDku. Dengan cepat aku juga membuka bajuku. Sekarang kami sama-sama telanjang bulat.</p>
<p>Mama mengulum kontolku, menjilat, mengocok.</p>
<p>&#8220;Akhh&#8221; desahku.<br />
&#8220;Kontolmu lebih dahsyat 100x dari pada kontol papamu&#8221; kata Mama.</p>
<p>Dengan kehebatan Mama dalam oral aku orgasme. Cpreett.. Cepreet.. suara dalam mulut Mama dan Mama pun menelan spermaku tanpa ada yang tersisa.</p>
<p>&#8220;Enak sekali spermamu sayang&#8221; kata Mama genit.</p>
<p>Aku membawa Mama ke ranjang lalu aku melakukan oral ke Mama. Kuhisap jilat klirotis Mama, sedangkan tangan kanan mengocok pantat Mama, lalu tangan kiri bermain aktif dengan buah dada Mama, kuremas-remas dengan ganas.</p>
<p>&#8220;Akhh.. Teruuss Yo&#8221; desah Mama.</p>
<p>Kumainkan posisi ini dengan lama, Mama pun mengejang.</p>
<p>&#8220;Akkhh.. Memekku.. Aku.. Datang sayaanngg&#8221; teriak Mama sekeras mungkin.</p>
<p>Kurasakan dimulutku lendir Mama keluar dari vaginanya, sedangkan tangan kananku merasa keluar lendir juga dari lubang pantat Mama. Kujilat dan kutelan lendir Mama baik yang di vagina dan lubang pantat Mama. Kucium Mama lalu kutanya.</p>
<p>&#8220;Siap Mamaku sayang&#8221; Jawab Mama.<br />
&#8220;Terserah kamu dan kontolmu say, pantat, buah dada, vagina Mama semuanya hanya milikmu&#8221;.</p>
<p>Dengan semangat Mama membuka pahanya lebar-lebar, tapi Mama salah karena kumasukkan kontolku ke lubang pantat Mama.</p>
<p>&#8220;Ukhh.. Sshh&#8221; desah Mama.</p>
<p>Dengan Mama yang berlendir dan selama ini kami berhubungan sex, mengakibatkan Mama tidak kesusahan menerima kontolku. Tak berapa lama Mama mengaitkan kedua kakinya ke pinggangku dan tubuh Mama menegang.</p>
<p>&#8220;Oohh.. Yeeaahh&#8221; teriak Mama.</p>
<p>Kurasakan daging di lubang pantat Mama mengurut kontolku dan menyiram dengan lendir Mama. Aku tak peduli Mama orgasme, tetap kupompa lambat, cepat, lambat dengan berirama. Lalu aku menelungkupkan Mama dan membuat Mama menunging, kumasukkan kontolku tetap pada lubang pantat Mama. Mama mengoyangkan pantatnya sesuai gerakanku. Sepertinya gairah Mama naik lagi, karena Mama mendesis.</p>
<p>&#8220;Oohhk.. Uhkk.. Yeaa&#8221; sambil tetap mengimbangi gerakanku. Kontolku semakin besar dan gerakan Mama juga semakin liar,<br />
&#8220;Ma, Yoyo datang&#8221; kataku.<br />
&#8220;Tahan Yo datangnya sama Mama ya sayangg.. Okhh&#8221; balas Mama.</p>
<p>Tak berapa lama aku dan Mama orgasme berbarengan. Di pantat Mama Bercampur benih kasih cinta spermaku dengan mani Mama.</p>
<p>Kulihat jam ternyata sudah jam 18.00, &#8220;Ma pindah yuk ke kamar Yoyo&#8221; ajakku, &#8220;Ntar Papa jadinya enggak bisa main sama Mama&#8221; kataku lagi.<br />
&#8220;Ayuk lagipula Mama inikan milikmu sayang&#8221; kata Mama sambil mengulum mulutku.</p>
<p>Kontan gairahku naik lagi tapi sempat kutahan, dan meminta Mama pindah. Kami pun pindah ke kamarku, lalu kami main lagi.</p>
Posted in Cerita Sex Sedarah Tagged: sedarah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=111&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/kisah-cinta-ibu-dan-anak-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anakku Sayang</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/anakku-sayang/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/anakku-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2009 14:07:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[sedarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/anakku-sayang/</guid>
		<description><![CDATA[Marlina, 35 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Penampilan Marlina sangat menarik. Sebagai wanita yang tinggal di kota besar, Bandung, cara berpakaiannya selalu sexy. Tidak sexy murahan tapi berkelas dan menarik. Dengan tubuh tinggi semampai, dada 36, dan kulit yang putih, walau sudah menikah dan punya anak yang sudah cukup dewasa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=110&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Marlina, 35 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Penampilan Marlina sangat menarik. Sebagai wanita yang tinggal di kota besar, Bandung, cara berpakaiannya selalu sexy. Tidak sexy murahan tapi berkelas dan menarik. Dengan tubuh tinggi semampai, dada 36, dan kulit yang putih, walau sudah menikah dan punya anak yang sudah cukup dewasa, tapi masih banyak lelaki yang selalu menggodanya.</p>
<p>Anaknya yang paling besar, Jimmy, 16 tahun, seorang anak yang yang baik dan penurut pada orang tuanya. Anak kedua, Yenny, 14 tahun, seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Sedangkan suami Marlina, Herman, adalah seorang suami yang cukup baik dan perhatian pada keluarga. Bekerja sebagai seorang PNS di suatu instansi pemerintah.</p>
<p>Kehidupan sexual Marlina sebetulnya tidak ada masalah sama sekali dengan suaminya. Walau banyak lelaki yang menggoda, tak sedikitpun ada niat dia untuk mengkhianati Herman.</p>
<p>Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Marlina ketika suatu hari dia secara tidak sengaja melihat anak lelakinya, Jimmy, sedang berpakaian setelah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Marlina dengan jelas melihat Jimmy telanjang. Matanya tertuju pada kontol Jimmy yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.</p>
<p>Sejak saat itu Marlina pikirannya selalu teringat pada tubuh telanjang anak lelakinya itu. Bahkan seringkali Marlina memperhatikan Jimmy bila sedang makan, sedang duduk, atau sedang apapun bila ada kesempatan.</p>
<p>&#8220;Ada apa si Mam, kok liatin Jimmy terus?&#8221; tanya Jimmy ketika Marlina memperhatikannya di ruang tamu.</p>
<p>&#8220;Tidak ada apa-apa, Jim.. Hanya saja Mama jadi senang karena melihat kamu makin besar dan dewasa,&#8221; ujar Marlina sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kamu sudah punya pacar, Jim?&#8221; tanya Marlina.</p>
<p>&#8220;Pacar resmi sih belum ada, tapi kalau sekedar teman jalan sih ada beberapa. Memangnya kenapa, Mam?&#8221; tanya Jimmy.</p>
<p>&#8220;Ah, tidak. Mama hanya pengen tahu saja,&#8221; ujar Marlina.</p>
<p>&#8220;Kamu pernah kissing?&#8221; tanya Marlina.</p>
<p>&#8220;Ah, Mama.. Pertanyaannya bikin malu Jimmy ah&#8230;&#8221; ujar Jimmy sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Yee.. Tidak apa-apa kok, Jim.. Jujur saja pada Mama. Mama juga pernah muda kok. Mama mengerti akan maunya anak muda kok&#8230;&#8221; ujar Marlina sambil menjewer pelan telinga Jimmy. Jimmy tertawa.</p>
<p>&#8220;Ya, Jimmy pernah ciuman dengan mereka,&#8221; ujar jimmy.</p>
<p>&#8220;ML?&#8221; tanya Marlina lagi.</p>
<p>&#8220;ML apa sih artinya, Mam?&#8221; tanya Jimmy tidak mengerti.</p>
<p>&#8220;Making LOve.. Bersetubuh&#8230;&#8221; ujar Marlina sambil mempraktekkan ibu jarinya diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah.</p>
<p>&#8220;Wah kalau itu JImmy belum pernah, Mam.. Tidak berani. Takut hamil&#8230;&#8221; ujar Jimmy. Marlina tersenyum mendengarnya.</p>
<p>&#8220;Kenapa Mama tersenyum?&#8221; tanya Jimmy.</p>
<p>&#8220;Karena kamu masih sangat polos, sayang&#8230;&#8221; kata Marlina sambil mencubit pipi Jimmy, lalu bangkit untuk menyiapkan segala sesuatunya karena Herman akan segera pulang.</p>
<p>Malam harinya, Marlina, Jimmy, dan Yenny asyik menonton TV, sedangkan Herman sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.</p>
<p>&#8220;Ciuman rasanya gimana sih?&#8221; tanya Yenny ketika menyaksikan adegan ciuman di televisi.</p>
<p>&#8220;Ah, kamu.. Masih kecil! Tidak perlu tahu,&#8221; ujar Jimmy sambil mengucek-ngucek rambut Yenny.</p>
<p>&#8220;Tidak boleh begitu, Jim.. Adikmu harus tahu tentang apapun yang dia tidak mengerti. Biar tidak salah langkah nantinya&#8230;&#8221; ujar Marlina sambil menatap Jimmy.</p>
<p>&#8220;Begini, Yen&#8230;&#8221; ujar Marlina.</p>
<p>&#8220;Ciuman itu tidak ada rasa apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Hanya saja, kalau kamu sudah besar nanti dan sudah merasakannya, yang terasa hanya perasaan nyaman dan makin sayang kepada pacar atau suami kamu&#8230;&#8221; ujar Marlina lagi.</p>
<p>&#8220;Ah, nggak ngerti&#8230;&#8221; ujar yenny.</p>
<p>&#8220;Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Sudah ngantuk&#8230;&#8221; ujar Yenny.</p>
<p>&#8220;Ya sudah, tidurlah sayang,&#8221; ujar Marlina. Yenny kemudian bangkit dan segera menuju kamar tidurnya.</p>
<p>Ketika menyaksikan adegan ranjang di televisi, Marlina bertanya kepada Jimmy, &#8220;Apakah kamu sudah itu dengan pacarmu?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Jimmy belum punya pacar, Mam.. Mereka hanya sekedar teman saja,&#8221; jawab Jimmy.</p>
<p>&#8220;Tapi kok kamu bisa ciuman dengan mereka?&#8221; tanya Marlina lagi sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ya namanya juga saling suka&#8230;&#8221; jawab Jimmy sambil tersenyum juga.</p>
<p>&#8220;Sudah sejauh mana kamu melakukan sesuatu dengan mereka?&#8221; tanya Marlina.</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa kok, Jim.. Bicara terbuka saja dengan Mama,&#8221; ujarnya Marlina lagi. Jimmy menatap mata ibunya sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ya begitulah&#8230;&#8221; kata Jimmy.</p>
<p>&#8220;Ya begitulah apa?&#8221; tanya Marlina lagi.</p>
<p>&#8220;Ya begiutlah.. Ciuman, saling pegang, saling raba&#8230;&#8221; ujar Jimmy malu malu. Marlina tersenyum.</p>
<p>&#8220;Hanya itu?&#8221; tanya Marlina lagi.</p>
<p>Jimmy melirik ke arah ayahnya yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.</p>
<p>&#8220;Mama jangan bilang ke Papa ya?&#8221; ujar Jimmy.</p>
<p>Marlina tersenyum sambil mengangguk. Jimmy lalu beringsut mendekati Marlina.</p>
<p>&#8220;Jimmy pernah oral dengan beberapa teman wanita&#8230;&#8221; ujarnya sambil berbisik.</p>
<p>Marlina tersenyum sambil mencubit pipi Jimmy.</p>
<p>&#8220;Nakal juga ya kamu!&#8221; ujar Marlina sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Rasanya bagaimana?&#8221; tanya Marlina sambil berbisik.</p>
<p>&#8220;Sangat enak, Mam&#8230;&#8221; ujar Jimmy.</p>
<p>&#8220;Tapi Jimmy dengar, katanya kalau punya Jimmy dimasukkan ke punya wanita rasanya lebih enak.. Benar tidak, Mam?&#8221; tanya Jimmy.</p>
<p>Marlina kembali tersenyum tapi tidak menjawab..</p>
<p>&#8220;Kamu mau tahu rasanya, Jim?&#8221; tanya Marlina sambil tetap tersenyum. Jimmy mengangguk.</p>
<p>&#8220;Sini ikut Mama&#8230;&#8221; ajak Marlina sambil bangkit lalu pergi ke ruang belakang. Jimmy mengikuti dari belakang.</p>
<p>Sesampai di ruang belakang, Marlina menarik tangan Jimmy agar mendekat.</p>
<p>&#8220;Ada apa sih, Mam?&#8221; tanya Jimmy.</p>
<p>&#8220;Karena kamu sudah dewasa, Mama anggap kamu sudah seharusnya tahu tentang hal tersebut,&#8221; ujar Marlina dengan nafas agak memburu menahan gejolak yang selama ini terpendam terhadap anaknya tersebut.</p>
<p>&#8220;Ciumlah Mama sayang&#8230;&#8221; kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.</p>
<p>Jimmy diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Marlina terus melumat bibir anaknya itu sambil tanggannya masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy. Lalu dengan lembut diremas dan dikocoknya kontol anaknya. Karena tidak tahan merasakan rasa enak, Jimmy dengan segera membalas ciuman Marlina dengan hangat.</p>
<p>Sambil terus mengocok dan meremas kontol Jimmy, Marlina berkata, &#8220;Kamu ingin merasakan rasanya bersetubuh kan, sayang?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Iya, Mam&#8230;&#8221; ujar Jimmy dengan nafas memburu.</p>
<p>&#8220;Mama juga sama, Jim.. Mama ingin merasakan hal itu dengan kamu,&#8221; ujar Marlina.</p>
<p>&#8220;Kapan, Ma?&#8221; tanya Jimmy sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur karena enak dikocok kontol oleh Marlina.</p>
<p>&#8220;Jangan sekarang ya, sayang&#8230;&#8221; ujar Marlina sambil melepaskan genggaman tangannya pada kontol Jimmy.</p>
<p>&#8220;Yang penting kamu harus tahu bahwa Mama sangat sayang kamu&#8230;&#8221; kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.</p>
<p>&#8220;Jimmy juga sangat sayang Mama,&#8221; ujar Jimmy.</p>
<p>&#8220;Sekarang Mama harus tidur karena sudah malam. Nanti Papamu curiga&#8230;&#8221; ujar Marlina sambil meninggalkan Jimmy.</p>
<p>Jimmy menarik nafas panjang menahan suatu rasa yang tak bisa diucapkan.. Tak lama Jimmy masuk ke kamar mandi.. Onani. Besok paginya, Herman sudah siap-siap pergi kerja sekalian mengantar Yenni ke sekolah karena masuk pagi. Sementara Jimmy masuk sekolah siang. Dia masih tidur di kamarnya.</p>
<p>Setelah Herman dan Yenni pergi, dengan segera Marlina mengetuk dan masuk ke kamar Jimmy. Jimmy masih tidur dengan hanya memakai celana Hawaii saja. Marlina tersenyum sambil duduk di sisi ranjang anaknya tersebut. Tangannya mengusap dada Jimmy. Dimainkannya puting susu Jimmy. Jimmy terbangun karena merasakan ada sesuatu yang membuat darahnya berdesir nikmat. Ketika matanya dibuka, terlihat mamanya sedang menatap dirinya sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Bangun dong, sayang.. Sudah siang,&#8221; ujar Marlina sambil tangannya berpindah masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy.</p>
<p>Diusap, dibelai, diremas, lalu dikocoknya kontol Jimmy sampai tegang dan tegak. Jimmy terus menatap mata MArlina sambil merasakan rasa nikmat pada kontolnya.</p>
<p>&#8220;Mau sekarang?&#8221; tanya Marlina sambil tetap tersenyum.</p>
<p>&#8220;Saya mau kencing dulu, Mam&#8230;&#8221; kata Jimmy sambil bangkit lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai, segera dia kembali ke kamarnya.</p>
<p>&#8220;Lama amat sih?&#8221; tanya Marlina.</p>
<p>&#8220;Jimmy kan sikat gigi dulu, Mam&#8230;&#8221; ujar Jimmy sambil duduk di pinggir ranjang berdampingan dengan Marlina.</p>
<p>&#8220;Kenapa Mama mau melakukan ini dengan Jimmy?&#8221; tanya Jimmy. Marlina tersenyum sambil mencium pipi anaknya itu.</p>
<p>&#8220;Karena Mama sangat sayang kamu. Juga Mama ingin mendapat kebahagiaan dari orang yang paling Mama sayangi.. Kamu,&#8221; ujar Marlina sambil kemudian melumat bibir Jimmy.</p>
<p>Jimmy membalasnya dengan hangat pula. Kemudian Marlina bangkit lalu melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Jimmy terus menatap tubuh ibunya dengan kagum dan nafsu.</p>
<p>&#8220;Buka celana kamu dong, sayang,&#8221; ujar Marlina.</p>
<p>&#8220;Iya, Mam&#8230;&#8221; ujar Jimmy sambil bangkit lalu melepas celana Hawaiinya.</p>
<p>&#8220;Sini, Jim&#8230;&#8221; ujar Marlina sambil berjongkok.</p>
<p>Tak lama mulut Marlina sudah mengulum kontol Jimmy. Jilatan dan hisapannya membuat Jimmy bergetar tubuhnya menahan nikmat yang amat sangat.</p>
<p>&#8220;Mmhh.. Enakk, Mamm&#8230;&#8221; desah Jimmy sambil agak menggerakkan pinggulnya maju mundur.</p>
<p>Marlina melepas kulumannya, sambil tersenyum menatap wajah Jimmy yang tengadah merasakan nikmat, tangannya terus mengocok kontol Jimmy.</p>
<p>&#8220;Gantian, Jim&#8230;&#8221; ujar Marlina.</p>
<p>&#8220;Iya, Mam&#8230;&#8221; ujar Jimmy.</p>
<p>Marlina lalu naik ke ranjang anaknya. Lalu segera dibukanya paha lebar-lebar.. Jimmy langsung mendekatkan wajahnya ke memek Marlina. Lalu segera dijilatinya seluruh permukaan memek Marlina. Marlina terpejam menahan nikmat. Apalagi ketika jilatan lidah Jimmy bermain di kelentitnya.. Mata Marlina terpejam, tubuhnya bergetar sambil menggoyangkan pinggulnya.</p>
<p>&#8220;Ohh.. Enakk.. Teruss, Jimm&#8230;&#8221; desah Marlina.</p>
<p>Setelah sekian menit Marlina dijilati memeknya, tiba-tiba tubuhnya bergetar makin keras, ditekannya kepala Jimmy ke memeknya, lalu segera dijepit dengan pahanya.. Tak lama&#8230;</p>
<p>&#8220;Ohh.. Mhh.. Ohh&#8230;&#8221; desah Marlina panjang. Marlina orgasme.</p>
<p>&#8220;Ohh, enak sekali sayang.. Naik sini!&#8221; ujar Marlina.</p>
<p>Jimmy naik ke tubuh Marlina. Dengan segera Marlina melumat bibir Jimmy walau masih belepotan dengan cairan dari memek Marlina sendiri.</p>
<p>&#8220;Masukkin sayang&#8230;&#8221; bisik Marlina sambil menggenggam kontol Jimmy dan diarahkan ke memeknya.</p>
<p>Setelah itu, Jimmy langsung memompa kontolnya di memek Marlina. Mata Jimmy terpejam sambil terus mengeluarmasukkan kontolnya.</p>
<p>&#8220;Bagaimana rasanya, Jim?&#8221; tanya Marlina sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan Jimmy.</p>
<p>&#8220;Nikmat sekali, Mam&#8230;&#8221; ujar Jimmy.</p>
<p>Marlina tersenyum sambil terus menatap mata anaknya. Tak lama, tiba-tiba tubuh Jimmy mengejang, gerakannya makin cepat..</p>
<p>&#8220;Jimmy mau keluar, Mam,&#8221; bisik Jimmy.</p>
<p>&#8220;Mmhh.. Keluarkan sayang, puaskan dirimu&#8230;&#8221; bisik Marlina sambil memegang pantat Jimmy lalu menekankan ke memeknya keras-keras.</p>
<p>Tak lama.. Crott! Crott! Crott! Air mani Jimmy muncrat banyak di dalam memek Marlina. Jimmy mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Marlina..</p>
<p>&#8220;Bagaimana rasanya sayang?&#8221; tanya Marlina.</p>
<p>&#8220;Sangat nikmat, Mam.. Lebih nikmat daripada oral&#8230;&#8221; ujar Jimmy sambil mengecup bibir Marlina.</p>
<p>&#8220;Jimmy sangat sayang Mama,&#8221; ujar Jimmy.</p>
<p>&#8220;Mama juga sangat sayang kamu,&#8221; ujar Marlina.</p>
<p>Lalu mereka berpelukan telanjang.</p>
Posted in Cerita Sex Sedarah Tagged: anak, mama, sedarah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=110&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2009/01/28/anakku-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Mama</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2008/10/16/nikmatnya-mama/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2008/10/16/nikmatnya-mama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 06:56:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[cerita sex]]></category>
		<category><![CDATA[incest]]></category>
		<category><![CDATA[ngentot]]></category>
		<category><![CDATA[sedarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya perkenalkan nama aku andra. Aku tinggal bersama kedua orang tua aku di kota x.ayah berkerja sebagai seorang supir truck yang jarang pulang.dalam satu bulan,ayah paling banyak pulang ke rumah sebanyak 2 kali.sedangkan mama adalah ibu rumah tangga.umur mama sekitar 40 tahun.tetapi mama masih mempunyai bodi yang sintal dan pantat yang montok.aku adalah anak tunggal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=107&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebelumnya perkenalkan nama aku andra. Aku tinggal bersama kedua orang tua aku di kota x.ayah berkerja sebagai seorang supir truck yang jarang pulang.dalam satu bulan,ayah paling banyak pulang ke rumah sebanyak 2 kali.sedangkan mama adalah ibu rumah tangga.umur mama sekitar 40 tahun.tetapi mama masih mempunyai bodi yang sintal dan pantat yang montok.aku adalah anak tunggal dari perkawinan mereka.kalau ayah lagi pergi ke luar kota,hanya aku dan mama yang tinggal di rumah.</p>
<p>Suatu pagi hari sewaktu ayah pergi keluar kota,mama sedang di dapur lagi menyiapkan sarapan untuk aku sebelum berangkat ke sekolah.perlu pembaca ketahui,aku adalah pelajar sma kelas dua.mama saat itu masih menggunakan gaun tidur yang tipis berwarna putih.saat menyiapkan sarapanku di dapur,ku tak sengaja memperhatikan mama yang lagi membelakangiku.terlihat oleh ku mama tidak menggunakan BH Tetapi masih menggunakan celana dalam berwarna hitam.tampak jelas dari belakang pantat mama yang terlihat montok.ini karena mama menggunakan gaun tidur yang tipis..tak terpikirkan oleh ku sebelumnya untuk bersetubuh dengan mama.pikiran ini timbul karena pemandangan yang indah tadi..he..he…</p>
<p>Lalu mama mendatangi ku e meja makan sambil membawakan sarapan untuk ku..lama ku perhatikan tetek mama di balik daster tipis itu..mungkin karena terlalu asik memperhatikan dadanya,aku tak sadar mama memperhatikan mataku..lalu mama berkata”kenapa sayang..?apa yang kamu lihat?kamu ga suka ya kalo mama ga pake bh?mlm tadi mama tidurnya kepanasan,jadi mama buka aja bh nya..”ga kok ma,andra suka kok liat mama ga pake bh, keliatan seksi banget..”ucapku..apalagi kalo andra boleh pegang tetek mama,pasti andra seneng banget ma..”hus,kamu kan udah gede,gak boleh lagi pegang tetek mama..udah mulai nakal ya..?udah ah,mama mau mandi dulu,ucapnya..”kata mama pura pura marah,tapi aku tau koq mama cuma main-main..otak kotorku sudah bermain,bagaimanapun caranya,aku hari ini harus dapat ngentotin mama..udah ga tahan nih.mumpung ayah belum pulang.bila perlu gak usah sekolah hari ini..</p>
<p>Setelah menghabiskan sarapan,aku pura pura sakit perut..”aduh ma..perut andra kok sakit ya ma?mama sih masak mari gorengnya ke ke pedasan..”ujarku..mama yang lagi mandi tergesa gesa menghampiriku,mungkin karena tergesa nya,mama hanya melilit kan handuk di atas tetek sampai di atas lututnya.”kenapa sayang..?perut kamu sakit ya?maaf in mama ya?mungkin mama maraknya terlalu pedas.ya udah, kamu ga usah ke sekolah dulu hari ini.”ujar mama..”yes,rencana awal ku berhasil kataku dalam hati.. Lalu mama membawaku ke kamarku,setelah merebahkan ku di tempat tidur,mama duduk di pinggir kasur sambil berkata..”mama lanjutin mandi lagi ya sayang?mamakan belum selesai mandinya tadi..”ga mau ma..mama di sini aja temen in andra.andra kan mau salin baju sekolah ga bisa sendiri.kan andra lagi sakit perut..”kataku..iya deh..biar mama yang ganti baju andra..kata mama..”mama tutup pintu kamar dulu ya sayang,ntar ada tamu,malu kan?”setelah itu mama berdiri dan menutup pintu kamar..”mama buka aja handuk nya dong..kan ga ada yang liat,cuma ada andra koq..masa mama malu sama anak sendiri?”pintaku..mama cuma tersenyum,lalu mama membuka handuk nya dan melemparkan handuk nya di atas kasur.sekarang mama sudah bugil di depanku.tetek mama ternyata besar dan masih kelihatan kencang..lalu memek mama di hiasi dengan bulu lembut yang rapi.mungkin mama pandai merawatnya..lalu mama mendekatiku sambil berkata”emang andra ga malu liat mama telanjang kayak gini?”andra senang kog liatnya..mama kayak bidadari kalo lagi bugil seperti ini,kataku..”eh,udah pandai merayu ya..?”canda mamaku..lalu mama membuka kancing bajuku satu persatu..setelah bajuku di buka,mama membuka celana ku pelan pelan,hinga menyisakan cd ku yang di dalamnya sudah ada daging yang mengeras..”eh..apa ini sayang..?”kata mama sambil tersenyum melihat cd ku yang sudah menonjol karena kontol ku sudah mengeras..</p>
<p>“Biar mama urut aja perut kamu,agar ga sakit lagi-kata mama..lalu mama memintaku merebahkan badan di kasur,agar mama lebih leluasa untk mengurut perut ku.terlihat di hadapanku tetek mama menggantung dengan indahnya sewaktu mama menggosokan tangannya ke perut ku..sambil jongkok,mama memijit dan ku lihat memek mama menganga menghadap ke bawah berwarna kemerah merahan..tak lama tangan mama sudah berada di bawah pusar ku..”ma..buka aja cd nya ma..biar enak e urutnya..”ujarku..pelan pelan mama membuka cd ku..dan berkata..kontol mu besar banget sayang?punya ayah mu aja gak sebesar ini..”lalu tiba tiba ku rasakan kontol ku terasa hangat dan basah.setelah ku lihat,ternyata mama memasukkan kontol ku ke mulut nya..”mmmfffhh…enak banget ngemut kontol kamu andraaa…ssshhh..”</p>
<p>Lalu mama menjilat ujung kontol ku sambil mengocok ngocok dengan buas..”ini kan yang kamu mau dari mama sayang..?mama tau kamu pengen ngentot mama kan..?mama akan memberikannya untuk kamu sayang.-asal jangan bilang sama ayah ya..?mama udah ga tahan di tinggalin terus sama ayah kamu..aaaaaahhh..sssrlpp..”(bersambung)</p>
Posted in Cerita Sex Sedarah Tagged: Add new tag, cerita sex, incest, ngentot, sedarah <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=107&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2008/10/16/nikmatnya-mama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gairah Ibu Mertua</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/gairah-ibu-mertua/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/gairah-ibu-mertua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 15:21:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[gairah]]></category>
		<category><![CDATA[Gairah Ibu Mertua]]></category>
		<category><![CDATA[mertua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Perkenalkan dulu namaku Tomy. Sudah satu minggu ini akau berada di rumah sendirian. Istriku, Riris, sedang ditugaskan dari kantor tempatnya bekerja untuk mengikuti suatu pelatihan yang dilaksanakan di kota lain selama dua minggu. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal biasanya ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=105&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Perkenalkan dulu namaku Tomy. Sudah satu minggu ini akau berada di rumah sendirian. Istriku, Riris, sedang ditugaskan dari kantor tempatnya bekerja untuk mengikuti suatu pelatihan yang dilaksanakan di kota lain selama dua minggu. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, kok sendirian dan sepi, padahal biasanya ada istri di sisiku. Memang perkimpoian kami belum dikaruniai anak. Maklum baru 1 tahun berjalan. Karena sendirian itu, dan maklum karena otak laki-laki, pikirannya jadi kemana-mana.</p>
<p>Aku teringat peristiwa yang aku alami dengan ibu mertuaku. Ibu mertuaku memang bukan ibu kandung istriku, karena ibu kandung Riris telah meninggal dunia. Ayah mertuaku kemudian kimpoi lagi dengan ibu mertuaku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu mertuaku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya ayu, dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku. Buah dadanya besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian juga pantatnya juga bahenol banget. Aku sering membayangkan ibu mertuaku itu kalau sedang telentang pasti vaginanya membusung ke atas terganjal pantatnya yang besar itu. Hemm, sungguh menggairahkan.</p>
<p>Peristiwa itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawainanku dengan Riris. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan persiapan perkimpoianku. Mendadak lampu mati. Dalam kegelapan itu, ibu mertuaku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir akan mencari lilin, tetapi justru ibu mertuaku memeluk dan menciumi pipi dan bibirku dengan lembut dan mesra. Aku kaget dan melongo karena aku tidak mengira sama sekali diciumi oleh calon ibu mertuaku yang cantik itu.</p>
<p>Hari-hari berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu mertuaku. Pada saat-saat aku duduk berdua dengan dia, aku sering memberanikan diri memandang ibu mertuaku lama-lama, dan dia biasanya tersenyum manis dan berkata, “Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu”.</p>
<p>Terus terang saja aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan dengan ibu mertuaku itu. Aku kadang-kadang sagat merasa bersalah dengan Riris istriku, dan juga ayahku mertua yang baik hati. Kadang-kadang aku demikian kurang ajar membayangkan ibu mertuaku disetubuhi ayah mertuaku, aku bayangkan kemaluan ayah mertuaku keluar masuk vagina ibu mertuaku, Ooh alangkah…! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu mertuaku. Ibu mertuaku juga sayang sama kami, walaupun Riris adalah anak tirinya.</p>
<p>Pagi-pagi hari berikutnya, aku ditelepon ibu mertuaku, minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang berada di rumah sakit, karena ayah mertuaku sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku sih setuju saja. Sore harinya kami jadi pergi ke rumah sakit, dan pulang sudah sehabis maghrib. Seperti biasa aku selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu mertuaku.</p>
<p>Dalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, “Bu, ngapain sih dulu ibu kok cium Tomy?”.</p>
<p>“Aah, kamu ini kok maih diingat-ingat juga siih”, jawab ibuku sambil memandangku.</p>
<p>“Jelas dong buu…, Kan asyiik”, kataku menggoda.</p>
<p>“Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat Riris lho Tom…, Nanti kedengaran ayahmu juga bisa geger lho Tom”.</p>
<p>“Tapii, sebenarnya kenapa siih bu…, Tomy jadi penasaran lho”.</p>
<p>“Aah, ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh…, anu…, Tom, sebenarnya waktu itu, waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu kok ganteng banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu kok membuat ibu jadi gemes banget deeh sama kamu. Makanya waktu lampu mati itu, entah setan dari mana, ibu jadi pengin banget menciummu dan merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa kau ini, masa lihat menantunya sendiri kok blingsatan”.</p>
<p>“Mungkin, setannya ya Tomy ini Bu…, Saat ini setannya itu juga deg-degan kalau lihat ibu mertuanya. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang kalau Tomy lagi sama Riris, malah bayangin Ibu lho. Bener-bener nih. Sumpah deh. Kalau Ibu pernah bayangin Tomy nggak kalau lagi sama Bapak”, aku semakin berani.</p>
<p>“aah nggak tahu ah…, udaah…, udaah…, nanti kalau keterusan kan nggak baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak dikiranya nyetir sambil pacaran ama ibu mertuanya. Pasti ibu yang disalahin orang, Dikiranya yang tua niih yang ngebet”, katanya.</p>
<p>“Padahal dua-duanya ngebet lo Bu. Buu, maafin Tomy deeh. Tomy jadi pengiin banget sama ibu lho…, Gimana niih, punya Tomy sakit kejepit celana nihh”, aku makin berani.</p>
<p>“Aduuh Toom, jangan gitu dong. Ibu jadi susah nih. Tapi terus terang aja Toom.., Ibu jadi kayak orang jatuh cinta sama kamu.., Kalau udah begini, udah naik begini, ibu jadi pengin ngeloni kamu Tom…, Tom kita cepat pulang saja yaa…, Nanti diterusin dirumah…, Kita pulang ke rumahmu saja sekarang…, Toh lagi kosong khan…, Tapi Tom menggir sebentar Tom, ibu pengen cium kamu di sini”, kata ibu dengan suara bergetar.</p>
<p>ooh aku jadi berdebar-debar sekali. Mungkin terpengaruh juga karena aku sudah satu minggu tidak bersetubuh dengan istriku. Aku jadi nafsu banget. Aku minggir di tempat yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku juga sudah gelap, sehingga tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu mertuaku berangkulan, berciuman dengan lembut penuh kerinduan. Benar-benar, selama ini kami saling merindukan.</p>
<p>“eehhm…, Toom ibu kangen banget Toom”, bisik ibu mertuaku.</p>
<p>“Tomy juga buu”, bisikku.</p>
<p>“Toom…, udah dulu Tom…, eehmm udah dulu”, napas kami memburu.</p>
<p>“Ayo jalan lagi…, Hati-hati yaa”, kata ibu mertuaku.</p>
<p>“Buu penisku kejepit niih…, Sakit”, kataku.</p>
<p>“iich anak nakal”, Pahaku dicubitnya.</p>
<p>“Okey…, buka dulu ritsluitingnya”, katanya.</p>
<p>Cepat-cepat aku buka celanaku, aku turuni celana dalamku. Woo, langsung berdiri tegang banget. Tangan kiri ibu, aku tuntun untuk memegang penisku.</p>
<p>“Aduuh Toom. Gede banget pelirmu…, Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya”.</p>
<p>Aku masukkan persneling satu, dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi ibu mertuaku, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut. Aduuh, gelii… nikmat sekali. Mobil berjalan tenang, kami berdiam diri, tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut.</p>
<p>Sampai di rumahku, aku turun membuka pintu, dan langsung masuk garasi. Garasi aku tutup kembali. Kami bergandengan tangan masuk ke ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kerinduan. Suasana begitu hening dan romantis, kami berpelukan lagi, berciuman lagi, makin menggelora. Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku ciumi ibu mertuaku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang selalu aku bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut.</p>
<p>“Buu, Tomy kangen banget buu…, Tomy kangen banget”.</p>
<p>“Aduuh Toom, ibu juga…, Peluklah ibu Tom, peluklah ibu” nafasnya semakin memburu.</p>
<p>Matanya terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan lidahku aku masukkan ke mulutnya. Ibu agak kaget dan membuka matanya. Kemudian dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu.</p>
<p>“Eehhmm.., Tom, ibu belum pernah ciuman seperti ini…, Lagi Tom masukkan lidahmu ke mulut ibu”</p>
<p>Ibu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya lagi diriku dan berbisik, “Tom, bawalah Ibu ke kamar…, Enakan di kamar, jangan disini”.</p>
<p>Dengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong. Aku merasa tidak enak di tempat tidur kami. Aku merasa tidak enak dengan Riris apabila kami memakai tempat tidur di kamar kami.</p>
<p>“Bu kita pakai kamar tengah saja yaa”.</p>
<p>“Okey, Tom. Aku juga nggak enak pakai kamar tidurmu. Lebih bebas di kamar ini”, kata ibu mertuaku penuh pengertian. Aku remas pantatnya yang bahenol.</p>
<p>“iich.., dasar anak nakal”, ibu mertuaku merengut manja.</p>
<p>Kami duduk di tempat tidur, sambil beciuman aku buka pakaian ibu mertuaku. Aku sungguh terpesona dengan kulit ibuku yang putih bersih dan mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku rebahkan di tempat tidur. Celana dalamnya aku pelorotkan dan aku pelorotkan dari kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina ibu mertuaku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku membayangkan selama ini, vagina ibu mertuaku benar menonjol ke atas terganjal pantatnya yang besar. Aku tidak tahan lagi memandang keindahan ibu mertuaku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah benar-benar tegak sempurna. Ibu mertuaku memandangku dengan tanpa berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini. Aku berbaring miring di samping ibu mertuaku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari bibirnya sampai pahanya yang mulus.</p>
<p>Aku remas lembut buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya aku main-mainkan. Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku basahi dengan cairan vagina ibu mertuaku, dan aku usapkan lembut di clitorisnya. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Sementara peliku dipegang ibu dan dielus-elusnya. Kerinduan kami selama ini sudah mendesak untuk ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu menggeliat-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan akhirnya memegang penisku yang sudah siap sedia masuk ke liang vagina ibu mertuaku.</p>
<p>“Buu, aku kaangen banget buu…, Tomyy kanget banget…, Tomy anak nakal buu..”, bisikku.</p>
<p>“Toom…, ibu juga. sshh…, masukin Toom…, masukin sekarang…, Ibu sudah pengiin banget Toom, Toomm…”, bisik ibuku tersengal-sengal. Aku naik ke atas ibu mertuaku bertelakn pada siku dan lututku.</p>
<p>Tangan kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu mertuaku. Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penisku dituntunnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Ditempelkannya dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya memegang pantatku, menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya memberi komando penisku.</p>
<p>Kaki ibu mertuaku dikangkangnya lebar-lebar, dan aku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke vagina ibu mertuaku. Kepala penisku mulai masuk, makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya. Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar masuk dalam vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.</p>
<p>“Masukkan separo saja Tom. Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini…, Aduuh garis kepalanya enaak sekali”.</p>
<p>Nafsu kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa penisku ke vagina ibu mertuaku. “Buu, Tomy masuk semua, masuk semua buu”</p>
<p>“Iyaa Toom, enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane. Ibu marem banget” kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh kenikmatan. Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang dirapatkan.</p>
<p>Aduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan lagi kalau sudah begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertuaku, mencoblos vagina ibu mertuaku yang licin, yang tebal, yang sempit (karena sudah kontraksi mau puncak). Bunyinya kecepak-kecepok membuat aku semakin bernafsu. Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi.</p>
<p>“Buu Tomy mau keluaar buu…, Aduuh buu.., enaak bangeet”.</p>
<p>“ssh…, hiiya Toom, keluariin Toom, keluarin”.</p>
<p>“Ibu juga mau muncaak, mau muncaak…, Toomm, Tomm, Teruss Toomm”, Kami berpagutan kuat-kuat. Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat ke dalam vagina ibu mertuaku.</p>
<p>Pangkal penisku berdenyut-denyut. menyemprotlah sudah spermaku ke vagina ibu mertuaku. Kami bersama-sama menikmati puncak persetubuhan kami. Kerinduan, ketegangan kami tumpah sudah. Rasanya lemas sekali. Napas yang tadi hampir terputus semakin menurun.</p>
<p>Aku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertuaku.</p>
<p>“Biar di dalam dulu Toom…, Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu nekad saja…, masa’ orang ditindih sekuatnya”, katanya sambil memencet hidungku. Kami miring, berhadapan, Ibu mertuaku memencet hidungku lagi, “Dasar anak kurang ajar…, Berani sama ibunya.., Masa ibunya dinaikin, Tapi Toom…, ibu nikmat banget, ‘marem’ banget. Ibu belum pernah merasakan seperti ini”.</p>
<p>“Buu, Tomy juga buu. Mungkin karena curian ini ya buu, bukan miliknya…, Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga, punya anakya kok ya dimakan, diminum”, kataku menggodanya.</p>
<p>“Huush, dasar anak nakal.., Ayo dilepas Toom.., Aduuh berantakan niih Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih”.</p>
<p>“Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Aku pengin diteteki sampai pagi”, kataku.</p>
<p>“Ooh jangan cah bagus…, kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu. Tapi tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh”, jawab ibuku.</p>
<p>“Tapi buu, Tomy rasanya emoh pisah sama ibu”.</p>
<p>“Hiyya, ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan kabur.., justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh”.</p>
<p>Kami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi penuh kelembutan. Tiada kata-kata yang keluar, tidak dapat diwujudkan dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak, antara seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama lain.</p>
<p>Malam itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan membelai. Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi.</p>
<p>“Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam”.</p>
<p>Malam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya berjalan normal seperti biasanya. Kami saling menjaga diri. Kami menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami. Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih kami.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/esex2.wordpress.com/105/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/esex2.wordpress.com/105/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=105&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/gairah-ibu-mertua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pernikahan Putriku</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/pernikahan-putriku/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/pernikahan-putriku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 15:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan putriku]]></category>
		<category><![CDATA[putriku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Ketika aku mendekati pintu, suara-suara yang gugup semakin terdengar lebih jelas. Mantan istriku, Wati, yang kuceraikan delapan tahun yang lalu sedang memberikan perintah-perintahnya pada seseorang. Aku mendengar suara tawa yang renyah dari putri bungsuku, Erna yang berusia sembilan belas tahun, dan protes dari kakaknya, Endang, sang pengantin wanita.
Dalam usianya yang ke-duapuluhsatu tahun, muda dan keras [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=102&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ketika aku mendekati pintu, suara-suara yang gugup semakin terdengar lebih jelas. Mantan istriku, Wati, yang kuceraikan delapan tahun yang lalu sedang memberikan perintah-perintahnya pada seseorang. Aku mendengar suara tawa yang renyah dari putri bungsuku, Erna yang berusia sembilan belas tahun, dan protes dari kakaknya, Endang, sang pengantin wanita.</p>
<p>Dalam usianya yang ke-duapuluhsatu tahun, muda dan keras kepala, saat menceritakan padaku kalau dia akan menikah, aku terdiam merasa kecewa dan terguncang, tapi aku menyembunyikannya dengan mendoakannya keberuntungan yang terbaik dan sebuah kehidupan yang selalu bahagia. Suara yang lain tidak aku kenal dan kutebak kalau itu adalah suara para pengiring pengantin, gugup dalam kebahagiaan mereka untuk yang lain, barangkali menantikan hari mereka sendiri.</p>
<p>Kurapikan dasi kupu-kupuku dengan bercermin di gang, aku melihat bayangan diriku dalam cermin, mengerutkan dahi merasa tak nyaman memakai pakaian resmi yang membatasi ini. Kuperhatikan diriku, rambutku masih terlihat hitam dan bersyukur karena kulihat bahwa sama sekali belum ada uban di usia empat puluh satu tahun ini. Wajahku terlihat keras karena tahun-tahun travellingku dan sering keluar masuk di lingkungan yang keras yang notabene penuh asap dan alkohol. Dan ketika aku mempelajari mata lelaki dalam cermin ini, aku mendapatkan gambaran akan kehidupan yang menghantarku hingga di sini. Aku jumpa Wati istriku saat kami berdua masih terlalu muda untuk membedakan mana yang baik, dan dia meyakinkanku si pemain gitar ini bahwa kami berdua akan bisa menaklukkan kerasnya dunia.</p>
<p>Dia adalah lulusan sebuah perguruan tinggi dengan pekerjaan tetap dan aku adalah seorang lelaki yang pergi bertualang dari kota satu ke kota lainnya berkeliling negeri ini. Anak-anak gadis kami lahir di awal perkawinan, yang membuat kami masih bertahan bersama sekitar lima tahun lamanya hingga akhirnya kami berdua menyadari bahwa hubungan ini sudah tak dapat dipertahankan lagi. Dia bertemu dengan seorang pria lain yang mempunyai sebuah kehidupan yang stabil, yang menurutnya akan lebih baik untuk kehidupan kedua putri kami.</p>
<p>Perceraian datang dan terjadi seperti perkiraan kami dan aku masih menetap di dekat mereka selama beberapa tahun sampai memperoleh sebuah lompatan besar sebagai pemusik studio di ibu kota. Sejak saat itu, aku mencoba yang terbaik agar tetap bisa berhubungan melalui telepon, lewat kiriman foto, dan tour keliling yang sekali-kali singgah di dekat situ. Dan saat aku menatap dalam kaca, aku melihat sebuah penyesalan yang terpancar ke luar.</p>
<p>&#8220;Ayah, apa yang Ayah lakukan?&#8221;<br />
Aku kembali pada kesadaranku oleh suara putriku, Erna. Dia terlihat cantik bahkan di saat memakai baju pengiring pengantinnya yang menggelikan itu. Kulitnya yang kuning langsat dan rambutnya yang hitam pekat terlihat kontras dibandingkan dengan warna metalik dari pakaian itu. Dia tersenyum dalam kecantikannya yang lugu dan menatapku dengan bingung.<br />
&#8220;Hanya mengenang masa lalu,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Saat seperti ini membuat kamu berpikir kalau kamu telah membuat keputusan yang salah. Bagaimana itu mempengaruhi hidup orang lain.&#8221; Dia menghiburku dengan pelukan dan mengusap bahu dan punggung lenganku.<br />
&#8220;Ayah lakukan apa yang harus Ayah lakukan,&#8221; dia berkata.<br />
&#8220;Aku tidak memusuhi Ayah. Aku akan melakukan hal yang sama bila berada dalam posisi tersebut. Aku akan lebih memilih pengalaman hidup dari pada mengambil keputusan seperti yang diambil Ibu.&#8221;<br />
Pijatannya yang lembut menenangkan keteganganku, dan saat aku telah menjadi lebih santai aku sadari betapa aku menikmati dadanya yang menekan tubuhku. Dengan tinggiku yang sekitar dua belas centimeter lebih tinggi daripada Erna, aku menggerakkan tanganku dari punggungnya yang kecil naik ke bahunya yang telanjang dan menekannya agar merapat padaku. Dia membalas memelukku erat dan tersenyum dengan tidak berdosa. Kutundukkan kepalaku, dan memberinya sebuah ciuman ringan di atas dahinya, tetapi dia malah berjinjit pada jari kakinya dan dengan cepat menemukan bibirku.</p>
<p>&#8220;O-o.., sebaiknya Ibu tidak melihat. Dia mungkin akan cemburu. Atau Endang, mungkin.&#8221; dia tertawa genit. Aku tersenyum pada kelakarnya dan ketika dia berjalan sepanjang aula, aku tidak bisa mempercayai reaksinya pada perlakuanku yang dengan pelan memukul pantatnya.<br />
&#8220;Mungkin nanti, Ayah bisa mencobanya saat aku tidak memakai pakaian gembung ini.&#8221;</p>
<p>Gaunnya turun hingga ke bawah lututnya dan itu terlihat indah, kaki-kaki itu laksana sebuah magnet yang membuat mataku lengket selalu menatapnya saat menggerakkan keindahan ini, saat wanita muda itu melenggang pergi. Aku membayangkan pantat yang manis dan kencang yang dia miliki. Aku juga membayangkan seperti apa rasanya pantat itu di dalam tanganku ketika dia menungganginya naik turun pada penisku, meneriakkan dengan histeris, &#8220;Setubuhi aku, Ayah. Setubuhi putri kecilmu. Masukkan penismu dalam vagina panas putrimu.&#8221; Saat kepergok sedang memandangi dan mengkhayalkannya, aku melihat ke arah putriku yang menengok ke belakang. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat dia berbelok di ujung gang itu.</p>
<p>Kembali ke kenyataan, aku akan mengetuk pada pintu di mana pengantin wanita sedang bersiap-siap ketika mantan istriku Wati membuka pintu itu dan keluar.<br />
&#8220;Rudi, kita harus bicara.&#8221; dia berkata dalam sebuah nada yang memperingatkan. Aku bergeser dari pintu untuk memberinya ruang.<br />
&#8220;Endang ingin agar Anton yang berjalan di sepanjang karpet itu. Sekarang, kamu benar-benar tidak punya alasan untuk mengganggunya.&#8221;<br />
&#8220;Aku tidak peduli,&#8221; aku menjawab deklarasinya. Aku merasa terluka, tapi rasa bersalahku akan kehidupanku berkata bahwa ini adalah konsekwensi dari keputusan hidupku yang lain.<br />
&#8220;Aku harap aku bisa bicara dengannya sebelum upacara,&#8221; kulirik arlojiku. Masih ada waktu satu jam.<br />
&#8220;Aku ingin meluruskan beberapa hal. Ingin mendoakan keberuntungannya. Hal-hal seperti itulah.&#8221;<br />
&#8220;Itu bukan ide yang baik,&#8221; kata Wati.<br />
&#8220;Dia sedang bingung dengan siapa dia akan berjalan di karpet itu nanti. Dia terlalu emosional dan gelisah sekarang. Aku bilang padanya bahwa dia sudah membuat keputusan yang benar dan kamu akan memahami itu.&#8221;</p>
<p>Aku tidak ingin membuat masalah, dan aku bisa lihat aku tidak akan berusaha melewati sang penjaga pintu, maka kuanggukkan kepalaku dan berbalik. Aku berjalan ke dalam ruangan di mana sang pendeta sedang bersiap-siap dan berbicara dengannya untuk beberapa menit sebelum dia pergi untuk meyakinkan para pelayan altar agar tahu apa yang harus mereka lakukan. Dia berkata bahwa aku boleh tetap berada di sini jika aku ingin, kuambil tawarannya dan duduk pada sofa kulitnya menghadap jendela dan melihat orang-orang yang memakai setelan jas resmi dan gaun pesta ke dalam gereja. Pintu terbuka dan menutup di belakangku. Mengira kalau yang masuk adalah sang pendeta, aku berdiri dan bertanya..</p>
<p>&#8220;Apa pekerjaan mereka beres?&#8221;<br />
&#8220;Beres?&#8221; tanya Erna.<br />
&#8220;Ah. Aku pikir kamu si pendeta.&#8221; dia tertawa.<br />
Erna menggantikan tempatku di sofa ketika aku berjalan di sekitar jendela dengan membayangkan hubungan seks sedarah kami. Kakinya bertumpu pada meja kopi di depan sofa menekuk lututnya saat dia mengayunkannya maju mundur, membuka dan menutup. Gaunnya yang mulai tersingkap ke atas pahanya yang memperlihatkan lebih banyak bagian dari paha dalamnya. Gaunnya tersingkap hingga di atas lututnya, suaranya menggesek maju mundur menyelimuti detak jantungku yang terus meningkat. Aku berjalan semakin dekat untuk senyuman lezat yang ingin kucicipi itu tetapi sadar kalau aku tidak bisa melakukannya.</p>
<p>Putriku yang berumur sembilan belas tahun itu sedang menggodaku. Aku sering melihat &#8216;groupies&#8217; untuk mengetahui tentang apa arti dari godaan, tetapi groupies lebih blak-blakan. Semua orang tahu apa yang mereka inginkan. Ada sesuatu yang disembunyikan di sini, kami berdua tahu apa yang akan terjadi. Aku yakin kami berdua bukanlah orang &#8217;suci&#8217;. Tapi godaan ini tak akan berakibat apa pun. Tidak ada apa pun yang bisa. Itu salah. Kami tidak bisa membiarkan sesuatu itu terjadi. Sesuatu yang bersifat seksual.</p>
<p>Dia membuka kakinya lebih lebar, seperti sebuah undangan agar datang menikmatinya. Gaunnya bergerak lebih tinggi dan aku menangkap sebuah pandangan sekilas dari sabuk stocking yang membungkus di sekitar paha indahnya. Erna menurunkan kakinya ke lantai dan aku takut kalau aku akan menerkamnya, aku telah berbuat keterlaluan dengan nafsu pada keindahan pahanya. Paha yang aku inginkan untuk melingkari tubuhku, yang kutelusuri dengan tanganku. Tetapi dia masih tersenyum saat aku memandangnya, memainkan pikiranku. Dia ingin agar aku duduk pada meja di depannya dan aku melakukannya, tidak ingin mengecewakan wanita muda ini.</p>
<p>&#8220;Tetaplah di sini,&#8221; dia berkata.</p>
<p>Aku mematuhi dan menutup wajahku dengan tangan, berusaha meredakan pikiranku yang penuh gairah. Aku ingin kehangatan dari seorang wanita, dan aku ingin merasakan kehangatan itu pada penisku. Aku ingin dadanya di tanganku, pahanya bergesekan dengan milikku. Aku menginginkan perhatian dan cintanya. Itu salah, atau kira-kira itulah yang mereka katakan, untuk bernafsu pada wanita yang aku inginkan. Tetapi melihatnya mengayunkan paha, menggesekkan ke depan dan ke belakang, membayangkan itu adalah vaginanya yang menggesek, menelan penisku, merintih dengan penuh gairah ketika aku memompa keluar masuk tubuhnya, aku telah sampai di garis tepi itu.</p>
<p>Tanganku menutupi wajahku, pikiranku menjadi liar. Aku mendengar suara pintu di seberang ruangan ditutup di belakangku yang diikuti oleh suara mengunci pintu itu. Sepertinya ada dua orang di sana. Aku mengintip dari tanganku dan melihat seorang pengantin wanita yang paling cantik dalam hidupku. Tingginya yang sama dengan adiknya, dia mempunyai sebuah wajah yang sama cantiknya dan bentuk tubuh sempurna yang tak berbeda. Jika rambutnya tidak lebih panjang, pasti akan sulit untuk membedakan mereka. Aku berdiri, penisku masih keras tapi tersembunyi oleh pakaian resmi yang kupakai. Malu dengan pemikiranku akan Erna, aku mendekati Endang yang mengenakan gaun pengantin anggun, menggairahkan.</p>
<p>&#8220;Sayang, kamu cantik sekali,&#8221; kataku.</p>
<p>Paha Endang yang terlihat menyembul dari balik gaun putihnya hampir membuatku meledak di dalam celana dalamku. Jasku sedang dibuka oleh seseorang di belakangku. Aku menoleh dan menemukan Erna. Keinginan yang penuh gairah kembali lagi. Endang tersenyum pada Erna dan melihat mata Endang, aku tahu putri bungsuku pasti tersenyum juga. Aku mulai untuk mencoba katakan sesuatu, tapi Endang memotong..</p>
<p>&#8220;Ayah,&#8221; dia berkata.<br />
&#8220;Ayah yang manis, lembut..&#8221;, katanya lagi.</p>
<p>Dia bergerak semakin dekat kepadaku seiring kurasa tangan Erna mengelus lenganku kemudian menyeberang ke dadaku. Aku pikir aku sedang bermimpi dan aku ingin terbangun agar aku bisa segera melakukan masturbasi dan mengeluarkan bayangan ini dari pikiranku. Tapi ini bukan sebuah mimpi.</p>
<p>&#8220;Aku tahu Ayah merasa bahwa sepertinya Ayah sudah menelantarkan kami. Tapi, kami tahu bahwa Ayah sudah mencoba yang terbaik. Kami tahu bahwa Ibu saja yang sulit menerimanya.&#8221;<br />
&#8220;Kami mencintai Ayah. Waktu yang pernah kita lewati bersama sangat berharga.&#8221; Erna menambahkan ketika dia tetap membelai dadaku, kemudian dia dengan lembutnya mencium leherku. Nafasnya yang halus menggetarkan tubuhku.<br />
&#8220;Sebenarnya, kami sangat menginginkan Ayah,&#8221; kata Endang saat dia telah dengan sepenuhnya merapat.<br />
&#8220;Ini adalah khayalanku,&#8221; katanya sebelum dengan singkat mencicipi bibirku.</p>
<p>Tanganku bergerak ke bawah gaun pengantinnya, meluncur di atas kedua pahanya. Dagingnya yang halus tidak mengenakan stocking. Saat tangan kiriku mencapai kelembabannya, rambut kemaluannya, aku tahu dia ingin disetubuhi. Penisku semakin keras saat lidah bernafsu Endang menjadi lebih agresif dan mengatakan padaku bahwa penis Ayahnya inilah yang dia inginkan di dalam vaginanya.</p>
<p>&#8220;Katakan pada Ayah betapa kamu sangat menginginkan dia, Endang.&#8221;</p>
<p>Erna sudah pindah dari belakangku ke belakang Endang. Saat aku sedang mengelus paha Endang dengan satu tangan dan menggoda bibir vaginanya dengan jari dari tangan yang lainnya, Erna sedang mengelus dada kakaknya dan mencium lehernya dan memegangi telinganya. Kemudian aku merasa tangan Erna bergabung dengan tanganku dalam merasakan vagina kakaknya yang basah.</p>
<p>&#8220;Ohh, ya, Ayah,&#8221; erang Endang lirih. Celana dalamku terlepas dan putriku mendapatkan penisku di dalam genggaman tangannya. Dia menyeka beberapa precum dengan jarinya dan menghisapnya ke dalam mulutnya sebelum menarikku kembali dalam sebuah ciuman.<br />
&#8220;Aku ingin Ayah menyetubuhiku, Ayah. Setubuhi gadis kecilmu yang nakal ini.&#8221;</p>
<p>Vagina Endang yang panas adalah hal terbaik yang pernah dirasakan jariku, dan saat dia menjauh, mereka dibuatnya sedih. Tetapi dia lalu duduk di atas sofa, lutut ditekuk dan kaki mengangkang terbuka, seperti yang dilakukan Erna sebelumnya. Dia menyingkap gaunnya hingga dapat kulihat gundukan dagingnya yang menggairahkan di bawah gaun pengantinnya. Erna memanfaatkan kesempatan yang ditinggalkan kakaknya untuk berlutut dan mengambil penis kerasku ke dalam mulut mudanya. Aku membungkukkan kepalaku dan membelai rambutnya saat dia menghisap batang tebalku. Melalui mataku yang hampir terpejam, aku bisa melihat Endang yang memainkan kelentitnya, menjilat sari buahnya.</p>
<p>Endang tidak bisa membendungnya lagi, dan tak pasti berapa lama hisapan adiknya yang sempurna ini sanggup kuhadapi, sebab dia perintahkan padaku agar datang padanya.</p>
<p>&#8220;Kemarilah dan setubuhi aku, Ayah. Aku ingin penis besar Ayah di dalam vagina panasku sekarang. Aku ingin kita keluar bersama.&#8221;</p>
<p>Erna mendengar rintihan kakaknya dan melepaskanku dari genggamannya, mendekat ke Endang. Kedua putriku mulai saling mencium, Erna memberi kakak kandungnya sebuah rasa dari apa yang akan segera dialami vaginanya. Aku bergerak di antara paha Endang, meluncurkan tanganku pada daging yang paling berharga yang kutahu, putriku.</p>
<p>&#8220;Ohh, Sayang. Kamu sangat indah. Ayah tidak bisa mencegahnya. Penisku terasa sakit karena kamu.&#8221; Aku mengagumi kecantikan dan keindahannya dan mendekatkan wajahku pada vagina basahnya. Sari buahnya sangat merangsang dan lidahku melingkari bibirnya, mengambil cintanya di dalamnya.<br />
&#8220;Ohh, Ayah,&#8221; desahnya saat aku menyisipkan lidahku sedalam-dalamnya, kemudian menarik keluar dan mencicipi daging yang melingkupi kelentitnya.<br />
&#8220;Aku sangat ingin Ayah menyetubuhiku.&#8221;</p>
<p>Penisku tidak bisa kutahan lagi. Aku harus merasakan kehangatan putriku pada penisku. Aku bangkit dengan perasaan yang sangat bersemangat mendapatkan seorang wanita muda yang dengan sepenuhnya mengharapkanmu dalam hidupnya dan melihat Erna yang sedang menghisap puting susu kakaknya. Kupegang penisku mengarah ke daging basah Endang yang membuka, merasakan darahku terpompa di bawah jariku. Pelan-pelan kuselipkan dalam sebuah dorongan pendek, kehangatannya terasa berlimpah saat aku mempertimbangkan konsekwensi tindakan terlarang ini. Aku menginginkan wanita muda ini, putri kandungku sendiri.</p>
<p>Endang melingkarkan kakinya di punggungku, seolah-olah merasakan keraguanku, dan menarikku dengan penuh ke dalamnya.</p>
<p>&#8220;Kumohon, setubuhi aku. Ohh Tuhan, penis besar Ayah terasa hebat. Keluarlah di dalamku, Ayah. Aku ingin merasakan sperma Ayah menetes ke kakiku saat aku katakan janjiku di depan pendeta.&#8221;<br />
&#8220;Ohh, sayang. Vaginamu sangat panas dan ketat di penis besar Ayah. Ini adalah vagina terbaik yang pernah kurasakan. Ayah ingin menyetubuhi kedua putriku melebihi apa pun di dunia ini.&#8221; aku memompanya dengan penuh cinta, tetapi perasaan ini tumbuh terlalu liar untuk dikendalikan.<br />
&#8220;Katakan kamu ingin Ayahmu bagaimana, Sayang.&#8221;<br />
&#8220;Ohh Tuhan. Aku keluar Ayah. Keluarlah bersamaku.&#8221; pinggulnya menusukkan vaginanya lebih ke dalam penisku.<br />
&#8220;Setubuhi putrimu lebih keras,&#8221; Erna memerintahkan.</p>
<p>Aku memandang dari nafsu kusamku untuk melihat kedua anak gadisku saling melilitkan lidahnya dalam mulut mereka satu sama lain.</p>
<p>&#8220;Vaginamu sangat nikmat di penis kerasku, sayang. Ayah akan keluar. Aku mencintaimu sayang.&#8221;</p>
<p>Lalu, kedua tubuh kami meledak dalam sebuah orgasme yang tak terkendalikan. Gelombang demi gelombang spermaku kupompa ke dalam putriku, vaginanya memijat keluar tiap-tiap tetesan akhir, kakinya menekan pantatku merapat kepadanya. Kemudian penisku mengecil di dalam vagina Endang, dan aku memberinya sebuah ciuman penuh kasih.</p>
<p>&#8220;Aku mencintaimu, Endang. Akan kulakukan apa pun untukmu. Untuk kalian berdua.&#8221;<br />
&#8220;Itu bagus,&#8221; kata Erna saat dia melangkah keluar dari pakaian pengiring pengantinnya, bra hitamnya dan sepatu bertumit tinggi yang dia kenakan, sangat cocok padanya.<br />
&#8220;Sebab aku mulai cemburu melihat penis besar Ayah di dalam vagina Kakak.&#8221; dia menggantikan posisiku di antara kaki kakaknya ketika aku bergeser ke samping.</p>
<p>Putri-putriku yang nakal mulai saling berciuman dan aku memindahkan meja menjauh agar aku dapat berdiri di belakang Erna. Endang melepaskan bra adiknya yang memberi efek langsung pada penisku yang mengeras, tetapi itu masih belum sepenuhnya siap benar. Tanganku mengelus pinggul Erna ketika aku menggosokkan penisku pada pantat dan sela pahanya. Aku merasa dia akan bangkit, maka kuberi ruang padanya saat aku menyadari bahwa dia sedang turun pada kakaknya.</p>
<p>Mata Endang terpejam, tapi aku bisa melihat kesenangan yang murni pada wajahnya ketika adiknya mencicipi campuran dari orgasme adik dan ayahnya. Erna telah siap untuk disetubuhi. Dia membentangkan kakinya terpisah dan dengan sepatunya yang bertumit tinggi dan kepalanya turun pada kakaknya, pantatnya bergoyang dengan sempurna. Aku harus mencicipinya dulu. Maka aku turun ke atas lantai di antara kakinya, dan mengangkat kepalaku ke atas, mulai menjilati vagina basahnya. Dia membantuku dengan satu jarinya yang menggosok kelentitnya ketika aku menjilat ke dalam bibir vaginanya.</p>
<p>Rintihannya mengirimku ke garis tepi itu. Kami semua tidak mampu membendungnya lagi. Aku bangkit di belakangnya dengan tanganku memegangi pinggulnya, masih mengayun dan kakinya lebih jauh terpentang, lidahnya masih memberi kenikmatan pada kakaknya lebih lagi. Aku menatap pahanya, ditopang oleh tumitnya, dan teringat dia saat berjalan di sepanjang aula itu. Dengan memejamkan mata, aku menarik kami bersama, penis gemukku menekan jauh ke dalam vaginanya yang hangat dan basah.<br />
&#8220;Ohh, Erna.&#8221; aku mengerang dalam masing-masing ayunanku yang lembut.<br />
&#8220;Sayang, kamu sangat seksi.&#8221; tanganku meremas pantat dan pinggulnya yang bergerak seiring ayunanku.<br />
&#8220;Melihatmu mengoral kakakmu membuat Ayah akan keluar lagi.&#8221;<br />
&#8220;Ayah, penis besar Ayah terasa sangat nikmat bergerak keluar masuk. Pelanlah agar kita dapat keluar bersama.&#8221;</p>
<p>Aku memenuhi harapannya. Bergerak dengan penuh rasa nikmat dalam gerakan lambat saat aku ingin menusuknya yang terakhir kalinya dengan dalam, aku menahan diriku. Bola zakarku mengencang untuk pelepasan, penisku tumbuh lebih gemuk, aku harus melepaskan tali orgasme ini. Pemandangan dari kedua putriku bersama dengan Ayah mereka, perasaan keduanya yang membungkusku, mencintaiku, membuatku berakhir, tak bisa lagi kukendalikan. Perutku mulai mengencang.</p>
<p>&#8220;Sayang, Ayah keluar.&#8221; aku merasa spermaku bergerak dari dalam tubuhku bersiap untuk meledak dengan tiap tusukannya.<br />
&#8220;Keluarlah di dalamku, Ayah. Campurkan dengan milikku.&#8221; Aku sudah menunggu terlalu lama. Kontraksi putriku di sekitar batangku meledakkan sperma dari penisku.<br />
&#8220;Brengsek,&#8221; aku mengumpat dalam hati saat aku tetap memompa anak gadisku, mataku terpejam tak menghiraukan dunia ini.<br />
Sebelum sperma terakhirku habis, aku merasa seseorang memegang lengan tanganku. Itu adalah Endang. Dia berlutut menuju ke pantat adiknya dan menarikku ke luar. Erna berpaling dengan kelelahan yang terlukis pada wajahnya dan tersenyum saat kakaknya berkata..</p>
<p>&#8220;Aku ingin mencium suamiku dengan rasa dari dua orang yang paling kucintai di dalam mulutku. Adik dan Ayahku tersayang.&#8221;</p>
<p>Lalu aku menutup mataku dan merasakan mulut indah lembutnya, memeras sperma terakhir keluar dari tubuhku.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/esex2.wordpress.com/102/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/esex2.wordpress.com/102/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=102&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/pernikahan-putriku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayahku Sendiri</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/ayahku-sendiri/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/ayahku-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 15:09:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[ayahku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kisah saya semasa kecil dan bukan cerita rekaan. Saya membuat cerita ini sebagai gambaran agar tiap wanita terutama remaja putri tidak mudah merangsang lelaki.
Nama saya Maria, 18 tahun, Kejadian ini bermula pada bulan April 1995 di rumah saya di Jakarta Selatan, ketika itu usia saya baru 11 tahun. Saya berasal dari keluarga berada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=99&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini adalah kisah saya semasa kecil dan bukan cerita rekaan. Saya membuat cerita ini sebagai gambaran agar tiap wanita terutama remaja putri tidak mudah merangsang lelaki.</p>
<p>Nama saya Maria, 18 tahun, Kejadian ini bermula pada bulan April 1995 di rumah saya di Jakarta Selatan, ketika itu usia saya baru 11 tahun. Saya berasal dari keluarga berada dan ayah saya seorang dokter spesialis THT.</p>
<p>Ayah saya sangat menyayangi saya dan memang saya adalah anak tunggal. Pada awal bulan Maret 1995, ibu saya pergi ke Kalimantan untuk kerja dinas dari kantornya selama 2 bulan.</p>
<p>Selama 1/2 bulan pertama keadaan biasa-biasa saja, hanya saja saya melakukan kesalahan yang tidak saya sadari yaitu saya menjadi senang memakai daster tipis yang sebatas lutut saja tanpa memakai BH. Ibu saya memang selalu menganjurkan saya untuk memakai BH semenjak 2 bulan yang lalu karena usia saya mulai menginjak 11 tahun. Tetapi karena saya terlalu cuek, maka saya tidak memakai BH saya karena terasa panas kalau dipakai.</p>
<p>Tapi setelah 1/2 bulan kepergian Ibu saya ke Kalimantan, saya mulai memperhatikan gerak gerik ayah saya yang kadang-kadang memperhatikan ke arah paha saya kalau saya sedang menonton (saya suka menonton di lantai dengan mengangkat sebelah kaki saya), tapi saya tidak menghiraukan itu semua.</p>
<p>Kadang pula ketika saya sedang mengerjakan PR ayah saya suka melirik ke arah belahan daster saya. Saya tahu buah dada saya akan terlihat oleh ayah, yang pada saat itu dada saya masih kecil tapi sudah mulai agak terbentuk. Tapi saya berpikir, kenapa harus malu, khan ayah saya sendiri ??</p>
<p>Pada suatu hari saya merasa tidak enak badan. Saya mengatakan ke ayah saya untuk tidak sekolah saya besok. Lalu pada malam harinya ayah saya meminta kepada saya untuk membuka daster saya supaya dipijit saja agar lekas sembuh. Mulanya saya merasa agak risih juga sih…. tapi yah sudahlah ! Lalu saya membuka daster saya dengan badan membelakangi ayah saya….soalnya saya agak malu juga !! lalu saya tidur tengkurap dengan hanya memakai CD saja . Ayah saya lalu memijit betis saya dengan lembut dan perlahan-lahan kearah paha saya. Saya merasa geli juga soalnya pijitannya itu lebih pantas disebut belaian !</p>
<p>Lalu tangan ayah saya mulai merayap ke arah pangkal paha saya. Di situ saya merasa perasaan campur aduk antara geli, risih, malu dan nikmat ! Saya jadi bingung, jantung saya berdebar-debar, keringat mulai keluar. Sesekali jari ayah saya menyentuh belahan vagina saya yang masih tertutup CD. Saya menengok ke arah kanan saya…astaga ! ayah saya tidak memakai CD di balik belahan celana pendeknya ! Saya melihat sebuah “ular” yang berotot, tegang dan besar dengan kepalanya bewarna pink.</p>
<p>Tiba-tiba tangan ayah saya merayap ke dalam CD saya dan menyentuh vagina saya.<br />
“Geli yah !” kataku<br />
Lalu dia menjawab,<br />
“Ria..biar ayah buka saja celana dalammu supaya ayah bisa memijit bagian pantatmu, soalnya penyakitnya mungkin ada di bagian tulang ekor kamu !”.</p>
<p>Saya menganggukkan kepala saya lalu ayah membuka CD saya (tubuh saya masih tengkurap saat itu). Lalu dia mulai memijit pantat saya dengan lembut dan perlahan. Tangannya kadang membuka belahan pantat saya..saya jadi malu juga..pasti terlihat anus dan belahan vagina saya ! Dia lalu berkata:<br />
“Ria coba balikkan badanmu supaya ayah bisa memijit perutmu”.<br />
Saya bingung ! Akhirnya saya membalikkan badan saya dan terlihatlah dada saya yang mulai terbentuk sedikit dengan pentil bewarna merah jambu dan vagina yang belum tumbuh 1 bulu pun ! Ayah saya mulai memijit perut saya lalu ke dada saya dan menyentuh puting susu saya.<br />
“Geli yah !” kata saya.<br />
Lalu ayah saya menurunkan tangannya ke perut saya lagi dan akhirnya ke bagian vagina saya dan sekali lagi saya berkata<br />
“Geliiiii yahh!”</p>
<p>Lalu dengan tenang dia berkata :<br />
“Ria…tenang saja, ayah kan dokter, jadi ayah tahu cara menyembuhkan kamu…biar ayah lihat bagian dalam vagina mu, mungkin disitu ayah bisa ngeliat gejala penyakitnya”<br />
Saya heran..kok ngeliatnya di dalam vagina saya padahal saya kan cuma nggak enak badan !</p>
<p>Yah sudah ! akhirnya saya melentangkan kedua kaki saya. dia mulai membuka bagian vagina saya dengan jarinya. Terlihatlah sudah seluruh bagian dalam vaginaku ! Malu,risih,nikmat, dan perasaan sedikit sakit terasa dalam hatiku, saya hanya bisa menutup mata saya !</p>
<p>Tiba tiba saya merasa ada belaian yang basah di vaginaku….astaga ! dia menjilat vaginaku….malu dan nikmat bercampur menjadi satu. Saya hanya bisa melenguh saja dan memegang kepalanya. Lalu kepalanya berpindah ke dadaku dan menghisap puting susuku. Nikmatnya ! geli dan nikmat !</p>
<p>Akhirnya dia membuka baju dan celana pendeknya dan menyodorkan batang zakarnya ke mulutku,<br />
“Ria…hisaplah penis ayah, enak kok ! jangan malu-malu, saya khan ayah mu sendiri !”<br />
Lalu saya mulai menjilat-jilat, dan akhirnya mengulum sebagian zakar ayahku (soalnya penis ayahku besar). Tangannya juga membelai sebelah dadaku dan vaginaku.</p>
<p>Dia mengubah posisi ke atas tubuhku sambil memegang ke-2 kakiku dan berusaha memasukkan batangnya ke mulut vaginaku ! Tapi dia kelihatannya kesulitan, lalu tangannya memegang zakarnya dan mendorong zakarnya dan akhirnya tembuslah kepala zakarnya ke mulut vaginaku. Aku merasa kesakitan<br />
” Sakit yah !”…tapi itu hanya sementara.<br />
Saya merasa nikmat kemudian ! Dia mulai menghempas-hempaskan tubuhnya dan saya hanya pasrah sambil menikmati goyangan tubuhnya.</p>
<p>Akhirnya saya merasa ingin kencing tapi kencing kali ini beda ! Terasa nikmat kencing saya dan saya merasa lemas.<br />
“Ngilu yah”<br />
itu yang saya katakan karena dia saya masih saya bergoyang diatas badan saya. “Sebentar lagi sayang”<br />
Tiba-tiba dia memegang dengan keras kedua dada saya dan akhirnya jatuh lemas di atas tubuh saya.<br />
” Ria, kamu cantik sekali !, jangan bilang ke Ibu, janji loh ?”<br />
Saya hanya mengangguk kepala saya.</p>
<p>Kejadian ini terus berlangsung sampai sekarang. Hendaknya kepada remaja putri untuk tidak bergaya merangsang kepada lelaki manapun juga !</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/esex2.wordpress.com/99/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/esex2.wordpress.com/99/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=99&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/ayahku-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mama di taman</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/mama-di-taman/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/mama-di-taman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 15:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Mama saya, seperti kebanyakan wanita wanita lain, sangat senang dengan
tanaman. Di usia nya yang separuh baya, hampir sebagian waktunya
dihabiskan
untuk mengurusi bunga-bunganya yang nyaris memenuhi seluruh halaman
rumah
kami yang luas. Setiap sore mama selalu berada di halaman belakang,
terbungkuk &#8211; bungkuk merawat bunga-bunga kesayangannya. Jika liburan
begini,
biasanya sepanjang sore kubahiskan waktu untuk memperhatikan Mama.
Terus
terang, saya senang sekali mencuri &#8211; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=97&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Mama saya, seperti kebanyakan wanita wanita lain, sangat senang dengan<br />
tanaman. Di usia nya yang separuh baya, hampir sebagian waktunya<br />
dihabiskan<br />
untuk mengurusi bunga-bunganya yang nyaris memenuhi seluruh halaman<br />
rumah<br />
kami yang luas. Setiap sore mama selalu berada di halaman belakang,<br />
terbungkuk &#8211; bungkuk merawat bunga-bunga kesayangannya. Jika liburan<br />
begini,<br />
biasanya sepanjang sore kubahiskan waktu untuk memperhatikan Mama.<br />
Terus<br />
terang, saya senang sekali mencuri &#8211; curi pandang pada gundukan<br />
payudaranya<br />
yang hampir menyembul dari belahan dasternya, pahanya yang sekali-<br />
sekali<br />
tersingkap jika Mama menungging, atau memeknya yang membayang dari<br />
celana<br />
dalamnya yang jelas terlihat sewaktu Mama berjongkok.</p>
<p>Sewaktu waktu, dengan tidak sengaja, Mama membungkuk kearah ku yang<br />
lagi<br />
asyik duduk di gazebo. Kedua belah payudaranya yang tanpa beha hampir<br />
seluruhnya keluar dari leher dasternya. Kedua putting payudaranya<br />
jelas-jelas terlihat. Mungkin karena gerah, Mama tidak mengancingkan<br />
hampir<br />
separo kancing dasternya. Aku hanya bisa melongo, batang kontolku<br />
langsung<br />
ereksi, kalau nggak cepat cepat aku ngacir, mungkin Mama bisa melihat<br />
separo<br />
batang kontolku yang udah keluar dari pinggang celanaku.</p>
<p>Suatu hari, aku benar benar ketiban rezeki. Nggak sengaja Mama<br />
memberikan<br />
tontonan yang membuatku terangsang berat. Seperti biasa aku sedang<br />
duduk<br />
duduk di gazebo, bertelanjang dada seperti biasa, aku hanya memakai<br />
blue<br />
jeans ketat kegemaranku. Sambil mengembalikan kesadaranku, maklum<br />
habis<br />
tidur siang, aku menemani Mama di halaman belakang. Sambil ngobrol<br />
mengenai<br />
acara wisudaku, Mama asyik dengan bunga-bunganya. Entah kenapa,<br />
mungkin<br />
karena keasyikan ngobrol, Mama nggak sengaja jongkok tepat di depan<br />
mataku.<br />
Walaupun sedikit tertutup dengan tumpukan pupuk, dan ranting ranting<br />
daun,<br />
aku jelas &#8211; jelas melihat gundukan memeknya, mulus tercukur tanpa satu<br />
helai<br />
rambut. Ya ampun, mungkin Mama lupa memakai celana dalam !!!. Kontan<br />
aku<br />
jadi terangsang luar biasa. Saking terpananya, aku nggak peduli lagi<br />
sama<br />
batang kontolku yang udah menerobos keluar, menjulang gagah sampai ke<br />
atas<br />
pusarku. Aku baru sadar sewaktu Mama terbelalak melihat kontolku.<br />
Jelas-jelas saja Mama kaget, saking panjangnya,kontolku kalo lagi<br />
ereksi<br />
bisa sampe ke ulu hati.</p>
<p>Dengan wajah merah karena jengah, aku bangkit dan ngacir ke gudang<br />
belakang.<br />
Di tengah kegelapan ku buka resluiting jensku dan mulai mengocok<br />
kontolku.</p>
<p>Tiba tiba pintu terbuka, membelakangai sinar matahari sore &#8211; Mama<br />
berdiri di<br />
pintu, tangan kanannya masih memegang sekop kecil. Mama menatap kontol<br />
raksasaku, dan jembutku yang lebat, kemudian menatap wajahku dan<br />
badanku<br />
yang kekar. Aku hanya bisa melongo, tanpa berusaha menghentikan<br />
kocokan ku.</p>
<p>&#8220;Ya ampun !&#8221;, hanya itu yang keluar dari mulut Mama, entah apa yang<br />
dia<br />
maksudkan. Ku kocok sekali lagi kontolku, membiarkan Mama melihat<br />
kedua<br />
tanganku yang menggenggam erat pangkal dan ujung kontolku yang mulai<br />
memerah.</p>
<p>Ku kocok lebih cepat lagi, sementara tangan kananku menarik celana<br />
dalamku<br />
ke bawah, biar Mama melihat kedua biji kontolku yang bergerak ke sana<br />
ke<br />
sini seirama kocokanku pada batang kontolku.</p>
<p>Terpana oleh pemandangan di depan matanya, atau mungkin karena melihat<br />
ukuran kontolku yang super besar, Mama beranjak masuk sambil menutup<br />
pintu<br />
gudang di belakangnya. Mama mendekatiku sambil mulai melepas satu<br />
persatu<br />
kancing dasternya dan kemudian melepaskannya, benar ternyata Mama<br />
tidak<br />
memakai beha. Kedua bulatan tetek-nya benar- benar membuatku<br />
terangsang,<br />
walaupun sudah turun namun ukurannya hampir sebesar melon. Minimnya<br />
cahaya<br />
yang masuk ke gudang membuat kedua pentilnya tidak jelas terlihat<br />
warnanya.<br />
Mungkin coklat<br />
kehitaman. Aku hanya bisa berkata lirih , &#8220;Oh, Mama, tetek Mama benar-<br />
benar<br />
hot!!&#8221;.</p>
<p>Dengan beberapa langkah, aku kedepan menyongsong Mama, sambil tanganku<br />
berusaha menggapai salah satu bulatan payudaranya. Sambil berjalan,<br />
kontolku<br />
tegak menjulang di udara. Aku benar &#8211; benar terangsang.</p>
<p>Ku peluk pinggang Mama, mulutku terbuka dan lidahku menjulur keluar.<br />
Ujung<br />
lidahku akhirnya menyentuh pentil susu Mama yang besar dan kecoklatan.<br />
Astaga&#8230; kontolku serasa akan meledak. Tergesa gesa, Aku mengisap dan<br />
meremas<br />
teteknya yang lain dengan tanganku. Kontolku yang terjepit diantara<br />
perutku<br />
dan perut Mama tiba tiba mengeras lalu&#8230; cruttttttt cruttttttt<br />
crutttttttttt.. semprotan demi semprotan kontolku meledak menyemburkan<br />
cairan putih kental membasahi sebagian perut dan tetek Mama.</p>
<p>Tanpa perubahan ekspresi, Mama dengan tenang menggenggam batang<br />
kontolku dan<br />
meremas ujung nya, cairan maniku keluar lagi membasahi telapak<br />
tangannya. Di<br />
sela sela kenikmatan yang kurasakan aku hanya bisa menatap ke bawah,<br />
air<br />
maniku membasahi seluruh tangan dan lengan Mama, beberapa semprotan<br />
jatuh ke<br />
pangkal paha Mama.</p>
<p>Masih di tengah keremangan gudang, tanpa banyak kata-kata, Mama meraih<br />
tanganku dan menggosok-gosokan ke memeknya. Terasa gatal tanganku<br />
sewaktu<br />
telapak tanganku bergesekan dengan permukaan memeknya yang dipenuhi<br />
bulu-bulu pendek. Seumur hidupku baru kali inilah akud dapat melihat<br />
memek<br />
Mama dari dekat. Belum ada lima menit, aku keluar lagi, kali ini air<br />
maniku<br />
menyemprot tepat di<br />
permukaan memeknya.</p>
<p>Kali ini Mama memandangku sambil tersenyum. Aku jadi salah tingkah.</p>
<p>Walaupun sudah dua kali aku keluar, batang kontolku masih keras,<br />
bahkan<br />
semakin keras saja, agak sakit jadinya. Mama semakin membuatku<br />
terangsang<br />
dengan belaian-belaian tanganku pada memek dan kedua buah payudaranya.</p>
<p>Aku membungkuk ke depan dan mulai mengulum tetek Mama sementara<br />
tanganku<br />
yang lain meremas remas tetek yang lain. Membelai dan memencet<br />
pentilnya<br />
yang mengeras. Kedua tangan Mama menggenggam batang kontolku dan aku<br />
mendorong ke memeknya</p>
<p>Di tengah desisan-nya Mama melenguh ketika ujung kontolku menyentuh<br />
memeknya. Di tariknya tanganku ke dalam. Mama kemudian duduk di bibir<br />
bak<br />
mandi dan kemudian mengangkang-kan pahanya. Ku himpitkan badanku ke<br />
tubuh<br />
Mama, wajahku ku susupkan dicelah kedua bukit payudaranya.</p>
<p>Ku hisap yang satu.. kemudian yang lain. Tangan Mama lagi lagi<br />
mencengkram<br />
batang penisku dan kemudian mendorongnya masuk ke dalam memeknya.<br />
Kurasakan<br />
hangat dan basah, dan kemudian kudorong dengan pinggulku, hampir<br />
setengahnya, kemudian kurasakan sudah tidak bisa masuk lagi.</p>
<p>&#8220;Sshh&#8230;egh..!&#8221; Mama mendesis.</p>
<p>Aku mulai memompa kontolku keluar dan masuk, mulutku tetap mengulum<br />
kedua<br />
teteknya bergantian. Semakin lama semakin cepat aku memompa, dan<br />
kemudian<br />
terasa aku akan keluar lagi.</p>
<p>Mama mulai ikut memompa, menyambut tusukkan-ku. Menggelinjang dan<br />
mengerang.<br />
Tidak berapa lama kemudian Mama mengerang agak keras, dan aku bisa<br />
merasakan<br />
badannya tergetar sewaktu ia berteriak tertahan. Batang Kontolku<br />
kemudian<br />
menjadi semakin basah saat cairan hangat dan kental keluar dari<br />
memeknya.</p>
<p>Aku masih terus bertahan memompa, dan kemudian, sewaktu aku merasa<br />
akan<br />
keluar, kudekap pantat Mama erat-erat dan ku benamkan batang kontolku<br />
sedalam dalamnya. Kontolku kemudian meledak, semprotan demi semprotan<br />
air<br />
mani keluar, jauh didalam memek Mama. Separuh orgasme, kutarik keluar<br />
dan<br />
kukocok, air mani keluar lagi membasahi tetek Mama. Kugosok &#8211; gosokkan<br />
ujung<br />
penisku di kedua pentil nya yang membesar. Kemudian kutekan kedua<br />
bulatan<br />
payudara Mama dan menyusupkan batang kontolku di celah antara<br />
keduanya.<br />
Kugosok gosok kan terus sampai air maniku berhenti keluar. Mama<br />
tersenyum,<br />
dagu, leher dan dada Mama penuh dengan air maniku. Entah berapa banyak<br />
air<br />
mani yang kusemprotkan waktu itu. Pada semprotan yang terakhir, aku<br />
melenguh<br />
keras. Takut jika ada yang mendengar..Mama mendekap kepalaku di<br />
dadanya.</p>
<p>Setelah itu kukenakan blue jeansku, sambil tersenyum malu aku keluar<br />
dari<br />
gudang itu. Sewaktu menutup pintu kulihat Mama mengguyur tubuhnya dan<br />
mulai<br />
menyabuni pangkal pahanya. Sungguh sexy dan aku terangsang lagi.<br />
&#8220;Mandi<br />
berdua dengan Mama ? Wow !&#8221; pikirku. Aku masuk lagi ke dalam. Mama<br />
melihatku<br />
mengunci pintu dan tersenyum kearahku penuh arti.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/esex2.wordpress.com/97/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/esex2.wordpress.com/97/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=97&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/mama-di-taman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kuperkosa tanteku</title>
		<link>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/kuperkosa-tanteku/</link>
		<comments>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/kuperkosa-tanteku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 15:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>premium</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sex Sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[kuperkosa]]></category>
		<category><![CDATA[tanteku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://esex2.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Saya Dito&#8230;..umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo. Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=94&subd=esex2&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya Dito&#8230;..umur 23 tahun baru lulus dari salah satu universitas ternama di Malang. Dan saya berasal dari keluarga baik-baik. Kejadian ini dimulai ketika saya menginap di rumah om saya di daerah sidoarjo. Om saya telah menikah dan memiliki 2 anak lelaki yang lucu umur 3 dan 5 tahun, serta memiliki istri yang cukup cantik (menurut saya) umurnya sekitar 27 tahun.</p>
<p>saya sendiri tinggal disurabaya kurang lebih jarak tempat tinggalku dengan tante adalah 19 Km&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
Awal kejadiannya adalah pada hari sabtu malam saya mendengar pertengkaran di rumah tersebut, yang tidak lain adalah om saya dengan tante saya. Ternyata penyakit &#8216;gatel&#8217; om saya kambuh lagi yaitu sering pergi ke diskotik bersama temannya. Hal tersebut sangat menyakitkan tante saya, karena di sana om saya akan mabuk-mabukan dan terkadang pulangnya bisa pada hari Minggu malam. Entahlah apa yang dilakukan di sana bersama teman-temannya. Dan pada saat itu hanya aku bertiga saja di rumah: saya, Om Pram dan Tante Sis.</p>
<p>&#8220;Brak..&#8221; suara gelas pecah menghantam pintu, cukup membuat saya kaget, dan om saya dengan marah-marah berjalan keluar kamar. Dari dalam kamar terdengar tante saya berteriak, &#8220;Nggak usah pulang sekalian, cepet ceraikan aku.&#8221; Dalam hatiku berkata, &#8220;Wah ribut lagi.&#8221; Om Pram langsung berjalan keluar rumah, menstarter mobil Tarunanya dan pergi entah ke mana.</p>
<p>Di dalam kamar, aku mendengar Tante Sis menangis. Aku mau masuk ke dalam tapi takut kena damprat olehnya (kesalahan Om Pram dilimpahkan kepadaku). Tapi aku jadi penasaran juga. Takut nanti terjadi apa-apa terhadap Tante Sis. Maksudku akibat kecewa sama Om Pram dia langsung bunuh diri.</p>
<p>Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya. Dan kulihat dia menangis menunduk di depan meja rias. Aku berinisiatif masuk pelan-pelan sambil menghindari pecahan gelas yang tadi sempat dilemparkan oleh Tante Sis. Kuhampiri dia dan dengan pelan.<br />
Aku bertanya, &#8220;Kenapa Tan? Om kambuh lagi?&#8221;<br />
Dia tidak menjawab, hanya diam saja dan sesekali terdengar isak tangisnya. Cukup lama aku berdiri di belakangnya. Pada waktu itu aku hanya memandangnya dari belakang, dan kulihat ternyata Tante Sis mengenakan baju tidur yang cukup menggiurkan. Pada saat itu aku belum berpikiran macam-macam. Aku hanya berkesimpulan mungkin Tante Sis mengajak Om Pram, berdua saja di rumah, karena anak-anak mereka sedang pergi menginap di rumah adik Tante Sis. Dan mungkin juga Tante Sis mengajak Om bercinta (karena baju yang dikenakan cukup menggiurkan, daster tipis, dengan warna pink dan panjang sekitar 15 cm di atas lutut). Tetapi Om Pram tidak mau, dia lebih mementingkan teman-temannya dari pada Tante Sis.</p>
<p>Tiba-tiba Tante Sis berkata, &#8220;To, Om kamu kayaknya udah nggak sayang lagi sama Tante. Sekarang dia pergi bersama teman-temannya ke Surabaya, ninggalin Tante sendirian di rumah, apa Tante udah nggak cakep lagi.&#8221; Ketika Tante Sis berkata demikian dia berbalik menatapku. Aku setengah kaget, ketika mataku tidak sengaja menatap buah dadanya (kira-kira berukuran 34). Di situ terlihat puting susunya yang tercetak dari daster yang dikenakannya. Aku lumayan kaget juga menyaksikan tubuh tanteku itu.</p>
<p>Aku terdiam sebentar dan aku ingat tadi Tante Sis menanyakan sesuatu, aku langsung mendekatinya (dengan harapan dapat melihat payudaranya lebih dekat lagi).<br />
&#8220;Tante masih cantik kok, dan Om kan pergi sama temannya. Jadi nggak usah khawatir Tan!&#8221;<br />
&#8220;Iya tapi temennya itu brengsek semua, mereka pasti mabuk-mabukan lagi dan main perempuan di sana.&#8221;<br />
Aku jadi bingung menjawabnya. Secara refleks kupegang tangannya dan berkata, &#8220;Tenang aja Tan, Om nggak bakal macem-macem kok.&#8221; (tapi pikiranku sudah mulai macam-macam).<br />
&#8220;Tapi Tante denger dia punya pacar di surabaya, malahan Tante kemarin pergoki dia telponan ama cewek, kalo nggak salah namanya Sella.&#8221;<br />
&#8220;Masak Om tega sih ninggalin Tante demi cewek yang baru kenal, mungkin itu temennya kali Tan, dan lagian Tante masih tetap cantik kok.&#8221;<br />
Tanpa Tante Sis sadari tangan kananku sudah di atas paha Tante Sis karena tangan kiriku masih memegang tangannya. Perlahan-lahan pahanya kuusap secara halus, hal ini kulakukan karena aku berkesimpulan bahwa tanteku sudah lama tidak disentuh secara lembut oleh lelaki.</p>
<p>Tiba-tiba tanganku yang memegang pahanya ditepis oleh Tante Sis, dan berdiri dari duduknya, &#8220;To, saya tantemu saya harap kamu jangan kurang ajar sama Tante, sekarang Tante harap kamu keluar dari kamar tante sekarang juga!&#8221; Dengan nada marah Tante Sis mengusirku.<br />
Cukup kaget juga aku mendengar itu, dan dengan perasaan malu aku berdiri dan meminta maaf, kepada Tante Sis karena kekurangajaranku. Aku berjalan pelan untuk keluar dari kamar tanteku. Sambil berjalan aku berpikir, aku benar-benar terangsang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak aku putus dengan pacarku, terus terang kebutuhan biologisku kusalurkan lewat tanganku.</p>
<p>Setelah sampai di depan pintu aku menoleh kepada Tante Sis lagi. Dia hanya berdiri menatapku, dengan nafas tersenggal-senggal (mungkin marah bercampur sedih menjadi satu). Aku membalikkan badan lagi dan di pikiranku aku harus mendapatkannya malam ini juga. Dengan masa bodoh aku menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya, lalu langsung berbalik menatap tanteku. Tante Sis cukup kaget melihat apa yang aku perbuat. Otakku sudah dipenuhi oleh nafsu binatang.</p>
<p>&#8220;Mau apa kamu To?&#8221; tanyanya dengan gugup bercampur kaget.<br />
&#8220;Tante mungkin sekarang Om sedang bersenang-senang bersama pacar barunya, lebih baik kita juga bersenang-senang di sini, saya akan memuaskan Tante&#8221;. Dengan nafsu kutarik tubuh tanteku ke ranjang, dia meronta-ronta, tetapi karena postur tubuhku lebih besar (tinggiku 182 cm dan beratku 75 kg, sedangkan Tante Sis memiliki tinggi tubuh sekitar 165 cm dan berat kurang lebih 50 kg) aku dapat mendorongnya ke ranjang, lalu menindihnya.</p>
<p>&#8220;Lepasin Tante, Dito,&#8221; suara keluar dari mulutnya tapi aku sudah tidak peduli dengan rontaannya. Dasternya kusingkap ke atas. Ternyata Tante Sis tidak mengenakan celana dalam sehingga terpampang gundukan bukit kemaluannya yang menggiurkan, dan dengan kasar kutarik dasternya bagian atas hingga payudaranya terpampang di depanku. Dengan bernafsu aku langsung menghisap putingnya, tubuh tanteku masih meronta-ronta, dengan tidak sabar aku langsung merobek dasternya dan dengan nafsu kujilati seluruh tubuhnya terutama payudaranya, cukup harum tubuh tanteku.</p>
<p>Akibat rontaannya aku mengalami kesulitan untuk membuka pakaianku, tapi pelan-pelan aku dapat membuka baju dan celanaku. Sambil membuka baju dan celanaku itu, dengan bergantian tanganku mengusap bukit kemaluannya yang menurutku mulai basah (mungkin Tante Sis sudah mulai terangsang walaupun masih berkurang tetapi frekuensinya agak menurun sedikit).</p>
<p>kemaluanku telah berdiri tegak dan kokoh nafsu telah menyelimuti semua kesadaranku bahwa yang kugeluti ini adalah isteri pamanku sendiri&#8230;.yaitu tanteku&#8230;.</p>
<p>Dengan tidak sabar aku langsung berusaha membenamkan kejantananku ke liang TANTEKU&#8230;&#8230;&#8230;.. ,</p>
<p>Aku agak kesulitan menemukan celah kewanitaan tanteku,kadang kemaluanku meleset keatas dan bahkan kadang meleset kearah lubang anus tanteku .<br />
ini disebabkan tanteku bergerak kesana kemari berusaha menghindar dan menghalangi kemaluanku yang sudah siap tempur ini&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>&#8220;To, jangan To, aku Tantemu tolong lepasin To, ampun, Tante minta ampun&#8221;. Aku sudah tidak peduli lagi Rengekannya. &#8230;&#8230;.usahaku kepalang tanggung dan harus berhasil&#8230;&#8230;karena gagalpun mungkin akibatnya akan sama<br />
bahkan mungkin lebih fatal akibatnya&#8230;&#8230;.<br />
Ketika lubang senggamanya kurasa sudah pas dengan dibantu cairan yang keluar dari liang kewanitaannya aku langsung menghujamkan senjataku.</p>
<p>&#8220;Auuhh, sakit To, aduh.. Tante minta ampun.. tolong To jangan lakukan &#8230;..lepasin Tante To..&#8221; Ketika mendengar rintihannya, aku jadi kasihan, tetapi senjataku sudah di dalam, &#8220;Maaf Tante, saya sudah tidak tahan dan punyaku sudah terlanjur masuk nih&#8230;..,&#8221; bisikku ke telinganya. Tante Sis hanya diam saja. Dan tidak berkata apa-apa.</p>
<p>Dengan pelan dan pasti aku mulai memompa kemaluanku naik turun, &#8230;&#8230;..tanteku menggelinjang hebat&#8230;..seakan akan masih ada sedikit pemberontakan dalam dirinya&#8230;.<br />
ssshhhhhhhhh&#8230;.tanteku hanya mendesis lirih sambil menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan tak mau menatap wajahku&#8230;&#8230;.kemudian Dia hanya diam pasrah dan kulihat air matanya berlinang keluar. Kucium keningnya dan bibirnya, sambil membisikkan, &#8220;Tante, Tante masih cantik dan tetap mengairahkan kok, saya sayang Tante, bila Om sudah tidak sayang lagi, biar Dito yang menyayangi Tante.&#8221; Tante Sis hanya diam saja, dan kurasakan pinggulnya pun ikut bergoyang seirama dengan goyanganku.</p>
<p>kemaluanku kudorong perlahan &#8230;seakan ingin menikmati kenyamanan ini dengan waktu yang lama&#8230;&#8230;..<br />
cllkk&#8230;.clllkkkk.cclkkkk bunyi badanku beradu dengan badan tanteku&#8230;&#8230;.seirama keluar masuknya kemaluanku kedalam liang senggamanya yangbetul betul enak&#8230;&#8230;<br />
&#8230;<br />
Kira-kira 10 menit aku merasakan liang kewanitaan tanteku semakin basah dan kakinya menyilang di atas pinggulku dan menekan kuat-kuat mungkin tanteku sedang orgasme&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>kudiamkan sejenak &#8230;..kubiarkan tanteku menikmati orgasmenya&#8230;&#8230;&#8230;kubenamkan lebih dalam kemaluanku ,sambil memeluk erat tubuhnya iapun membalasnya erat&#8230;..kurasakan tubuh tanteku bergetar&#8230;.<br />
kenikmatan yang dahsyat telah didapatkannya&#8230;&#8230;.</p>
<p>kubalik badan tanteku dan sekarang dia dalam posisi diatas&#8230;&#8230;kemaluanku masih terbenam dalam kewanitaan tanteku&#8230;&#8230;tapi dia hanya diam saja sambil merebahkan tubuhnya diatas tubuhku,&#8230;.lalu kuangkat pinggul tanteku perlahan&#8230;..dan menurunkannya lagi&#8230;.kuangkat lagi&#8230;&#8230;dan kuturunkan lagi&#8230;&#8230;.kemaluanku yang berdiri tegak menyodok deras keatas &#8230;kelubang nikmatnya&#8230;&#8230;<br />
ahirnya tanpa kubantu &#8230;.tanteku menggoyangkan sendiri pantatnya naik turun&#8230;..</p>
<p>oooooooccchhhhhhhh&#8230;&#8230;.aku yang blingsatan kenikmatan&#8230;<br />
rupanya tanteku mahir dengan goyangannya diposisi atas&#8230;.<br />
kenikmatan maximum kudapatkan dalam posisi ini&#8230;.<br />
rupanya tanteku mengetahui keadaan ini &#8230;ia tambah menggoyang goyangkan pantatnya meliuk liuk persis pantat Anisa bahar penyanyi dangdut dengan goyang patah patahnya&#8230;&#8230;.<br />
oooooochhhhhh,&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;sshhh&#8230;&#8230;kali ini aku yang mirip orang kepedasan<br />
aku mengangkat kepalaku&#8230;kuhisap puting susu tanteku&#8230;..<br />
ia mengerang&#8230;&#8230;..goyangannya tambah dipercepat&#8230;.<br />
dan 5 menit berjalan &#8230;&#8230;.tanteku bergetar lagi&#8230;&#8230;ia telah mendapatkan orgasmenya yang kedua&#8230;&#8230;<br />
pundakku dicengkeramnya erat&#8230;&#8230;<br />
ssshhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;bibir bawahnya digigit&#8230;sambil kepalanya menengadah keatas&#8230;..<br />
&#8220;to&#8230;.bangsat kamu&#8230;&#8230;.tante kok bisa jadi gini&#8230;..ssssshhhh<br />
&#8230;.tante udah 2 kali kluarrrrrrrr&#8230;&#8221;&#8230;..</p>
<p>aku hanya tersenyum&#8230;..<br />
&#8220;tulangku rasa lepas semua to&#8230;.&#8221;<br />
aku kembali tersenyum&#8230;<br />
&#8220;tante gak pernah klimaks lebih dari 1 x kalo dengan ommu..&#8221;<br />
kubalik kembali badan tanteku dengan posisi konvensional..<br />
kugenjot dengan deras kewanitaannya&#8230;..<br />
oooohhh oohhh&#8230;.ssshhhhh<br />
tanteku kembali menggeliat pinggulnya mulai bergoyang pula mengimbangi genjotanku&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
aku pun sudah kepengen nyampe&#8230;&#8230;.</p>
<p>dan tidak lama kemudian akupun mengeluarkan spermaku di dalam liang senggamanya.<br />
ssshhhhhh&#8230;&#8230;aaachhhhhhh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
spermaku tumpah dengan derasnya kedalam liang senggama tanteku&#8230;&#8230;..<br />
mata tanteku sayu menatapku klimaks&#8230;&#8230;&#8230;<br />
permainan panjang yang sangat melelahkan&#8230;&#8230;yang diawali dengan pemaksaan dan perkosaaan yang ahirnya berkesudahan dengan kenikmatan puncak yang sama sama diraih&#8230;&#8230;.<br />
kulihat terpancar kepuasaan yang amat sangat diwajah tanteku&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>&#8220;kamu harus menjaga rahasia ini to&#8230;..&#8221;<br />
aku hanya mengangguk&#8230;.<br />
dan sekarang tanteku tak perduli lagi kalau om ku mau pulang atau tidak&#8230;&#8230;.<br />
karena kalau om ku keluar malam maka tanteku akan menghubungiku via HP untuk segera kerumahnya&#8230;&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/esex2.wordpress.com/94/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/esex2.wordpress.com/94/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/esex2.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/esex2.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/esex2.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/esex2.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/esex2.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/esex2.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/esex2.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/esex2.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/esex2.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/esex2.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=esex2.wordpress.com&blog=4055670&post=94&subd=esex2&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://esex2.wordpress.com/2008/07/21/kuperkosa-tanteku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">premium</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>